POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Republik Palato

RedaksiOleh Redaksi
September 23, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh ReO Fiksiwan

„Keadilan adalah ketika setiap orang melakukan tugasnya sendiri dan tidak mencampuri urusan orang lain“((Hekastos to heautou prattein kai mē polypragmonein dikaiosynē estin). — Plato(427-347 SM), Republik(Terjemahan 1999).

Plato dalam Republik menulis tentang negara ideal yang dipimpin oleh para filsuf, mereka yang memiliki kecerdasan(νοῦς; nous) sekaligus karakter(ἦθος; ēthos) yang tertata.

Dalam pandangannya, kecerdasan tanpa karakter adalah pedang di tangan anak kecil—tajam, mematikan, tapi tanpa arah moral. Kutipan ini diangkat kembali oleh dr. Roy Massie PhD dari BRIN dalam tulisannya di WAG Ecology Research(23/9/25) yang mengagungkan karakter sebagai fondasi negara timbang kecerdasan.

Ia mengingatkan bahwa negara tidak akan selamat oleh otak yang cemerlang(IQ), melainkan oleh jiwa yang tertata(EQ).

Namun, di tengah semangat filsafat negara ala Plato itu, muncul suara dari Gorontalo yang bikin kita tersentak.

Dr. dr. Nelly Mayulu, asal Gorontalo, ahli gizi dan dosen kedokteran Unsrat, menyela dengan satire khas: “Dokter Roy, kalo torang Palato.” Dalam bahasa Gorontalo, “palato” berarti “bikin kesal.”

Maka lahirlah Republik Palato—republik yang bukan hanya jauh dari ideal Plato, tapi justru bikin rakyat „poopalatolo, mopalato, mopopalato,“ demikian tulis Dr. dr. Nelly.

Republik Palato adalah negara yang menjadikan kebijakan sebagai labirin, bukan jalan keluar.

Di sini, kecerdasan memang ada—dalam bentuk kalkulasi fiskal, strategi politik, dan retorika publik—tapi karakter tertinggal di ruang seminar.

Negara ini dipenuhi oleh para teknokrat yang lihai berhitung tapi gagap berempati.

Mereka bicara tentang pertumbuhan ekonomi sambil menutup mata terhadap harga beras yang melonjak.

📚 Artikel Terkait

Kalijambe: Elegi Rem yang Menangis

Anda Bisa Ikut Membantu Program 1000 Sepeda dan Kursi Roda Ini

Dispersip Kunjungan ke OPD untuk Sosialisasi Kearsipan

Merdeka Menulis

Mereka merancang regulasi sambil lupa bahwa rakyat bukan spreadsheet.

Republik Palato adalah tempat di mana filsafat Plato dipelintir menjadi alat legitimasi kekuasaan, bukan refleksi etis.

Romo Franz Magnis-Suseno(89) dalam filsafat politiknya,Etika Politik: Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern(1987) mengingatkan bahwa negara harus berakar pada etika publik, bukan sekadar efisiensi.

Ia menolak negara yang menjadikan rakyat sebagai objek kebijakan, dan menuntut negara yang mendengarkan suara nurani.

Tapi di Republik Palato, etika publik diganti dengan etika publikasi. Yang penting bukan keadilan, tapi citra. Yang utama bukan kesejahteraan, tapi elektabilitas.

Maka, karakter yang dimaksud Plato berubah menjadi karakter panggung: tersenyum di depan kamera, tapi mengabaikan suara rakyat di belakang layar.

Ibnu Rusyd dalam Republic Plazi (2011), dengan pengantar dari Muhammad Abid Al-Jabiri, mencoba menjembatani filsafat Plato dengan realitas Islam.

Ia menekankan pentingnya akal dan keadilan dalam membangun negara.

Tapi di Republik Palato, akal digunakan untuk mengakali, — „po akaliyali poli sup!“(diakali lagi!) —keadilan menjadi jargon yang dipakai saat kampanye.

Negara ini bukan lagi ruang deliberasi, tapi arena kompetisi siapa paling lihai memoles kebijakan. Rakyat hanya bisa mengeluh: “Moopalato negara ini.”

Republik Palato adalah cermin dari kegagalan kita memahami filsafat negara sebagai proyek etis. Ia bukan sekadar bikin kesal, tapi bikin kita kehilangan harapan.

Di tengah parade kecerdasan yang dipamerkan di layar kaca, kita lupa bahwa negara adalah tentang jiwa yang tertata, bukan hanya otak yang terlatih.

Maka, satire ini bukan sekadar ejekan, tapi panggilan untuk kembali ke filsafat yang membebaskan, bukan yang membingungkan.

Sebab, jika negara terus palato, maka rakyat akan terus mopopalato—dan itu bukan sekadar kesal, tapi luka yang dalam.

coverlagu: Lagu “Hulondalo Lipuu”(Cipt. Umar Djafar; tercatat resmi dalam perlindungan hak cipta menurut Kanwil Kemenkumham Gorontalo) versi violin cover oleh Nasyithah Salsabila (kadang ditulis Natasya Salsabilah) dirilis di YouTube dan platform musik digital sekitar tahun 2022, berdasarkan penelusuran arsip video dan metadata rilisan.

Versi ini merupakan interpretasi instrumental dari lagu daerah Gorontalo yang sangat populer dan penuh makna budaya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share4SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

🚩🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00