Dengarkan Artikel
Oleh Fileski Walidha Tanjung
Membaca liputan tentang kegiatan “Upgrading Guru” yang saya ikuti bersama Yayasan Khairunnas Madiun, saya merasa seakan bercermin pada realitas pendidikan kita hari ini. Di satu sisi, teknologi menjanjikan kecepatan, efisiensi, dan akses yang luas.
Di sisi lain, ada kegelisahan tentang bagaimana manusia—baik Pendidik (sekarang kita biasakan menyebut Guru dengan istilah Pendidik), maupun murid—tetap menjadi pusat dalam pusaran perubahan itu.
Pertanyaan mendasar pun muncul: apakah kita sedang membentuk manusia merdeka atau sekadar operator dari mesin-mesin pintar yang kita ciptakan?
Filsuf Jerman Martin Heidegger pernah mengingatkan, “Teknologi bukan hanya sarana; ia adalah cara menyingkap dunia.” Kalimat ini seolah menegaskan bahwa teknologi tidak netral. Ia membentuk cara kita melihat realitas, menentukan pola relasi, bahkan mempengaruhi imajinasi kita tentang masa depan.
Jika pendidikan terlalu bergantung pada teknolog, tanpa refleksi kritis, maka ada risiko bahwa dunia yang disingkap bukan lagi dunia kemanusiaan, melainkan dunia yang dibatasi oleh algoritma.
Dalam konteks inilah saya memandang bahwa forum “Upgrading Pendidik” bukan sekadar berbicara tentang perangkat pembelajaran interaktif atau model Blended Learning, Flipped Learning, hingga PjBL. Lebih dari itu, ia membuka ruang diskusi tentang bagaimana Pendidik memaknai ulang dirinya. Apakah Pendidik hanya menjadi fasilitator teknologi, atau tetap menjadi pembimbing nilai, nurani, dan kebijaksanaan?
Pertanyaan ini penting, sebab teknologi, betapapun canggihnya, takkan pernah menggantikan kehangatan tatapan mata seorang Pendidik yang percaya pada muridnya.
Namun, terlalu naïf jika kita menolak teknologi. Kita tahu bahwa realitas murid hari ini adalah realitas digital. Mereka lahir dalam ekosistem media sosial, game online, dan ruang virtual. Menolak teknologi sama saja dengan menutup pintu rumah ketika banjir sudah masuk. Maka jalan tengahnya adalah keberanian untuk menata, bukan tunduk. Pendidik bukan pelayan teknologi, melainkan arsitek pembelajaran yang bijak dalam memilih, memilah, dan meramu.
📚 Artikel Terkait
Di sinilah saya ingin mengajukan kritik terhadap wacana pendidikan yang kerap mengagungkan “inovasi” tanpa substansi. Kata inovasi terlalu sering dijadikan mantra, seakan-akan setiap hal baru otomatis lebih baik. Padahal, sebagaimana diingatkan Paulo Freire, “Pendidikan sejati bukan tentang mengisi kepala murid dengan informasi, melainkan membebaskan kesadaran mereka.” Jika teknologi hanya digunakan untuk mempercepat transfer informasi, maka ia gagal menjadi alat pembebasan. Ia justru berpotensi memperkokoh budaya konsumtif dan ketergantungan.
Maka, perspektif baru yang saya tawarkan adalah memandang teknologi bukan sebagai tujuan, melainkan sebagai bahasa baru untuk mengekspresikan kemanusiaan.
Pendidik yang kreatif tidak hanya mengajarkan cara menggunakan media interaktif, tetapi juga menanamkan kemampuan murid untuk bertanya, mengkritisi, dan menafsirkan ulang realitas.
Blended Learning, misalnya, bukan sekadar soal menggabungkan tatap muka dengan daring, tetapi tentang melatih murid agar mampu hidup dalam dua dunia—fisik dan digital—tanpa kehilangan jati diri.
Kekhawatiran saya adalah apabila teknologi hanya dilihat sebagai pelengkap administratif. Banyak sekolah berbangga karena memiliki fasilitas digital, tetapi substansi pembelajaran tetap monoton, hanya dipindahkan dari papan tulis ke layar.
Dalam situasi ini, teknologi sekadar kosmetik, bukan transformasi. Padahal, transformasi pendidikan justru lahir dari keberanian Pendidik untuk mempertanyakan ulang relasi pengetahuan, kekuasaan, dan kemerdekaan murid.
Di ruang kelas, saya sering menyaksikan paradoks. Murid-murid begitu cepat menguasai aplikasi baru, tetapi sering kali gagap ketika diminta menafsirkan puisi atau menganalisis peristiwa sosial. Ini membuktikan bahwa literasi teknologi tidak otomatis melahirkan literasi kritis.
Maka, tugas Pendidik hari ini adalah menjembatani dua hal: memastikan murid tidak ketinggalan zaman, sekaligus menjaga agar mereka tidak kehilangan akarnya sebagai manusia yang berpikir, merasa, dan berempati.
Saya percaya, forum-forum seperti “Upgrading Pendidik” adalah titik awal penting. Tetapi ia baru menjadi berarti jika melahirkan keberanian untuk melampaui sekadar teknis. Pendidik harus berani mengajukan pertanyaan kritis, bahkan terhadap dirinya sendiri. Apakah saya mengajar untuk membebaskan, atau sekadar mengajar agar murid bisa mengikuti ujian? Apakah saya mengajarkan teknologi sebagai alat penciptaan makna, atau sekadar sebagai keterampilan teknis?
Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian—krisis iklim, perang, hingga ekonomi yang rapuh—pendidikan tidak boleh hanya menyiapkan murid menjadi pekerja yang patuh pada sistem.
Pendidikan harus melatih mereka menjadi manusia yang sanggup berdiri tegak, mengkritisi, dan mencipta dunia yang lebih adil. Teknologi bisa menjadi sekutu dalam perjuangan itu, asal tidak ditempatkan sebagai tuan.
Penutup dari esai ini bukan jawaban, melainkan undangan untuk refleksi. Bagaimana jika kita memandang kelas bukan hanya sebagai ruang transfer pengetahuan, melainkan sebagai laboratorium kebebasan? Bagaimana jika kita memanfaatkan teknologi bukan hanya untuk mempercepat, tetapi juga untuk memperdalam kesadaran?
Dan akhirnya, beranikah kita—Pendidik, murid, masyarakat—untuk bertanya ulang: apakah pendidikan yang kita jalani saat ini benar-benar membentuk manusia merdeka, atau sekadar memoles wajah baru bagi ketergantungan lama. []
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






