Dengarkan Artikel
Oleh Tuan Remigius
Kami anak-anak negeri tapal batas,
di garis senyap antara merah putih dan bendera asing,
jauh dari ibu kota negeri sendiri,
namun dekat dengan ibu kota negara lain.
Presiden kami hanya hadir lewat layar kaca,
suaranya menggema tapi tak pernah terasa hangat di udara desa,
sementara presiden tetangga kadang singgah,
sekadar makan siang di warung kecil dekat rumah.
Kami bukan anak asing, kami anak NKRI,
darah kami mengalir merah sama,
napas kami berhembus dengan sumpah yang sama:
Indonesia tanah air beta.
📚 Artikel Terkait
Jangan jauhkan kami dengan ketidakadilan,
dengan wajah Jawa-sentris yang membelah hati kami.
Datanglah, walau hanya sejenak,
lambaikan tanganmu, biar kami tahu
kami ini masih dipeluk negeri sendiri.
Kami rindu ruang kelas yang tak lagi reyot,
papan tulis yang tak lagi retak,
bangku yang sama layaknya dengan saudara kami
di Jawa, di Sumatra, di kota-kota besar negeri ini.
Kami sering melihat anak-anak negeri sebelah
berjalan dengan seragam baru, fasilitas mewah,
sementara kami hanya menatap dari jauh,
menyimpan tanya dalam dada kecil:
“Apakah kami kurang Indonesia?”
Kami anak-anak tapal batas,
tak pernah lelah mencinta NKRI.
Kami berdiri di ujung negeri
sebagai benteng kecil yang setia.
Hanya satu pinta kami:
Jangan biarkan cinta kami retak
oleh jarak, oleh lupa, oleh ketidakpedulian.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






