POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Siswa Naikkan Kaki ke Atas Meja Saat Guru Mengajar: Cermin Krisis Etika di Kelas

RedaksiOleh Redaksi
September 18, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dr. Wijaya Kusuma

Belakangan ini, sebuah video di media sosial menjadi viral. Dalam tayangan singkat tersebut, tampak seorang siswa dengan santai menaikkan kakinya ke atas meja saat guru sedang mengajar di depan kelas. Pemandangan ini sontak menimbulkan reaksi beragam dari masyarakat. Banyak yang merasa prihatin, kecewa, bahkan marah, karena tindakan itu jelas menunjukkan kurangnya etika dan penghormatan terhadap sosok guru.

Fenomena ini seakan menjadi potret nyata bahwa dunia pendidikan kita sedang menghadapi tantangan besar, bukan hanya dalam hal akademik, tetapi juga dalam hal pembentukan karakter.

Mengapa Etika di Kelas Begitu Penting?

Kelas bukan sekadar ruangan empat dinding tempat siswa belajar mata pelajaran. Kelas adalah miniatur kehidupan, tempat anak-anak dilatih untuk menghargai, menghormati, serta membangun interaksi sosial yang sehat. Etika di kelas meliputi sikap sopan santun, penghargaan terhadap guru, serta kepedulian terhadap teman.

Ketika seorang siswa menaikkan kaki ke meja guru, ada banyak pesan negatif yang muncul:

Pertama, kurangnya rasa hormat kepada guru – Guru adalah pendidik dan pembimbing. Menunjukkan sikap seenaknya di depan guru mencerminkan lunturnya nilai penghargaan.

Ke dua, mengganggu wibawa guru – Tugas guru bukan hanya menyampaikan ilmu, tapi juga membentuk karakter. Tindakan tidak sopan bisa membuat otoritas guru dipandang remeh.

Ke tiga, menciptakan suasana belajar tidak kondusif – Siswa lain bisa terdistraksi atau bahkan ikut meniru. Kelas yang seharusnya jadi ruang belajar berubah menjadi tempat yang kurang tertib.

Ke empat, bertentangan dengan budaya lokal – Dalam kultur Indonesia, guru dipandang sebagai sosok yang harus dihormati, bahkan disamakan dengan orang tua. Maka, perilaku seperti ini sangat melukai nilai-nilai luhur bangsa.

Dampak Perilaku Tidak Etis

Bukan hanya sekadar soal kaki di atas meja. Perilaku kecil ini bisa berdampak besar:

Disiplin kelas menurun – Satu sikap yang tidak ditindak bisa menjadi contoh buruk bagi siswa lain.

Relasi guru-siswa terganggu – Guru bisa merasa tidak dihargai, sementara siswa kehilangan rasa respek.

Menurunkan mutu pendidikan – Belajar bukan hanya soal akademik, tapi juga moral. Ketika moral runtuh, ilmu yang diajarkan kehilangan maknanya.

📚 Artikel Terkait

Fir’aun Pun Mati

KEMBALILAH IBU

“Pengkhianatan” Uleebalang terhadap Ulama dan Rakyat Aceh

Berbagi Ilmu Di Masa Pensiun

Merusak citra sekolah – Tindakan tidak sopan bisa mencoreng nama baik sekolah di mata masyarakat.

Peran Guru, Sekolah, dan Orang Tua

Untuk mencegah peristiwa serupa, ada beberapa hal yang perlu diperkuat:

Guru bersikap tegas namun bijaksana – Setiap perilaku tidak pantas harus ditindak secara mendidik.

Sekolah memasukkan pendidikan karakter dalam kurikulum – Sopan santun, etika, dan budi pekerti harus mendapat porsi yang seimbang dengan pelajaran akademik.

Orang tua menanamkan nilai di rumah – Karakter anak dibentuk pertama kali di rumah. Tanpa dukungan keluarga, sekolah akan kesulitan membangun sikap hormat anak.

Dialog terbuka dengan siswa – Anak perlu diberi pemahaman mengapa sikap tertentu tidak pantas, bukan hanya dihukum tanpa penjelasan.

Pendidikan Sejati Memanusiakan Manusia

Saya Dr. Wijaya Kusumah, M.Pd. atau yang akrab disapa Omjay, Guru Blogger Indonesia, memberikan pandangan mendalam tentang kasus ini sebagai berikut.

> “Guru adalah orang tua kedua di sekolah. Kalau siswa sudah berani menaikkan kaki ke meja guru, berarti ada yang keliru dalam pembentukan karakter. Pendidikan sejati bukan hanya membuat anak pintar, tapi juga memanusiakan manusia. Tugas kita bersama—guru, orang tua, dan masyarakat—adalah mengembalikan makna sejati pendidikan, yaitu membangun anak-anak berakhlak mulia.”

Ini seakan menjadi pengingat keras bahwa masalah etika bukan sekadar tanggung jawab guru seorang diri. Pendidikan adalah kerja kolaborasi. Jika orang tua hanya menyerahkan anak ke sekolah tanpa membekali nilai-nilai dasar di rumah, maka sekolah akan kewalahan.

Menatap ke Depan: Pendidikan Berbasis Karakter

Pendidikan Indonesia saat ini sudah banyak berbicara tentang Merdeka Belajar dan pembelajaran berbasis kompetensi. Namun, tanpa pondasi karakter, semua inovasi akan rapuh. Kasus siswa menaikkan kaki ke meja guru harus dijadikan refleksi bersama: apakah kita sudah cukup serius menanamkan nilai-nilai moral pada anak-anak kita?

Kita tidak bisa menutup mata bahwa generasi muda hidup di era serba bebas. Informasi deras, budaya asing mudah masuk, dan kontrol sosial semakin longgar. Justru di sinilah peran pendidikan berbasis karakter menjadi penting. Guru harus tetap berwibawa, orang tua harus konsisten, dan lingkungan harus mendukung tumbuhnya etika yang baik.

Penutup

Video siswa menaikkan kaki ke meja guru bukan sekadar viral sesaat. Itu adalah cermin masalah mendalam dalam dunia pendidikan kita. Etika dan karakter harus kembali menjadi pondasi utama.

Pendidikan yang berhasil bukan hanya melahirkan anak-anak pintar berhitung dan berteori, tetapi juga generasi yang tahu sopan santun, menghargai guru, serta memiliki akhlak yang baik. Karena seperti kata pepatah, ilmu tanpa adab bagaikan api tanpa cahaya.

Semoga kejadian ini menjadi pengingat untuk kita semua agar pendidikan Indonesia benar-benar melahirkan manusia yang berkarakter mulia.

Siswa naikkan kaki ke atas meja saat guru mengajar dan tidak ada etikanya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Pembelajaran Mendalam: Idealitas Kebijakan atau Retorika Pendidikan?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00