Dengarkan Artikel
Oleh Anto Narasoma
DALAM resensi sastra, tiap ide, akan selalu berkaitan dengan parasaan (feel). Namun tidak banyak penyair yang memanfaatkan nalurinya selain nilai rasa.
Mencermati puisi yang ditulis D Mirza Rachmansyah bertajuk Jawab/Tanya, ia lebih banyak berbicara dengan nalurinya sendiri.
Karena dari kata-kata yang diekspresikan dalam kalimat Mirza lebih banyak penyetaraan antara kata, kesamaan, arti dan nilai kehidupan.
Alangkah baiknya paparan puisi Tanya/Jawab ini dapat kita urai secara estetik….
Nir sebelum wujud
Impian setela nyata
Rentak tanpa gerak
Mendengik tanpa udara
Abu tanpa bara
Hening
Ekspresi tanya dalam benak
Rajuk merayap senyap
Lupakah tabiat?
Isian untuk tanya terbentang
Nyata dalam angan
Anggapan selalu kenyataan?
Gelisahmu
Hangatkan telapak kaki
Abun adalah angan
Nampak adalah nyata
Isilah jawab pada tanya
Ekspresi pada perangai
D Mirza Rachmansyah
7 Februari 2021
Meskipun puisi ini nampak masih berkelindan dari ruang-ruang yang belum begitu luas, namun ekspresi jiwa dan ketajaman nalurinya mampu memanfaatkan kata (diksi) menjadi cermin (baca : merasakan nilai penjabaran).
Dari kalimat awal, Mirza menuturkan pertanyaan dan jawaban nalurinya
…. Nir sebelum wujud/ Impian setelah nyata….
📚 Artikel Terkait
Disusul dengan…Rentak tanpa gerak/ Mendengik tanpa udara/ Abu tanpa bara…
Jika kita cermati dari satu kata ke kata lainnya, penyair berusaha menjelaskan tentang kekayaan jiwanya saat menafsirkan kata dan artinya, atau kata dalam maksud kiasan (konotasi).
Puisi semacam ini pernah ditulis penyair Rusia, Vladimir Mayakowski dalam puisinya berjudul “Djangan Djamah Tiongkok”.
Dalam kalimat awal Vladimir menulis, ..Djangan djamah Tiongkok!/ Perang/ putri imperialisma, mengendap-endap djalannya, hantu jang mengharungi dunia/ Sorakkan, hai buruh : Djangan djamah Tiongkok !
Vladimir menggunakan potongan-potongan kata. Dalam diksi yang vulgar secara politis, bagaimana penyair dunia ini menafsirkan sikap sok jago agar Amerika tidak mengobok-obok China.
Potongan kata seperti ini yang digunakan Mirza untuk menjabarkan teknik kisahannya tentang dunia pertanyaan dan jawaban.
Mirza mengajari dirinya sendiri tentang kata dan arti atau kata dengan kaitan bahasa kias. Misalnya pada alinea keempat…Isian untuk tanya terbendung/ Nyata dalam angan/ Anggapan selalu kenyataan?….
Dengan potongan kata itu, Mirza menceritakan nilai kepribadian (manusia) dirinya. Sebab dengan memahami nilai kepribadian yang disebutnya “perangai” pada nilai terakhir puisinya, nalar atau nalurinya semakin tajam. Terutama untuk dijadikan alat dirinya sebagai penyair.
Seperti diungkap Vladimir, Amerika dan sekutunya selalu “arogan” untuk mengobok-obok negara orang secara politis. Maka dengan ketajaman nalurinya sebagai penyair, Vladimir “menyerang” Amerika dengan ketajaman naluri kepenyairannya melalui puisi “Djangan Djamah Tiongkok!”.
Meski dengan segala keterbatasannya, Mirza juga berusaha tampil menggunakan potongan diksi untuk menceritakan kedalaman naluri dan nilai kemanuisaan yang sulit dijamah.
Seperti dijelaskan Dr H Syarwani Ahmad MM dalam bukunya Perilaku Insani dalam Organisasi Pendidikan, perilaku manusia tidak terlepas dari nalurinya untuk menjelaskan sesuatu….(Komunikasi Antarpribadi : Pustaka Pelicha…Februari 2013).
Sebenarnya, sebagai penyair Mirza mencoba keras untuk berdialog dengan dirinya sendiri. Sebab kata, makna dan bahasa kias (konotasi), ia coba untuk diurai secara mendalam.
Memang sebagai penulis (penyair) Mirza menyadari diri untuk terus mengenal kata dan makna, tak hanya untuk melakukan komunikasi antarsesama, namun kata dalam bahasa kias, dijadikan kekayaan pribadi untuk menelaah nilai kata, kehidupan, dan tata cara untuk menerjemahkannya ke dalam karya (puisi).
Seperti dikatakan penyair senior Aceh, LK Ara, menulis puisi itu tidak sekadar mengungkap ide dan isi, namun potongan kata merupakan kekuatan imajinasi bagi kualitas karya (Langit Senja Negeri Timah : Yayasan Nusantara Juli 2004).
Maka dalam puisinya ini, Mirza telah memberi gambaran jiwa dirinya sendiri bahwa penyair mencoba menjelaskan tentang kata, arti, dan makna bahasa kias di balik potongan kata puisinya.
Meski bentuk puisi cukup baik, namun sebagai manusia (penyair), Mirza memiliki kelemahan. Karena nilai akhir yang ia tulis nilainya “menggantung”. Artinya ia tidak menjelaskan nilai makna yang terselubung di balik kalimat puisinya.
Bahkan, daya ucap kata yang memanfaatkan udara adalah desahan. Sebab pada alinea kedua di baris kedua, Mirza menggunakan kata mendengik. Dengikan yang keluar di antara kerongkongan dan awal kedalaman mulut (bonggol awal lidah) mengeluarkan warna suara “ngik”.
Ini tidak memanfaatkan udara. Karena itu lebih baik Mirza menggunakan kata “mendesah” yang keluar dari mulut hanya desahan udara. Artinya kata mendengik diganti dengan kata desahan (mendesah tanpa udara).
Palembang,
April 2021
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






