Dengarkan Artikel
Oleh Novita Sari Yahya
Langsung terbayang bagaimana kita yang katanya lagi bangun bangsa, eh malah rajin bikin meme politik sambil scroll X sampai subuh? Penulisnya pintar banget mencampur cerita pribadi yang awkward (dari A di SD Malaysia sampai kabur ke biologi karena fisika monster) dengan sejarah berat, tapi dikemas ringan kayak kopi pagi yang dicampur gula aren—pahitnya ketutup manisnya.
Yang bikin saya ketawa paling kencang adalah bagian “ilmu komisiologi” di era Orde Baru. Bayangkan, sarjana jebolan Harvard atau Oxford pulang ke tanah air, eh malah jadi ahli rebutan komisi proyek SDA atau buzzer pilpres. “Asal bapak senang” jadi jargon resmi, bukan rumus Euler. Ini satir yang pedas, tapi beneran menyindir realita kita: pendidikan tinggi mahal, tapi hasilnya lebih sering dipakai buat hoaks daripada inovasi.
Dan transisinya ke cerita anaknya yang IQnya meledak di STEM, tapi milih “uang lebih penting daripada ijazah”? Relatable abis. Generasi muda kita memang pragmatis, tapi ya bagaimana, sistemnya saja yang bikin haus jabatan lebih nendang daripada haus ilmu.
Secara historis, tulisannya solid kok. Soekarno memang gila-gilaan kirim ribuan mahasiswa ke Blok Timur, Rusia, China, bahkan Korea Utara, buat belajar teknik nuklir, perkeretaapian Soviet, sampai kedokteran tropis ala komunal. 7819c5c32d161f6f13. Bayangkan kalau tragedi 1965 tidak kejadian, mereka pulang dan bangun nuklir kita lebih cepat dari Korea Selatan.
📚 Artikel Terkait
Tapi ya sudahlah, malah berujung eksil massal—mahasiswa di Praha, Moskow, Beijing kehilangan paspor, tak bisa pulang karena dituduh “kiri” atau pengkhianat.5fd908463ef670ede8
Kehilangan generasi emas itu tragis, dan penulisnya tidak lebay mengeksplornya, malah bikin kita berfikir, “Eh iya nih, kalau mereka balik, apa kita sudah punya Grok versi lokal sekarang?”
Referensinya juga oke, dari Benedict Anderson sampai Tempo edisi khusus—bukan asal comot. Yang bikin optimis, bagian akhir soal Gen Z yang mulai doyan baca buku lagi. Beneran ada trennya: survei 2024 bilang 84,7% Gen Z Indonesia suka baca, bahkan naik signifikan dari tahun sebelumnya, dan toko buku rame lagi meski digitalisasi gila-gilaan.8ab8774420b86feb16. Imajinasi penulis soal desa filantropi yang lahirkan fisikawan super? Romantis banget, tapi bisa jadi kenyataan kalau kita stop bikin meme doang dan mulai bikin lab sederhana.
Intinya, tulisan ini tidak cuma ngakak, tapi juga ngegas buat kita introspeksi. Novita Sari Yahya sebagai “peneliti hobi scroll medsos” memang pas banget—dia mengamati tingkah laku kita sambil bikin kita ketawa sama diri sendiri. Saya kasih rating 9/10: kurang satu karena bikin saya ingin membikin meme tentang ini sekarang juga. Kamu bagaimana, setuju nggak? Atau ada bagian yang bikin kamu ngakak paling parah?
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






