Dengarkan Artikel
Oleh Juni Ahyar
Untukmu yang duduk sambil diskusi,
dengan kemeja rapi dan safari,
di gedung tinggi bernama DPR,
tempat janji manis menjelma basi.
Wakil rakyat, kata itu mulia,
tapi mulutmu sibuk berkelit,
telingamu lebih peka pada amplop,
daripada jeritan rakyat di pinggir sawah.
Wakil rakyat jangan hanya joget-joget saja,
di pesta politik penuh cahaya,
sementara rakyat antre minyak goreng,
dan petani meratap harga tak sepadan.
Pajakmu ditanggung negara,
tapi rakyatmu kau peras dengan aturan,
seolah kursi empuk itu warisan keluarga,
bukan amanah dari bilik suara.
Sadarlah, gajimu dari rakyat,
bukan dari langit, bukan dari keramat.
Tugasmu bukan jadi kacung pejabat,
atau calo proyek berkedok rakyat.
📚 Artikel Terkait
Di kantong jas dan dompetmu,
terselip masa depan yang kau gadaikan,
anak-anak desa, nelayan, dan petani,
kau biarkan jadi penonton di negeri sendiri.
Saudara dipilih, bukan dilotre,
meski kami tak kenal siapa engkau,
kami tak pernah rela memilih juara diam,
juara he’eh, juara “setuju… setuju…” belaka.
Bicaralah lantang di ruang sidang,
jangan hanya jadi boneka kursi kosong,
atau paduan suara elite pesta,
yang hanya tahu nada: “kami setuju, bos!”
Wakil rakyat seharusnya merakyat,
jangan tidur saat rakyat dibahas,
jangan bisu saat negeri terancam,
jangan tuli pada jerit yang lantang.
Kami tak butuh baliho wajahmu,
kami butuh keberanian sikapmu.
Kami tak butuh safari penuh janji,
kami butuh hati yang tak bisa dibeli.
Untukmu, wakil rakyat yang terhormat,
ingatlah: kursi itu bukan milikmu,
itu titipan suara yang kau bawa,
jangan biarkan ia terkubur
di ruang sidang yang penuh tawa.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





