POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pendidikan Pada Sebuah Persimpangan: Antara Teknologi dan Kemanusiaan

RedaksiOleh Redaksi
September 28, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Fileski Walidha Tanjung 

Membaca liputan tentang kegiatan “Upgrading Guru” yang saya ikuti bersama Yayasan Khairunnas Madiun, saya merasa seakan bercermin pada realitas pendidikan kita hari ini. Di satu sisi, teknologi menjanjikan kecepatan, efisiensi, dan akses yang luas. 

Di sisi lain, ada kegelisahan tentang bagaimana manusia—baik Pendidik (sekarang kita biasakan menyebut Guru dengan istilah Pendidik), maupun murid—tetap menjadi pusat dalam pusaran perubahan itu. 

Pertanyaan mendasar pun muncul: apakah kita sedang membentuk manusia merdeka atau sekadar operator dari mesin-mesin pintar yang kita ciptakan?

Filsuf Jerman Martin Heidegger pernah mengingatkan, “Teknologi bukan hanya sarana; ia adalah cara menyingkap dunia.” Kalimat ini seolah menegaskan bahwa teknologi tidak netral. Ia membentuk cara kita melihat realitas, menentukan pola relasi, bahkan mempengaruhi imajinasi kita tentang masa depan. 

Jika pendidikan terlalu bergantung pada teknolog, tanpa refleksi kritis, maka ada risiko bahwa dunia yang disingkap bukan lagi dunia kemanusiaan, melainkan dunia yang dibatasi oleh algoritma.

Dalam konteks inilah saya memandang bahwa forum “Upgrading Pendidik” bukan sekadar berbicara tentang perangkat pembelajaran interaktif atau model Blended Learning, Flipped Learning, hingga PjBL. Lebih dari itu, ia membuka ruang diskusi tentang bagaimana Pendidik memaknai ulang dirinya. Apakah Pendidik hanya menjadi fasilitator teknologi, atau tetap menjadi pembimbing nilai, nurani, dan kebijaksanaan? 

Pertanyaan ini penting, sebab teknologi, betapapun canggihnya, takkan pernah menggantikan kehangatan tatapan mata seorang Pendidik yang percaya pada muridnya.

Namun, terlalu naïf jika kita menolak teknologi. Kita tahu bahwa realitas murid hari ini adalah realitas digital. Mereka lahir dalam ekosistem media sosial, game online, dan ruang virtual. Menolak teknologi sama saja dengan menutup pintu rumah ketika banjir sudah masuk. Maka jalan tengahnya adalah keberanian untuk menata, bukan tunduk. Pendidik bukan pelayan teknologi, melainkan arsitek pembelajaran yang bijak dalam memilih, memilah, dan meramu.

📚 Artikel Terkait

Wakil Rakyat dan Kala Hati Telah Mati

Dunia dalam Eskalasi: Ketika Rakyat Menjadi Korban Ambisi Para Penguasa

MERANCANG WIRAUSAHA SUKSES

Kebermanfaatan Wakaf Tanpa Batas sebagai Instrumen Menghapuskan Kemiskinan

Di sinilah saya ingin mengajukan kritik terhadap wacana pendidikan yang kerap mengagungkan “inovasi” tanpa substansi. Kata inovasi terlalu sering dijadikan mantra, seakan-akan setiap hal baru otomatis lebih baik. Padahal, sebagaimana diingatkan Paulo Freire, “Pendidikan sejati bukan tentang mengisi kepala murid dengan informasi, melainkan membebaskan kesadaran mereka.” Jika teknologi hanya digunakan untuk mempercepat transfer informasi, maka ia gagal menjadi alat pembebasan. Ia justru berpotensi memperkokoh budaya konsumtif dan ketergantungan.

Maka, perspektif baru yang saya tawarkan adalah memandang teknologi bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai bahasa baru untuk mengekspresikan kemanusiaan. 

Pendidik yang kreatif tidak hanya mengajarkan cara menggunakan media interaktif, tetapi juga menanamkan kemampuan murid untuk bertanya, mengkritisi, dan menafsirkan ulang realitas. 

Blended Learning, misalnya, bukan sekadar soal menggabungkan tatap muka dengan daring, tetapi tentang melatih murid agar mampu hidup dalam dua dunia—fisik dan digital—tanpa kehilangan jati diri.

Kekhawatiran saya adalah apabila teknologi hanya dilihat sebagai pelengkap administratif. Banyak sekolah berbangga karena memiliki fasilitas digital, tetapi substansi pembelajaran tetap monoton, hanya dipindahkan dari papan tulis ke layar. 

Dalam situasi ini, teknologi sekadar kosmetik, bukan transformasi. Padahal, transformasi pendidikan justru lahir dari keberanian Pendidik untuk mempertanyakan ulang relasi pengetahuan, kekuasaan, dan kemerdekaan murid.

Di ruang kelas, saya sering menyaksikan paradoks. Murid-murid begitu cepat menguasai aplikasi baru, tetapi sering kali gagap ketika diminta menafsirkan puisi atau menganalisis peristiwa sosial. Ini membuktikan bahwa literasi teknologi tidak otomatis melahirkan literasi kritis. 

Maka, tugas Pendidik hari ini adalah menjembatani dua hal: memastikan murid tidak ketinggalan zaman, sekaligus menjaga agar mereka tidak kehilangan akarnya sebagai manusia yang berpikir, merasa, dan berempati.

Saya percaya, forum-forum seperti “Upgrading Pendidik” adalah titik awal penting. Tetapi ia baru menjadi berarti jika melahirkan keberanian untuk melampaui sekadar teknis. Pendidik harus berani mengajukan pertanyaan kritis, bahkan terhadap dirinya sendiri. Apakah saya mengajar untuk membebaskan, atau sekadar mengajar agar murid bisa mengikuti ujian? Apakah saya mengajarkan teknologi sebagai alat penciptaan makna, atau sekadar sebagai keterampilan teknis?

Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian—krisis iklim, perang, hingga ekonomi yang rapuh—pendidikan tidak boleh hanya menyiapkan murid menjadi pekerja yang patuh pada sistem. 

Pendidikan harus melatih mereka menjadi manusia yang sanggup berdiri tegak, mengkritisi, dan mencipta dunia yang lebih adil. Teknologi bisa menjadi sekutu dalam perjuangan itu, asal tidak ditempatkan sebagai tuan.

Penutup dari esai ini bukan jawaban, melainkan undangan untuk refleksi. Bagaimana jika kita memandang kelas bukan hanya sebagai ruang transfer pengetahuan, melainkan sebagai laboratorium kebebasan? Bagaimana jika kita memanfaatkan teknologi bukan hanya untuk mempercepat, tetapi juga untuk memperdalam kesadaran? 

Dan akhirnya, beranikah kita—Pendidik, murid, masyarakat—untuk bertanya ulang: apakah pendidikan yang kita jalani saat ini benar-benar membentuk manusia merdeka, atau sekadar memoles wajah baru bagi ketergantungan lama. [] 

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 73x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 61x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 57x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 52x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

2,9 Juta Kawan Kita Kena Stroke Setiap Tahunnya

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00