Dengarkan Artikel
Oleh Novita Sari Yahya
Sementara dunia sibuk menyiapkan tank, pesawat tempur, dan strategi perang serius, Indonesia tampaknya memilih jalur yang sedikit berbeda. Perang di sini bukan soal peluru dan meriam, tapi soal meme, hashtag, dan joget viral.
Bayangkan kalau hari ini terjadi konflik regional: sementara negara lain mengerahkan pasukan fisik, remaja Indonesia justru berbaris dengan ponsel di tangan, siap menyerbu dunia maya dengan tawa dan konten kreatif.
Menurut survei APJII (2025), hampir 80% lebih remaja Indonesia aktif di media sosial, dengan TikTok menjadi panggung utama. Jadi, medan perang modern bukan lagi medan tempur dan artileri, tapi layar smartphone yang dipenuhi challenge joget dan meme pedas penuh satire.
Namun di balik gelak tawa digital, terselip pertanyaan serius: apakah kreativitas dan ekspresi digital yang begitu meriah ini cukup menjadi perisai bangsa ketika ketegangan global meningkat?
Remaja Indonesia: Pembinaan Anak Bermasalah di Barak Pembinaan?
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, punya ide yang cukup mengejutkan: pelatihan militer untuk remaja bermasalah. Inspirasi datang dari China, di mana pendekatan semi-militer diterapkan sejak sekolah dasar. Tujuannya? Membentuk karakter remaja yang disiplin dan bertanggung jawab.
Bayangkan, remaja yang biasanya mahir berjoget, kini juga bisa berbaris layaknya prajurit, lengkap dengan etika militer dan rasa kebangsaan.
Tentu saja, ide ini menimbulkan pro-kontra. Para pegiat hak asasi manusia bertanya dengan nada waswas: apakah ini benar-benar pembinaan karakter atau sekadar pembatasan kebebasan anak? Pendekatan militer identik dengan struktur hierarki yang ketat dan berpotensi menimbulkan trauma psikologis bagi anak yang sedang berada di masa kritis pertumbuhan.
Tiongkok: Sekolah Dasar atau Akademi Militer?
Kalau Indonesia sedang bereksperimen dengan semi-militer, Tiongkok sudah jauh lebih dulu. Anak-anak yang dianggap kurang disiplin dikirim ke kamp khusus: latihan fisik ketat, kelas moral, dan penanaman loyalitas kepada negara.
Pemerintah Tiongkok menilai ini sebagai pembinaan karakter, tapi Human Rights Watch (2024) memperingatkan risiko besar. Tekanan yang diterapkan bisa merusak psikologis anak. Apa yang terlihat sebagai pendidikan semi-militer kadang lebih mirip “cuci otak versi ringan.” Efektif, tapi membuat pendukung kebebasan berpikir mengernyitkan dahi.
📚 Artikel Terkait
Rusia: Patriotisme dalam Seragam Sekolah
Rusia punya versi lain: Yunarmiya, atau “Tentara Muda.” Organisasi paramiliter ini menampung pelajar 10–18 tahun untuk berbaris, menggali parit, dan menembak dengan senjata tiruan. Kegiatan ini menjadi bagian kurikulum wajib di beberapa negara bagian Rusia, di mana nilai patriotisme dan disiplin ditanamkan sejak dini.
Menurut Kementerian Pertahanan Rusia (2025), program ini bertujuan membentuk generasi muda agar siap menjadi pelindung negara. Tapi para aktivis HAM dan psikolog mengingatkan: memaksakan patriotisme lewat seragam dan latihan bisa menumbuhkan ketakutan, bukan rasa cinta tanah air.
Indonesia: Antara Joget Viral dan Barak Militer Virtual
Indonesia punya cara sendiri merawat nasionalisme: melalui seni dan budaya digital. Meme dan joget bukan sekadar hiburan, tapi bahasa ekspresi yang mempererat solidaritas sosial dan identitas budaya. Data APJII (2024) menunjukkan pengguna TikTok rata-rata menghabiskan 86 menit per hari di aplikasi ini, medan pertempuran berbeda, tapi nyata.
Namun ketika ketegangan dunia meningkat, apakah cukup bagi bangsa ini untuk terus berjoget dan mengirim meme kocak? Ataukah sudah saatnya Indonesia mencari keseimbangan antara kreativitas digital dan persiapan mental serta fisik membangun ketangguhan bangsa?
Indonesia bisa memanfaatkan kekuatan soft power digital sebagai ujung tombak diplomasi dan perlawanan, sembari membangun model pembinaan karakter yang humanis dan beretika. Model hybrid ini menggabungkan pelatihan fisik dan mental tanpa melanggar hak anak dan kebebasan berpikir. Generasi muda tetap kreatif, manusiawi, dan siap menghadapi tantangan global.
Persiapan mental dan fisik yang terintegrasi, berlandaskan nilai kemanusiaan, adalah kunci agar generasi muda Indonesia menjadi penjaga masa depan bangsa yang tangguh, cerdas, dan berpikir merdeka. Di era perang informasi dan pikiran, tawa, kecerdasan digital, dan karakter matang bisa menjadi senjata utama menjaga keutuhan dan kejayaan negeri.
Daftar Referensi
1. Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Survei Penggunaan Internet Indonesia 2023. APJII, 2023.
2. Human Rights Watch. China: Military-Style Education in Schools Threatens Children’s Rights. HRW Report, 2024.
3. Kementerian Pertahanan Rusia. Laporan Organisasi Yunarmiya dan Pendidikan Patriotik Militer Pemuda, 2025.
4. UNICEF. Child Rights and Military Involvement: Standards and Recommendations. UNICEF Briefing, 2023.
5. Human Rights Watch. Education and Coercion: Children under Military Discipline. HRW Analysis, 2024.
Penulis: Novita Sari Yahya
Penulis dan peneliti, fokus pada strategi militer dan perang dunia sejak usia remaja.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






