Dengarkan Artikel
Oleh ReO Fiksiwan
„Keadilan adalah ketika setiap orang melakukan tugasnya sendiri dan tidak mencampuri urusan orang lain“((Hekastos to heautou prattein kai mē polypragmonein dikaiosynē estin). — Plato(427-347 SM), Republik(Terjemahan 1999).
Plato dalam Republik menulis tentang negara ideal yang dipimpin oleh para filsuf, mereka yang memiliki kecerdasan(νοῦς; nous) sekaligus karakter(ἦθος; ēthos) yang tertata.
Dalam pandangannya, kecerdasan tanpa karakter adalah pedang di tangan anak kecil—tajam, mematikan, tapi tanpa arah moral. Kutipan ini diangkat kembali oleh dr. Roy Massie PhD dari BRIN dalam tulisannya di WAG Ecology Research(23/9/25) yang mengagungkan karakter sebagai fondasi negara timbang kecerdasan.
Ia mengingatkan bahwa negara tidak akan selamat oleh otak yang cemerlang(IQ), melainkan oleh jiwa yang tertata(EQ).
Namun, di tengah semangat filsafat negara ala Plato itu, muncul suara dari Gorontalo yang bikin kita tersentak.
Dr. dr. Nelly Mayulu, asal Gorontalo, ahli gizi dan dosen kedokteran Unsrat, menyela dengan satire khas: “Dokter Roy, kalo torang Palato.” Dalam bahasa Gorontalo, “palato” berarti “bikin kesal.”
Maka lahirlah Republik Palato—republik yang bukan hanya jauh dari ideal Plato, tapi justru bikin rakyat „poopalatolo, mopalato, mopopalato,“ demikian tulis Dr. dr. Nelly.
Republik Palato adalah negara yang menjadikan kebijakan sebagai labirin, bukan jalan keluar.
Di sini, kecerdasan memang ada—dalam bentuk kalkulasi fiskal, strategi politik, dan retorika publik—tapi karakter tertinggal di ruang seminar.
Negara ini dipenuhi oleh para teknokrat yang lihai berhitung tapi gagap berempati.
Mereka bicara tentang pertumbuhan ekonomi sambil menutup mata terhadap harga beras yang melonjak.
📚 Artikel Terkait
Mereka merancang regulasi sambil lupa bahwa rakyat bukan spreadsheet.
Republik Palato adalah tempat di mana filsafat Plato dipelintir menjadi alat legitimasi kekuasaan, bukan refleksi etis.
Romo Franz Magnis-Suseno(89) dalam filsafat politiknya,Etika Politik: Prinsip-Prinsip Moral Dasar Kenegaraan Modern(1987) mengingatkan bahwa negara harus berakar pada etika publik, bukan sekadar efisiensi.
Ia menolak negara yang menjadikan rakyat sebagai objek kebijakan, dan menuntut negara yang mendengarkan suara nurani.
Tapi di Republik Palato, etika publik diganti dengan etika publikasi. Yang penting bukan keadilan, tapi citra. Yang utama bukan kesejahteraan, tapi elektabilitas.
Maka, karakter yang dimaksud Plato berubah menjadi karakter panggung: tersenyum di depan kamera, tapi mengabaikan suara rakyat di belakang layar.
Ibnu Rusyd dalam Republic Plazi (2011), dengan pengantar dari Muhammad Abid Al-Jabiri, mencoba menjembatani filsafat Plato dengan realitas Islam.
Ia menekankan pentingnya akal dan keadilan dalam membangun negara.
Tapi di Republik Palato, akal digunakan untuk mengakali, — „po akaliyali poli sup!“(diakali lagi!) —keadilan menjadi jargon yang dipakai saat kampanye.
Negara ini bukan lagi ruang deliberasi, tapi arena kompetisi siapa paling lihai memoles kebijakan. Rakyat hanya bisa mengeluh: “Moopalato negara ini.”
Republik Palato adalah cermin dari kegagalan kita memahami filsafat negara sebagai proyek etis. Ia bukan sekadar bikin kesal, tapi bikin kita kehilangan harapan.
Di tengah parade kecerdasan yang dipamerkan di layar kaca, kita lupa bahwa negara adalah tentang jiwa yang tertata, bukan hanya otak yang terlatih.
Maka, satire ini bukan sekadar ejekan, tapi panggilan untuk kembali ke filsafat yang membebaskan, bukan yang membingungkan.
Sebab, jika negara terus palato, maka rakyat akan terus mopopalato—dan itu bukan sekadar kesal, tapi luka yang dalam.
coverlagu: Lagu “Hulondalo Lipuu”(Cipt. Umar Djafar; tercatat resmi dalam perlindungan hak cipta menurut Kanwil Kemenkumham Gorontalo) versi violin cover oleh Nasyithah Salsabila (kadang ditulis Natasya Salsabilah) dirilis di YouTube dan platform musik digital sekitar tahun 2022, berdasarkan penelusuran arsip video dan metadata rilisan.
Versi ini merupakan interpretasi instrumental dari lagu daerah Gorontalo yang sangat populer dan penuh makna budaya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





