Dengarkan Artikel
Oleh Afrianus Juang
Manggarai, Nusa Tenggara Timur
Menikmati secangkir kopi di senja hari adalah kebiasaanku yang paling sering diejek orang, bahkan keluargaku. Kadang mereka berujar, “kurang kerjaan” atau bahkan dengan berani mengatakan aku seorang pemalas. Aku tak bisa membela diri, karena mereka langsung pergi setelah berujar demikian.
Saat minum kopi, aku sebenarnya tak sekadar melalui dan menikmati setiap tegukan. Aku memikirkan banyak hal yang kemudian kutulis di saat senja yang perlahan menjadi malam yang kelam, menjadi serpihan kisah yang kemudian kukumpulkan menjadi kisah yang utuh di keesokan hari harinya.
Saat secangkir kopi hangatku hampir habis, setelah beberapa kali tegukkan, aku dihampiri seorang perempuan mudah yang cantik dan bersahaja itu. Jaraknya masih agak jauh dariku, tetapi aku merasakan sesuatu yang lain dalam diriku. Jantung berdetak lebih kencang daripada biasanya. Kakiku seakan lemas. Untungnya aku sedang tidak berdiri. Aku melepas cangkir kopiku dari bibir dan memperhatikannya dengan teliti. Seakan perhatianku tersedot seluruhnya oleh paras dan penampilannya yang bagi saya amat menawan itu.
Ia mengenakan pakaian yang cukup simpel untuk ukuran perempuan seusianya. Justru pakaiannya yang sederhana itu menarik perhatianku, walau sederhana tetapi sangat cocok dengan tubuhnya Itu. Rambut lurusnya ia biarkan terurai begitu saja, seakan mau menegaskan kebebasannya sebagai pemilik rambut yang indah itu. Kulit putihnya menjadi semakin kontras dengan baju pinknya, apalagi saat mentari senja menyinari kulitnya itu. Ada pantulan kekuningan yang aku lihat terpantul dari kulit tubuhnya itu.
Pandangan matanya sayup dan menenangkan, tetapi ada ketegasan di sudut matanya yang sayup itu. Aku tak berani menatapnya, entah takut, cemas atau tak ingin masuk dalam perkara hati, yang kadang membuatku cepat kalah dan mengalah.
Perempuan sepertinya jarang kutemui dalam hidup ini, atau di dunia sebesar ini pun perempuan macam ini amat langka, “bisikku dalam hati “penampilan sederhana, tatapan yang tegas, namun lembut dan aku yakin ia pasti lain dari yang lain. Berbeda dari yang kebanyakan orang. Itulah perempuan yang kutemui pagi ini. Perempuan tanpa nama yang datang padaku tanpa kuundang dan menyapaku dengan begitu tulus.
Dia mungkin orang ke sekian yang menyapaku hari ini, tetapi satu-satunya sapaan yang menyejukkan adalah sapaan darinya seorang.
Tubuhnya kelihatan lemah lesu, tetapi ia datang dengan langkah yang tegas dan meyakinkan itu, kini datang perlahan-lahan mengikis jarak antara aku dan dia itu.
Dia menyalamiku dengan tegas, tetapi lembut dan belum sempat aku menjawab, ia telah membombardirku dengan pertanyaan-pertanyaan yang tak akan pernah aku jawab, hingga saat ini. Pertanyaan yang masih menghantuiku hingga detik ini, pertanyaan yang mendorongku menulis kisah ini, kisah percakapan dengan Perempuan tanpa nama itu.
📚 Artikel Terkait
Barangkali ia ingin aku memberi jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan itu. Aku berpikir setelah ia melangkah pergi senja itu, meninggalkanku dengan sejuta tanya dan penasaran dalam hati ini, tentang namanya, tempat tinggalnya dan tentang pertanyaan-pertanyaanya itu.
Dia mungkin datang dan berharap mendapat beribu genggam jawaban yang ingin dibawanya pulang, entah ke mana ia pulang. Namun, bagiku ia terlalu bersemangat tentang hal itu, karena hingga sekarang aku belum menjawab satu pun dari sekian banyak pertanyaannya itu.
Mengapa engkau menganggapku kaumku lemah, tuan? Katanya dengan tegas.
Dia bertanya padaku, dengan nada yang lemah dan lembut, tetapi tajam, seolah menuntut jawaban dariku.
Aku terperangah, karena dialah orang pertama yang memanggilku tuan. Aku sama sekali tidak tahu apakah itu sindiran atau aku memang layak dipanggil tuan? Aku belum sempat berkata, dia kemudian melanjutkan kata-katanya itu dengan penuh emosi.
Engkau kadang menganggapku manusia yang hanya tahu menanak nasi di dapur yang akan engkau lahap dengan rakusnya dan melakukan pekerjaan-pekerjaan remeh. Kaummu kadang meremehkanku sebagai manusia kelas dua, dan dengan angkuhnya engkau menganggap dirimu dan kaummu sebagai yang Pertama.
Aku tercengang dengan pertanyaannya yang serupa pernyataan ini. Aku sama sekali tak dapat berkata apa-apa, sebab ia selalu lebih dahulu melanjutkan kalimatnya itu sebelum aku sempat berucap satu kata pun.
Aku benar-benar kebingungan, mengapa ia menanyakan hal demikian padaku. Apa yang membuat aku menjadi sasaran dari pertanyaan-pertanyaan itu.
Belum sempat aku memikirkan kemungkinan jawaban dari pertanyaan yang serupa pernyataan itu, dia kembali bertanya dengan nada halus, tetapi amat tugas itu.
Apakah karena aku tak sekuat laki-laki?.
Aku semakin bingung dan kewalahan menghadapinya. Ia kelihatan sangat emosional setiap mengeluarkan setiap kata dari mulutnya itu. Tatapan tajamnya itu kembali menusuk diriku, hingga aku kesulitan untuk bernafas, apalagi memberikan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaannya itu.
Atau karena laki-laki lebih kuat dari aku?
Aku disudutkannya dengan pertanyaan-pertanyaan mematikan itu. Aku masih tak membuka mulut, apalagi mencoba memberi jawaban. Aku hanya diam, bukan karena aku bisu atau tuli. Aku hanya coba menerka Mengapa ia mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan itu padaku.
Aku tak ingin menjawab salah. Aku menyimpan pertanyaan-pertanyaan itu dalam benakku, hingga saat aku menulis kisah ini.
Bagai orang bodoh, kepalaku pening memikirkan pertanyaan-pertanyaan itu. Semakin keras aku berpikir semakin jauh jawaban itu dariku. Rasanya hampir gila memikirkan jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang menohok itu. Belum sempat aku tenang ia lagi-lagi menerorku dengan pertanyaan- pertanyaan selanjutnya.
Selanjutnya, aku hanya mendengar pertanyaan-pertanyaannya itu, sesekali ia memberi jeda, tetapi ia tak membiarkan aku berkata sepatah kata pun bahkan hanya untuk membalas sapaannya yang hangat di awal pertemuan tadi.
Ia seakan telah menyiapkan pertanyaan-pertanyaan itu dengan sebaik-baiknya, hingga aku tak dapat berkata apa-apa lagi.
Percakapan satu arah senja itu, berlalu begitu saja, namun amat berkesan bagiku. Pertanyaan-pertanyaan itu masih menghantuiku, sementara wajahnya menghiasi mimpi-mimpiku yang kadang datang di tengah malam yang dekat. Mimpi yang mengganggu tidur, tetapi aku bersyukur karena, aku masih bisa melihat wajahnya lewat mimpi-mimpi itu.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






