POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Denyut Sastra Di Ranah Minang

RedaksiOleh Redaksi
October 30, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Penulis
Era Nurza

Padang, 28 Oktober 2025.
Lantai Dasar Zona B Gedung Kebudayaan Sumatera Barat sore itu bergemuruh oleh kata dan makna. Dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda ke-97, sebuah acara bertajuk “Geliat Pemuda Membaca Indonesia” digelar penuh semangat dan jiwa kebangsaan. Pentas puisi ini menjadi saksi bahwa denyut sastra di Ranah Minang belum padam ia masih bernafas, bergerak, dan berjuang menegakkan marwah kata di tengah derasnya arus zaman.

Acara ini diprakarsai oleh dua sosok yang tak asing lagi di dunia seni dan literasi Sumatera Barat: Jefenil, S.H. dan Ilhamdi Sulaiman, yang dikenal luas dengan nama Boyke Sulaiman. Keduanya hadir sebagai penggerak yang menolak diam di tengah pandangan bahwa sastra telah kehilangan gaungnya. Melalui pentas ini, mereka menyalakan kembali obor semangat para penulis, pembaca, dan penikmat puisi di Sumbar untuk kembali percaya bahwa sastra masih hidup, dan terus berjuang melawan waktu.

Acara dibuka dengan penuh khidmat melalui sambutan dari Ketua Pelaksana, Jefenil, S.H. Dalam pidatonya, ia menyampaikan pesan yang menggugah kesadaran banyak pihak. Dengan suara yang lantang, namun bergetar oleh rasa cinta pada dunia sastra, Jefenil berkata bahwa masih ada stigma yang beredar bahwa puisi dan sastra di Sumatera Barat dianggap tidak bergerak, tidak mendapat dukungan dari pemerintah, bahkan dari senimannya sendiri.


“Kita berkumpul di sini bukan hanya untuk membaca puisi,” ujar Jefenil penuh semangat. “Kita hadir untuk membuktikan bahwa kata masih bergetar, puisi masih bernyawa, dan sastra Sumatera Barat tidak pernah mati. Ia hanya menunggu disentuh kembali oleh hati yang percaya.”

Suasana ruang pun berubah. Tepuk tangan para hadirin menggema, membangunkan semangat yang lama terpendam. Satu per satu, pembaca puisi mulai mengambil tempat di panggung sederhana namun sarat makna itu. Sebanyak 28 pembaca puisi dari berbagai latar belakang tampil memaknai tema besar acara: Geliat Pemuda Membaca Indonesia. Mereka terdiri dari seniman, budayawan, dosen, wartawan, akademisi, guru, mahasiswa, hingga siswa, yang semuanya berbaur dalam satu semangat: cinta pada Indonesia dan kata.

Setiap bait yang dibacakan adalah potongan jiwa. Ada yang bergetar lirih membawa tema perjuangan, ada yang bergemuruh membakar nasionalisme, ada pula yang lembut menyentuh sisi kemanusiaan. Dari mikrofon sederhana di Gedung Kebudayaan itu, gema puisi menjelma menjadi suara bangsa suara yang mengingatkan bahwa pemuda bukan hanya pewaris sejarah, melainkan penulis babak baru kebangsaan.

📚 Artikel Terkait

Untaian Sajak Riessa

Cerita Dari Pulau

Perang Atas Nama Narkoba

TALKING TO STRANGERS

Puncak acara terasa semakin hidup saat Dr. Endut Akhadiat, M.Hum. naik ke podium membawakan orasi Sumpah Pemuda. Dalam orasinya, ia menegaskan bahwa Sumpah Pemuda tidak hanya layak dikenang, tetapi juga harus dihidupi. Ia mengajak generasi muda untuk tidak hanya membaca Indonesia melalui buku dan berita, tetapi juga melalui nurani dengan memahami luka, harapan, dan perjuangan bangsanya sendiri.
“Membaca Indonesia berarti mencintai rakyatnya, menjaga bahasanya, dan menulis masa depannya,” seru Dr. Endut, disambut tepuk tangan meriah.

Rangkaian acara dimeriahkan dengan musikalisasi puisi oleh kelompok musik Iko Bana, yang menambah suasana menjadi semakin syahdu dan heroik. Petikan gitar, denting biola, dan lantunan vokal berpadu dengan kata-kata yang menggugah, menghidupkan kembali semangat sumpah pemuda dalam bentuk yang lebih modern dan menyentuh.

Acara ini bukan sekadar panggung. Ia adalah manifestasi perlawanan terhadap diam, bukti bahwa sastra masih memiliki tempat di tengah masyarakat digital, bahwa kata tidak pernah usang, hanya menunggu ruang untuk kembali bersuara.

Di akhir acara, suasana hangat melingkupi ruangan. Para pembaca puisi saling berpelukan, menyalami, dan berbagi cerita. Di mata mereka, ada cahaya kecil yang sama cahaya keyakinan bahwa puisi tetap punya arti, dan pemuda masih punya api untuk menyalakan bangsa ini.

Pentas puisi Geliat Pemuda Membaca Indonesia bukan hanya perayaan seni kata, tetapi juga gerakan moral dan budaya. Di tengah dunia yang semakin cepat dan dingin, puisi menjadi jeda: ruang untuk berpikir, merasakan, dan mencintai tanah air dengan cara yang paling manusiawi.

Seperti semangat Sumpah Pemuda 97 tahun lalu, acara ini mengingatkan kita bahwa persatuan dan semangat juang tidak hanya bisa dinyanyikan dalam lagu kebangsaan, tetapi juga dapat diucapkan dalam bahasa yang paling indah bahasa puisi.

Malam itu, di lantai dasar Gedung Kebudayaan Sumbar, Indonesia kembali dibaca dengan kata, dengan jiwa, dengan cinta yang tak lekang oleh waktu.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Sisakan Ragu

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00