POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Jangan Terlalu Percaya dengan KPK, Kecuali OTT

RedaksiOleh Redaksi
September 27, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Berbulan-bulan melakukan penyidikan. Ada saksi diperiksa di Jakarta. Ada juga diperiksa di tempat. Tersangkanya, ya kambing hitam. Atasannya, saksi forever. Itu sebabnya, saya tidak yakin kinerja KPK, kecuali OTT-nya. Mari kita lindas, eh salah, kupas kinerja lembaga antirasuah memburu para koruptor sambil ngopi tanpa gula, wak!

Jangan terlalu percaya dengan kinerja KPK. Serius, jangan. Kalau masih percaya, berarti nuan masih menaruh harapan pada sinetron yang tiap episodenya menggantung ending, “Bersambung minggu depan.” Gubernur yang sudah jelas-jelas berstatus tersangka saja bisa tiba-tiba lepas dengan wajah penuh senyum bak pemain iklan pasta gigi. Apalagi cuma rumah digeledah, laci dibongkar, kasur dibalik, brankas dipreteli. Ujung-ujungnya? “Beliau hanya sebagai saksi.”

Mari kita mulai dengan tokoh utama, Sahbirin Noor, Gubernur Kalimantan Selatan. Tuduhannya? Dugaan menerima fee lima persen dari proyek pengadaan barang dan jasa. Lima persen, pian! Kalau ini perusahaan ritel, Sahbirin bisa pasang spanduk, Diskon Korupsi 5% All Item. Drama makin seru karena ada rekayasa proyek. Tapi jangan buru-buru tepuk tangan, sebab ada plot twist, KPK menetapkan Sahbirin sebagai tersangka, lalu beliau mengajukan praperadilan. Apa yang terjadi? Menang telak! Seperti tim sepak bola gurem mengalahkan juara dunia. Status tersangka otomatis hilang, KPK seperti kehilangan panggung. Kasihan betul, lembaga super body itu seakan-akan dijatuhkan hanya dengan satu putusan hakim tunggal. Kalau Aristoteles hidup, mungkin ia akan bilang, “Hukum di Indonesia bukan soal keadilan, tapi soal siapa yang paling piawai memainkan catur praperadilan.”

Lanjut ke panggung Kalbar, daerah gue ni, wak. Ria Norsan, rumah dinasnya digeledah, rumah pribadinya disatroni, bahkan rumah keduanya ikut dipreteli. Hasilnya? Tiga tersangka sudah diumumkan. Tapi Ria Norsan? Masih duduk manis, senyum merekah, statusnya saksi. Kalau Filsuf Plato lihat ini, mungkin dia akan menulis Republik Jilid Dua: Negara Saksi. Bayangkan, tiga rumah digasak, tapi penghuninya malah keluar jadi “pemenang senyum paling tulus 2025”.

Belum puas, kita terbang ke Jawa Barat. Ridwan Kamil ikut meramaikan panggung investigasi. Pada 10 Maret 2025, rumahnya digeledah. KPK menyita motor Royal Enfield dan mobil Mercedes Benz 280 SL, kendaraan yang kalau dikendarai bisa bikin jalanan Bandung serasa Milan. Lima orang sudah jadi tersangka, termasuk Dirut Bank BJB, tapi Kang Emil? Belum tersentuh. KPK beralasan masih “pendalaman bukti.” Filosofi hukum baru tercipta, lebih baik mendalami selamanya dari pada salah langkah sekali.

📚 Artikel Terkait

Andai Aku Jadi Gubernur Lampung

SEANDAINYA AKU TAK MENJADI GURU

Dunia Tidak Butuh Kesalehanmu

Kitab Kuno Aceh Abad 18 Bahas Tentang Waktu Gempa NTB dan Tsunami Aceh

Kita belum masuk ke episode korupsi kuota haji. Kasus ini seperti sinetron Ramadan. Tayang tiap tahun, rame di awal, hilang saat Idul Fitri, lalu muncul lagi tanpa tersangka. Barang sudah disita, saksi mondar-mandir ke gedung KPK sampai keringetan, tapi ujungnya nihil. Benar kata pepatah baru, haji mabrur mungkin ada, tapi haji bersih dari korupsi masih ghaib.

Tapi jangan salah, KPK tetap punya jurus pamungkas, OTT alias Operasi Tangkap Tangan. Nah, kalau ini, jempol sepuluh. Kilat, heboh, bikin publik percaya lagi sejenak. Namun begitu OTT usai, balik lagi ke pola lama, pemeriksaan berseri, status saksi abadi, dan masyarakat bingung sendiri.

Maka, filsafat hukum di negeri ini telah bergeser. Dari “keadilan adalah untuk rakyat” menjadi “keadilan adalah untuk rating.” KPK tak ubahnya panggung teater, lengkap dengan aktor, plot twist, properti mewah, dan ending menggantung.

Kesimpulannya? Jangan terlalu percaya dengan kinerja KPK. Karena di negeri ini, tersangka bisa jadi pemenang praperadilan, saksi bisa jadi ikon, dan hukum bisa jadi komedi situasi yang tak pernah tamat.

Foto Ai, hanya ilustrasi

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Dari Ruang Kuliah ke Ruang Sidang: Kisah Magang Mahasiswa HKI UNISAI di Mahkamah Syar’iah Bireuen

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00