Dengarkan Artikel
Ketika Asesmen Justru Menghambat Pembelajaran
Oleh: RIZAL, S.Pd., M.TESOL
Ketua IGI Kabupaten Aceh Selatan Pengurus Aceh Australia Alumni (AAA)
Dalam dunia pendidikan, asesmen atau penilaian untuk mengukur ketercapaian telah menjadi bagian tak terpisahkan dari proses belajar mengajar. Dari ujian harian hingga ujian akhir semester, asesmen dianggap sebagai alat untuk mengukur capaian belajar siswa. Namun, pernahkah kita menyadari bahwa tidak semua bentuk asesmen berdampak positif terhadap pembelajaran?
Justru, dalam banyak kasus, asesmen bisa memberikan efek negatif yang menghambat perkembangan siswa . Fenomena ini dikenal dengan istilah negative washback.
Apa Itu Negative Washback?
Secara sederhana, washback adalah dampak dari asesmen terhadap proses pembelajaran dan pengajaran. Jika asesmen mendorong pembelajaran yang bermakna, maka kita menyebutnya positive washback. Sebaliknya, negative washback terjadi ketika asesmen menimbulkan tekanan, kecemasan, pembelajaran yang tidak relevan, atau bahkan menurunkan semangat belajar siswa.
Fenomena ini bukan sekadar istilah akademis. Di ruang-ruang kelas, kita sering menjumpai bentuk nyata dari negative washback: siswa yang hanya belajar untuk lulus ujian, guru yang terpaksa “mengajar demi ujian”, dan kurikulum yang tereduksi menjadi sekadar kumpulan soal latihan. Apakah ini yang kitaharapkan dari proses pendidikan?
Contoh Nyata di Sekolah
Mari kita bayangkan situasi yang akrab kita jumpai di sekolah.Misal seorang guru Bahasa Inggris mempersiapkan siswanya untuk menghadapi ujian akhir. Alih-alih melatih keterampilan berbicara dan menulis, seluruh waktu dihabiskan untuk mengerjakan soal pilihan ganda dan membahas tips mengerjakan soal reading comprehension. Akibatnya, siswa menjadi mahir menghafal strategi menjawab soal, namun lemah dalam kemampuan komunikasi nyata dalam bahasa Inggris.
Contoh di atas menunjukkan betapa asesmen yang tidak dirancang dengan bijak bisa mengarahkan pembelajaran ke jalur yang keliru. Fokus utama menjadi “lulus ujian”, bukan”menguasai kompetensi” yang diharapkan.
Mengapa Negative Washback Terjadi?
Negative washback sering muncul dalam proses pembelajaran, terutama ketika penilaian lebih berfokus pada hasil akhir dibandingkan proses belajar. Salah satu penyebab utamanya adalah fokus berlebihan pada ujian. Ketika asesmen hanya dipandang sebagai alat untuk menentukan kelulusan atau seleksi, siswa cenderung belajar hanya demi nilai. Pemahaman yang mendalam menjadi terpinggirkan, dan tujuan asli dari pembelajaran tidak tercapai.
Selain itu, asesmen yang tidak selaras dengan tujuan pembelajaran juga memicu masalah. Misalnya, jika tujuan pembelajaran menekankan keterampilan berpikir kritis, namun asesmen yang digunakan hanya soal pilihan ganda dengan jawaban faktual, maka siswa tidak terdorong untuk berpikir secara mendalam. Akibatnya, keterampilan yang sebenarnya diharapkan tidak berkembang dengan optimal.
📚 Artikel Terkait
Tekanan dari sistem pendidikan pun turut memperburuk keadaan. Tuntutan nilai tinggi dari pihak sekolah, orang tua, bahkan pemerintah sering membuat guru terjebak untuk“bermain aman”. Mereka lebih memilih mengajarkan materi yang dianggap paling mungkin keluar di ujian dari pada memberi kesempatan siswa mengasah keterampilan lain yang lebih bermakna.
Di samping itu, kebiasaan mengajar yang terjebak dalam rutinitas juga bisa menjadi pemicu. Guru yang sudah merasa nyaman dengan metode lama cenderung sulit beralih pada pendekatan baru. Padahal, meskipun metode lama mungkin efektif dalam meningkatkan nilai ujian, sering kali metod etersebut tidak benar-benar membantu perkembanga nketerampilan siswa secara menyeluruh.
Dampak Negatif pada Siswa dan Guru
Negative washback tidak hanya memberikan dampak negatif bagi siswa, tetapi juga berpengaruh terhadap guru serta keseluruhan ekosistem pendidikan. Bagi siswa, kondisi ini membuat mereka kurang termotivasi untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Sebagian besar energi mereka tercurah pada upaya menghadapi ujian, sehingga muncul kecemasan yang berlebihan menjelang hari pelaksanaan.
Akibatnya, siswa cenderung hanya menguasai materi secara dangkal atau sekadar hafalan, bukan pemahaman yang mendalam.
Bagi guru, negative washback membuat proses mengajar terasa monoton dan terbatas. Tugas mengajar sering kali berfokus pada prediksi soal ujian, bukan pengembangan keterampilan atau pengayaan pengalaman belajar. Hal ini membuat kreativitas guru dalam menyusun strategi pembelajaran menjadi terhambat, sehingga aktivitas belajar di kelas kehilangan keanekaragaman dan inovasi.
Pada lingkup yang lebih luas, dampak negative washback merusak makna sejati dari pendidikan. Seharusnya, pendidikan berfungsi sebagai sarana untuk mengembangkan potensi manusia secara komprehensif. Namun, ketika orientasi hanya tertuju pada angka-angka atau capaian ujian, esensi tersebut bergeser.
Pendidikan pun berubah menjadi sekadar perburuan nilai, bukan lagi proses untuk membentuk pribadi yang berpikir kritis, mandiri, dan berkarakter.
Strategi Menghindari Negative Washback
Sebagai guru, kita memiliki peran penting dalam mencegah terjadinya negative washback dalam pembelajaran. Salah satu langkah awal yang dapat dilakukan adalah menyelaraskan asesmen dengan tujuan pembelajaran. Asesmen seharusnya menjadi cerminan dari keterampilan dan kompetensi yang ingin dicapai. Jika tujuan pembelajaran menekankan kemampuan berpikir kritis, maka bentuk asesmen pun harus mendorong siswa untuk menganalisis, mengevaluasi, dan menciptakan solusi, bukan sekadar menghafal.
Selain itu, penting bagi guru untuk menggunakan beragam bentuk asesmen. Ketika hanya terpaku pada satu jenis penilaian, siswa cenderung terbatas dalam menunjukkan kemampuan mereka. Dengan mengombinasikan asesmen formatif, sumatif, kinerja (performance-based), portofolio, dan reflektif, siswa diberi ruang yang lebih luas untuk menunjukkan potensi mereka secara holistik.
Strategi lainnya adalah melibatkan siswa dalam proses penilaian. Memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan self-assessment maupun peer assessment dapat meningkatkan tanggung jawab terhadap proses belajar. Dengan cara ini, tekanan dari asesmen eksternal juga berkurang, karena siswa merasa lebih terlibat secara aktif dalam penilaian.
Tidak kalah penting, guru juga perlu menciptakan budaya belajar yang positif di kelas. Lingkungan belajar sebaiknya mendukung siswa untuk berani mencoba, di mana kesalahan dianggap sebagai bagian dari proses pembelajaran, bukan sesuatu yang menakutkan. Dengan demikian, asesmen tidak lagi dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai sarana belajar.
Terakhir, guru harus secara berkala mengkaji ulang instrumen penilaian yang digunakan. Refleksi kritis terhadap soal-soal yang dibuat perlu dilakukan, misalnya dengan menanyakan: apakah soal hanya menguji daya ingat, atau sudah menilai pemahaman dan penerapan? Apakah soal mendorong siswa untuk memperluas wawasan mereka? Jika jawabannya belum, maka inilah saatnya bagi guru untuk berbenah dan memperbaiki sistem asesmen agar semakin bermakna bagi pembelajaran.
Asesmen yang Mendidik, Bukan Menakutkan
Asesmen seharusnya menjadi alat yang mendidik, bukan menakutkan. Ia bisa menjadi cermin bagi guru dan siswa untuk melihat sejauh mana proses belajar telah berlangsung. Dengan merancang asesmen yang tepat, kita dapat menciptakan positive washback, yakni ketika asesmen justru memotivasi siswa untuk belajar lebih baik dan mendorong guru untuk mengajar lebih kreatif.
Sebagai penutup, mari kita renungkan: Apakah asesmen yang selama ini kita berikan telah membawa dampak positif bagipembelajaran siswa? Ataukah justru sebaliknya?
Saatnya kita mengembalikan fungsi asesmen ke tempat yang seharusnya bukan sebagai ujung tombak penilaian, tetapi sebagai jembatan menuju pembelajaran yang bermakna.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





