POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Tiket Langit, Harga Akal (yang) Hilang

RedaksiOleh Redaksi
October 13, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya

Catatan Paradoks Wayan Suyadnya

Saya sungguh-sungguh dibuat tak mengerti di negeri ini. 

Di negeri yang katanya sedang menata masa depan pariwisata, logika harga tiket pesawat seakan melayang entah ke langit mana. 

Di Traveloka — sebuah jendela kecil tempat rakyat menengok harapan dan tujuan bepergian — terpampang kenyataan yang menggelitik sekaligus menyesakkan dada: untuk hari yang sama pada Senin, 13 Oktkber 2025 tiket Lombok–Bali Rp 1.254.200 dengan Lion, Rp 1.280.300 dengan Super Air Jet. Namun Lombok–Surabaya hanya Rp 751.000, dan Lombok–Jakarta malah lebih murah lagi, Rp 1.230.000.

Aneh, bukan? Semakin jauh, semakin murah. Semakin dekat, semakin mahal. Seolah hukum fisika dan ekonomi di negeri ini punya tafsir sendiri.

Padahal kita tahu, bahan bakar pesawat—aftur—tak bisa berbohong pada jarak.

Lombok–Bali hanyalah setengah jam di udara, sebentar saja burung besi mengepakkan sayapnya. Lombok–Jakarta butuh lebih dari satu setengah jam. Tapi kenapa justru ke Jakarta harganya lebih murah? Ini hitungan apa? 

Jika Jakarta itu luar negeri, barangkali bisa dimaklumi: ada kebijakan antarnegara, ada pajak lintas batas. Tapi Lombok itu Indonesia, Bali itu Indonesia, Jakarta pun Indonesia. Mengapa langit negeri yang sama menaruh harga berbeda untuk rakyatnya sendiri?

Sejak Bandara Selaparang di Rembiga masih aktif, penerbangan Lombok–Bali itu sudah ada. Lombok – Bali bukan rute baru. Maskapai penerbangan yang masuk ke rute Bali – Lombok juga sudah ada sejak lama. Rute Bali – Lombok adalah nadi kecil yang menyambung pariwisata dua pulau bersaudara ini.

📚 Artikel Terkait

Keheningan

Pemko Apresiasi Pelaksanaan Coaching Clinic KUR Syariah oleh Kemenparekraf

Serumpun Puisi Asep Perdiansyah

Perlukah Kami Memperingati 25 Tahun Reformasi?

Kini, nadi itu seperti dicekik oleh tangan tak kasat mata yang bernama kebijakan. Kebijakan model apa ini? Sebelum Covid-19 tak begini harga tiket Bali – Lombok. 

Bisa saja buat pembenar jika ini soal jenis pesawat dan kapasitas penumpang. Tapi bukankah banyak jenis pesawat di dunia ini yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan rute pendek?

Kalau bukan karena alasan teknis, lalu apa? Jika ini kebijakan, kebijakan siapa? Jika ini strategi, strategi untuk siapa?

Apakah pemerintah kini menjelma menjadi pengusaha yang menjual kesulitan kepada rakyatnya? Atau para pengambil kebijakan telah terlanjur nyaman dalam kabin kekuasaan, lupa bahwa di luar sana rakyat menatap Traveloka dengan dahi berkerut, menimbang-nimbang: mau ke Lombok harga tiketnya melambung? 

Memang, pengguna jasa penerbangan pesawat lebih banyak ditujukan kepada kelas atas — kaum borjuis berkantong tebal yang menjadikan langit sebagai halaman rumah. Tapi pernahkah para pengambil kebijakan berpikir bahwa harga tiket itu bukan hanya urusan orang beruang? Bahwa ia berkelindan dengan kehidupan pedagang kecil di bawah langit yang sama?

Cobalah turun sejenak dari kabin bisnis, lihatlah ke Pasar Bertais — di sana pedagang terasi menunggu pembeli yang tadinya hendak  berkunjung dengan pesawat itu. Tengoklah perajin tenun ikat di Terara yang juga menunggu-nunggu pembeli berkantong tebal. Jika mereka urung datang bukankah ia menghela napas menunggu pembeli?

Datanglah ke Suranadi, ke warung sate belayag yang siap menunggu pembeli. Jika belayagnya laku, di sawah belakangnya, petani kangkung ikut sumringah. 

Bukankah kedatangan orang menggunakan pesawat itu sangat ditunggu petani kangkung, dagang terasi, dagang belayag hingga tukang parkir? 

Semua berawal dari satu hal sederhana: harga tiket yang terlalu tinggi. Karena orang yang tadinya mau ke Lombok memilih ke tempat lain, karena perjalanan yang seharusnya dekat dibuat terasa jauh oleh angka di layar ponsel.

Tidakkah mereka yang berkepentingan dengan kedatangan orang ke NTB berteriak? Ataukah suara mereka tertelan dalam dengung mesin pesawat yang terbang terlalu tinggi, terlalu jauh dari bumi tempat rakyatnya berpijak?

Kemana Menteri Pariwisata kita, kemana Luh Puspa? Kemana menteri Perhubungan, apa yang dikerjakan Dirjen Perhubungan Negara, apa dia tak malu buat kebijakan model begini. PHRI NTB mungkin sudah serak berteriak soal harga tiket ini atau tak tahu caranya harus berbuat apa melawan ketidakadilan ini?

Negara pastilah bukan mafia. Tapi ketika kebijakan dibuat tanpa nurani, tanpa perhitungan bagi rakyat kecil, tanpa kesadaran bahwa satu kursi kosong di pesawat berarti satu piring nasi tak terisi di rumah pedagang kecil — maka apa bedanya negara dengan pedagang untung yang menjual penderitaan bangsanya sendiri?

Inilah dunia paradoks langit negeri sendiri — di mana harga tiket bisa lebih tinggi dari logika, lebih mahal dari empati, dan rakyat hanya bisa menatap awan sambil bertanya lirih: “Berapa harga akal sehat di republik ini?”

Mataram, 12 Oktober 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Rintik Hujan di Jalan Kasih: Bakti Sosial SMANSA Biak Warnai Ulang Tahun ke-43 dengan Cinta

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00