POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Memproklamirkan Hari Keadilan Ekologis di Pulau Sumba

RedaksiOleh Redaksi
September 28, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Catatan PNLH XIV Waingapu NTT

Oleh: Dr. Ir. Basri A. Bakar, M.Si (Direktur Eksekutif Forsikal)

Pesawat NAM Air mendarat mulus di bandara Lede KalumbangTambolaka Sumba Barat Daya Nusa Tenggara Timur (NTT).Ada sekitar 40 delegasi Aceh yang bergabung dalam wadah Walhi ikut serta. 

Dari bandara ini kami harus menempuh perjalanan darat dengan minibus selama lima jam ke tempat acara perhelatan Pertemuan Nasional Lingkungan Hidup (PNLH) yang berlangsung setiap empat tahun sekali yakni di Kota Waingapu Sumba Timur.

Dibandingkan sebelumnya, kali ini para peserta tidak menginap di hotel. Hampir 500 peserta diinapkan di rumah-rumah warga.Tempat acarapun berlangsung di aula gedung MPL yang dapat menampung lebih dari 800 peserta. 

Saya tidak membayangkan sebelumnya jika warga setempat tergolong ramah dan akrab dengan peserta PNLH. Bayangkan saat malam pertama kami datang sekitar pukul 22.00, mereka sudah siap menunggu di teras rumah. Lalu kami dipesilahkan masuk dan ditunjukkan kamar. Sebentar kemudian tuan rumah dan beberapa anak usia SLTA dan mahasiswa menyuguhkan teh hangat kepada kami. 

Selama seminggu kami di rumah mereka, kami merasakan nyaman, karena layanan yang diberikan sangat luar biasa. Saya menilai budaya warga Waingapu melayani tamu melebihi yang dicanangkan di Banda Aceh “Peumulia Jamee Adat Geutanyoe”.Ini tidak hanya berlaku untuk kami berempat yang tinggal di rumah Yan Wolla (45), namun juga pengakuan sebagian besar peserta yang kami tanyakan tanggapannya.

Meskipun sebagian besar warga penganut Katolik dan Protestan, namun kita melihat sopan santun dalam berbicara dan siap melayani patut diacungi jempol. 

Bagi mereka tamu seakan “raja”, sehingga mereka berusaha memberikan kesan yang menyenangkan bagi tetamu PNLH Walhi. Ada satu hal yang menjadi catatan bahwa warga Sumba terkenal pemakan sirih, sehingga kelihatan mulut dan gigi mereka tampak merah. Tidak aneh jika mereka juga menyediakan sirih dan pinang untuk tamu, meski kami menolak dengan halus karena tidak biasa. Sumba juga terkenal dengan kerajinan tenunnya yang khas dan menarik pengunjung.  

Hari Keadilan Ekologis

📚 Artikel Terkait

Jalan Kaki Hingga 6 Km, Direktur CCDE Bantu Dua Sepeda untuk Dua Siswi MAN 4 Aceh Selatan

Kyai Tiga Kitab

Selamat Ulang Tahun Majalah POTRET

BENGKEL OPINI RAKyat

Tahun ini, WALHI juga menyusun rekomendasi strategi untuk menghadapi isu lingkungan ke depan, termasuk pemilihan kader yang akan memimpin organisasi periode empat tahun berikutnya. Momen pertemuan ini juga diwarnai dengan deklarasi Hari Keadilan Ekologis pada 20 September 2025, dimeriahkan dengan karnaval yang dirangkai dengan peresmian Monumen Keadilan Ekologis Sedunia oleh Ketua DPD RI Sultan Bakhtiar Najamuddin. 

Tentu saja ini sebuah langkah bersejarah yang sejajar dengan deklarasi Hari Lingkungan Hidup Sedunia dan Hari Bumi di tingkat global. Dengan demikian Waingapu tercatat sebagai tempat bersejarah yang kelak akan dikenang dan titik awal sebuah seruan global, karena di sinilah diproklamirkan Hari Keadilan Ekologis Sedunia. 

Hal ini selain sudah menjadi program WALHI,  juga sambutan Bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali. Acara tersebut turut dihadiri Bupati Sumba Barat Daya Ratu Wulla, Wakil Bupati Sumba Timur Yonathan Hani, serta utusan dari Kabupaten Sumba Tengah dan Sumba Barat. 

Kehadiran mereka menegaskan bahwa isu lingkungan tidak bisa ditangani sendiri-sendiri, tetapi harus secara bersama-sama.

Fenomena bencana yang terus berulang adalah bentuk hukum sebab-akibat (kausalitas), antara tindakan manusia dan respons alam. Eksploitasi alam secara berlebihan dan tanpa kendali, telah menyebabkan terganggunya keseimbangan alam. Salah satu contoh nyata adalah perusakan hutan yang berfungsi sebagai penyangga air. 

Dengan hutan yang gundul dan rusak, saat hujan deras datang, air tidak mampu tertahan, sehingga menyebabkan banjir dan tanah longsor. Kondisi ini mencerminkan hubungan tidak harmonis antara manusia dan alam yang harus segera diperbaiki.

Isu ini diangkat dengan serius oleh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) dalam PNLH XIV dengan mengangkat tema : “Daulat Rakyat Meneguhkan Ekonomi Nusantara untuk Keadilan Ekologis”. 

Pertemuan ini menjadi wadah penting untuk mengangkat persoalan lingkungan hidup yang berkaitan erat dengan keadilan sosial dan ekonomi rakyat, sekaligus sebagai ruang dialog antara aktivis lingkungan, pemerintah, dan masyarakat.

Direktur Eksekutif WALHI Nasional (2022 – 2025) Zenzi Suhadi, menegaskan bahwa transisi energi yang berkeadilan sulit terwujud, jika hak-hak masyarakat dan lahan terus dirampas oleh kepentingan bisnis besar. Adaptasi manusia terhadap alam seharusnya membangun peradaban yang berkelanjutan, di mana alam dan manusia saling menghormati dan tidak ada yang dikorbankan demi keuntungan semata. 

Namun kenyataannya, kebijakan pemerintah Indonesia kerap mengabaikan aspek keadilan ekologis. Contohnya, Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Pokok Agraria yang seharusnya mengatur tatakelola bumi dan kekayaan alam, namun masih banyak celah hukum yang dimanfaatkan untuk eksploitasi sumber daya alam, tanpa memperhatikan dampak lingkungan dan sosial.

Data dari Global Forest Watch menunjukkan betapa Indonesia mengalami deforestasi yang sangat signifikan. Dari 2002 – 2024, Indonesia kehilangan sekitar 10,7 juta hektare hutan primer basah, dan luas hutan ini berkurang hingga 11 persen dalam rentang waktu tersebut. Bahkan pada 2024 saja, deforestasi mencapai 261.575 hektare. Kehilangan tutupan pohon sebanyak 76 persen selama lima tahun terakhir menandakan kerusakan ekosistem yang mengancam kelestarian alam dan kehidupan masyarakat.

Isu keadilan ekologis menjadi sangat krusial dalam konteks pembangunan yang kerap bersifat eksploitatif dan ekstraktif, yang hanya mengejar keuntungan ekonomi jangka pendek, tanpa memikirkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan masyarakat. Oleh sebab itu, kesadaran kolektif untuk melestarikan alam harus terus ditumbuhkan.

Keseriusan pemerintah dan sinergi bersama lembaga terkait menjadi kunci agar bencana alam dapat diminimalisir dan keberlanjutan lingkungan terjaga. Dengan kesadaran kolektif dan penegakan hukum yang kuat, diharapkan Indonesia dapat menata kembali hubungan harmonis antara manusia dan alam, sehingga bumi yang lestari dapat diwariskan kepada generasi mendatang. Semoga.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Pendidikan Pada Sebuah Persimpangan: Antara Teknologi dan Kemanusiaan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00