• Latest

Ketika Sastra Terasa Menakutkan bagi Generasi Muda

Oktober 29, 2025
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
ae400032-4021-4ade-8568-70d981b74d63

Ancu Dani, Juru Kunci TPS

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ketika Sastra Terasa Menakutkan bagi Generasi Muda

Ririe Aiko by Ririe Aiko
Oktober 29, 2025
in Apresiasi Sastra, Kritik Sastra, Puisi Essay, Sastra
Reading Time: 3 mins read
0
587
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Tanggapan atas tulisan Mila Muzakkar “Beginikah Wajah Lain Sastrawan Indonesia?”

Oleh Ririe Aiko

Membaca tulisan Mila Muzakkar yang berjudul Beginikah Wajah Lain Sastrawan Indonesia? membuat saya terdiam cukup lama. Ada rasa heran, sekaligus getir, melihat bagaimana ruang sastra yang seharusnya menjadi tempat paling teduh bagi dialog dan empati justru diwarnai oleh arogansi.

Saya memang tidak hadir langsung di konferensi pers BRICS Literary Award di Taman Ismail Marzuki itu. Namun, membaca catatan Mila membuat saya seperti ikut menyaksikan sendiri bagaimana sekelompok orang yang mengaku mewakili “sastrawan Indonesia” meneriakkan penolakan, bahkan merebut mikrofon, hanya karena tidak sepakat dengan satu nama kandidat — Denny JA.

Baca Juga

a0874485-5883-4836-9faa-17bcddc8a681

Kepiting Dalam Baskom

Maret 29, 2026
WhatsApp Image 2026-03-27 at 8.47.12 AM

Puisi-Puisi Nusantara Novita Sari Yahya

Maret 27, 2026
Filosofi Cinta ala Sapardi Yang Tak Pernah Usai

Filosofi Cinta ala Sapardi Yang Tak Pernah Usai

Maret 25, 2026

Sebagai seseorang yang sudah lama menulis, tapi baru beberapa tahun terakhir mengenal dunia sastra secara lebih serius, saya merasa perlu menyampaikan pandangan. Dunia literasi bagi saya adalah rumah belajar yang luas. Saya menulis sejak SMP, diawali dengan fiksi, lalu berkembang ke esai dan tulisan-tulisan reflektif. Namun, baru di pertengahan 2024 saya benar-benar jatuh cinta pada puisi esai — sebuah genre yang memadukan keindahan bahasa, refleksi sosial, dan kedalaman analisis.

Melalui bimbingan para senior yang sabar, saya belajar memahami bahwa puisi bukan hanya tentang kata-kata indah, tapi tentang menghadirkan kesadaran manusiawi. Hingga pada awal 2025, saya berkesempatan menjadi salah satu pemenang lomba puisi esai tingkat ASEAN. Dari situ saya paham, puisi esai bukan sekadar karya estetis, tapi media yang membangkitkan nurani sosial.

Sosok Denny JA sebagai penggagas puisi esai bukan hanya dikenal karena kiprah intelektualnya dalam memperkaya khazanah sastra Indonesia, tetapi juga karena perannya membuka ruang bagi generasi muda untuk tumbuh. Melalui karya dan ekosistem yang ia bangun, Denny JA memberi tempat bagi penulis pemula untuk belajar, berekspresi, dan menumbuhkan kecintaan pada sastra tanpa sekat maupun diskriminasi.

Saya pribadi, sebagai anak bawang di dunia sastra, dibimbing dengan sangat baik oleh beliau saat menyusun buku puisi esai Sajak dalam Koin Kehidupan. Beliau memberikan kritik yang membangun—tidak mencemooh atau mematikan semangat penulis muda dalam berkarya. Sebaliknya, ia justru menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuhnya penulis-penulis baru.

Itu sebabnya, ketika mendengar kabar ada sastrawan senior yang menolak namanya sebagai kandidat penghargaan internasional dengan cara yang tidak elok, saya tidak hanya kecewa, tapi juga miris. Bukankah sastra seharusnya menjadi ruang perenungan dan empati, bukan ajang untuk saling menjatuhkan?

Mila benar ketika menulis bahwa dunia sastra sering dianggap sebagai tempat lahirnya orang-orang berhati lembut, berwawasan luas, dan berjiwa empatik. Tapi, apa jadinya jika wajah sastra justru tampil penuh caci? Bagaimana generasi muda bisa tertarik mencintai sastra bila yang mereka lihat hanyalah debat tak berujung dan sikap merasa paling benar?

Sejujurnya, saya pribadi pernah mengalami hal serupa — menjadi sasaran komentar tajam dari seorang sastrawan senior. Kritik bukanlah masalah. Tapi ketika kritik berubah menjadi penghinaan, di situ saya melihat wajah lain dunia sastra yang menyedihkan. Padahal, bukankah yang disebut “senior” seharusnya menjadi guru yang mengayomi, bukan penghakim yang menakutkan?

Sastra, bagi saya, bukanlah arena untuk menguji siapa yang paling pintar atau paling layak disebut “sastrawan sejati.” Sastra adalah ruang berbagi rasa, ruang tumbuh bersama. Ketika kita menulis, kita sedang memahat empati. Ketika kita membaca, kita sedang menumbuhkan kesadaran.

Maka, melihat peristiwa di TIM itu, saya ingin mengulang pertanyaan Mila dengan sedikit penyesuaian: Beginikah wajah sastra yang ingin kita wariskan pada generasi setelah kita?

Jika jawabannya tidak, maka sudah saatnya dunia sastra berbenah. Mulailah dengan cara yang sederhana: saling menghormati. Tidak perlu sepakat terhadap semua hal, karena perbedaan itu hal yang wajar dan harus dihargai. Tapi mari belajar menyampaikan perbedaan dengan kepala dingin dan hati yang terbuka.

Generasi muda hari ini mencari nilai, bukan sekadar nama besar. Mereka lebih tertarik pada karya yang berdampak, bukan pada perdebatan yang membingungkan. Kalau sastra terus menjadi ruang yang penuh intrik dan caci maki, jangan salahkan mereka bila lebih memilih berdialog dengan AI daripada membaca karya sastra kita.

Sastra seharusnya menjadi cermin kemanusiaan, bukan panggung ego. Biarkan ia dikenalkan dengan indah pada generasi selanjutnya, sebagai warisan yang menumbuhkan empati dan menginspirasi kebaikan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 337x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 298x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 248x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 238x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 192x dibaca (7 hari)
ADVERTISEMENT
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare235Tweet147
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Baca Juga

0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5
Puisi

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff
# Kebijakan Trump

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542
Artikel

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518
Artikel

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
Next Post

Penghargaan PIN  Sikap Siswa SDIT An Nur, Pidie Jaya

HABA Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Mei

Mei 10, 2025
Majalah POTRET pun Penting dan Perlu Untuk Melihat Wajah Batin dan Spiritualitas Diri Kita

Pemenang Lomba Menulis Februari 2025

Maret 2, 2025

Popular

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    886 shares
    Share 354 Tweet 222
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    872 shares
    Share 349 Tweet 218
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    840 shares
    Share 336 Tweet 210
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    680 shares
    Share 272 Tweet 170
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    671 shares
    Share 268 Tweet 168
POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com