POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ketika Sastra Terasa Menakutkan bagi Generasi Muda

Ririe AikoOleh Ririe Aiko
October 29, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Tanggapan atas tulisan Mila Muzakkar “Beginikah Wajah Lain Sastrawan Indonesia?”

Oleh Ririe Aiko

Membaca tulisan Mila Muzakkar yang berjudul Beginikah Wajah Lain Sastrawan Indonesia? membuat saya terdiam cukup lama. Ada rasa heran, sekaligus getir, melihat bagaimana ruang sastra yang seharusnya menjadi tempat paling teduh bagi dialog dan empati justru diwarnai oleh arogansi.

Saya memang tidak hadir langsung di konferensi pers BRICS Literary Award di Taman Ismail Marzuki itu. Namun, membaca catatan Mila membuat saya seperti ikut menyaksikan sendiri bagaimana sekelompok orang yang mengaku mewakili “sastrawan Indonesia” meneriakkan penolakan, bahkan merebut mikrofon, hanya karena tidak sepakat dengan satu nama kandidat — Denny JA.

Sebagai seseorang yang sudah lama menulis, tapi baru beberapa tahun terakhir mengenal dunia sastra secara lebih serius, saya merasa perlu menyampaikan pandangan. Dunia literasi bagi saya adalah rumah belajar yang luas. Saya menulis sejak SMP, diawali dengan fiksi, lalu berkembang ke esai dan tulisan-tulisan reflektif. Namun, baru di pertengahan 2024 saya benar-benar jatuh cinta pada puisi esai — sebuah genre yang memadukan keindahan bahasa, refleksi sosial, dan kedalaman analisis.

Melalui bimbingan para senior yang sabar, saya belajar memahami bahwa puisi bukan hanya tentang kata-kata indah, tapi tentang menghadirkan kesadaran manusiawi. Hingga pada awal 2025, saya berkesempatan menjadi salah satu pemenang lomba puisi esai tingkat ASEAN. Dari situ saya paham, puisi esai bukan sekadar karya estetis, tapi media yang membangkitkan nurani sosial.

Sosok Denny JA sebagai penggagas puisi esai bukan hanya dikenal karena kiprah intelektualnya dalam memperkaya khazanah sastra Indonesia, tetapi juga karena perannya membuka ruang bagi generasi muda untuk tumbuh. Melalui karya dan ekosistem yang ia bangun, Denny JA memberi tempat bagi penulis pemula untuk belajar, berekspresi, dan menumbuhkan kecintaan pada sastra tanpa sekat maupun diskriminasi.

📚 Artikel Terkait

SESUDAH LEBARAN?

Budaya Sensor Mandiri Tingkatkan Kualitas Perfilman Indonesia

Cepu Sebagai Lokus Pendidikan dan Kebudayaan

Arsip G30S: Ingatan yang Tak Boleh Hilang

Saya pribadi, sebagai anak bawang di dunia sastra, dibimbing dengan sangat baik oleh beliau saat menyusun buku puisi esai Sajak dalam Koin Kehidupan. Beliau memberikan kritik yang membangun—tidak mencemooh atau mematikan semangat penulis muda dalam berkarya. Sebaliknya, ia justru menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuhnya penulis-penulis baru.

Itu sebabnya, ketika mendengar kabar ada sastrawan senior yang menolak namanya sebagai kandidat penghargaan internasional dengan cara yang tidak elok, saya tidak hanya kecewa, tapi juga miris. Bukankah sastra seharusnya menjadi ruang perenungan dan empati, bukan ajang untuk saling menjatuhkan?

Mila benar ketika menulis bahwa dunia sastra sering dianggap sebagai tempat lahirnya orang-orang berhati lembut, berwawasan luas, dan berjiwa empatik. Tapi, apa jadinya jika wajah sastra justru tampil penuh caci? Bagaimana generasi muda bisa tertarik mencintai sastra bila yang mereka lihat hanyalah debat tak berujung dan sikap merasa paling benar?

Sejujurnya, saya pribadi pernah mengalami hal serupa — menjadi sasaran komentar tajam dari seorang sastrawan senior. Kritik bukanlah masalah. Tapi ketika kritik berubah menjadi penghinaan, di situ saya melihat wajah lain dunia sastra yang menyedihkan. Padahal, bukankah yang disebut “senior” seharusnya menjadi guru yang mengayomi, bukan penghakim yang menakutkan?

Sastra, bagi saya, bukanlah arena untuk menguji siapa yang paling pintar atau paling layak disebut “sastrawan sejati.” Sastra adalah ruang berbagi rasa, ruang tumbuh bersama. Ketika kita menulis, kita sedang memahat empati. Ketika kita membaca, kita sedang menumbuhkan kesadaran.

Maka, melihat peristiwa di TIM itu, saya ingin mengulang pertanyaan Mila dengan sedikit penyesuaian: Beginikah wajah sastra yang ingin kita wariskan pada generasi setelah kita?

Jika jawabannya tidak, maka sudah saatnya dunia sastra berbenah. Mulailah dengan cara yang sederhana: saling menghormati. Tidak perlu sepakat terhadap semua hal, karena perbedaan itu hal yang wajar dan harus dihargai. Tapi mari belajar menyampaikan perbedaan dengan kepala dingin dan hati yang terbuka.

Generasi muda hari ini mencari nilai, bukan sekadar nama besar. Mereka lebih tertarik pada karya yang berdampak, bukan pada perdebatan yang membingungkan. Kalau sastra terus menjadi ruang yang penuh intrik dan caci maki, jangan salahkan mereka bila lebih memilih berdialog dengan AI daripada membaca karya sastra kita.

Sastra seharusnya menjadi cermin kemanusiaan, bukan panggung ego. Biarkan ia dikenalkan dengan indah pada generasi selanjutnya, sebagai warisan yang menumbuhkan empati dan menginspirasi kebaikan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Ririe Aiko

Ririe Aiko

Ririe Aiko adalah seorang penulis dan pegiat literasi asal Bandung yang dikenal karena konsistensinya dalam menyuarakan isu-isu kemanusiaan melalui karya sastra, khususnya puisi esai. Sejak remaja, ia telah menjadikan dunia menulis sebagai rumahnya. Ia mulai dikenal pada 2006 lewat karya pertamanya Senorita yang memenangkan Lomba Penulisan Naskah TV di Tabloid Gaul dan kemudian diadaptasi menjadi FTV oleh salah satu stasiun televisi nasional. Perjalanan kepenulisan Ririe berakar dari genre horor dan roman, dua dunia yang memberinya ruang untuk menggali sisi gelap dan getir kehidupan. Cerpen-cerpen horornya bahkan sering menjadi trending dan memenangkan penghargaan di berbagai platform, termasuk Arum Kencana yang menjuarai lomba cerpen Elex Novel. Namun di tengah jejak panjang fiksi populernya, Ririe justru menemukan makna baru dalam genre puisi esai—sebuah ruang tempat ia bisa bersuara lebih lantang tentang luka sosial, ketidakadilan, dan harapan yang tertindas. Pada 2024, Ririe menerbitkan buku antologi pertamanya yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama berjudul KKN, sebuah karya kolaboratif yang mempertemukannya dengan pembaca lebih luas. Setahun kemudian, ia menerbitkan buku puisi esai mini bertajuk Sajak dalam Koin Kehidupan (2025), sebagai tonggak awal perjalanannya menapaki genre puisi esai secara lebih mendalam. Tak berhenti di sana, ia menantang dirinya untuk menulis puisi esai setiap hari selama 30 hari di bulan Ramadhan—yang kini tengah dirangkai menjadi buku puisi esai mini bertajuk Airmata Ibu Pertiwi. Ririe juga merupakan Founder Gerakan Literasi Bandung, sebuah inisiatif yang bertujuan menumbuhkan kembali kecintaan anak-anak terhadap buku di era digital. Melalui program berbagi buku, kelas kreatif, dan kegiatan literasi berbasis komunitas, ia membangun jembatan antara dunia literasi dan tantangan teknologi masa kini. Selain menulis, Ririe aktif sebagai kreator video berbasis Artificial Intelligence, menjelajah cara-cara baru dalam menyampaikan pesan melalui medium visual. Baginya, menulis bukan sekadar merangkai kata, melainkan menyalakan cahaya kecil di tengah gelapnya kenyataan—cara untuk berdamai, berjuang, dan tetap bertahan di dunia yang sering kali bisu terhadap suara-suara kecil.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Penghargaan PIN  Sikap Siswa SDIT An Nur, Pidie Jaya

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00