POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Munculnya Kelas Baru Prekariat

RedaksiOleh Redaksi
September 11, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh ReO Fiksiwan

„The precariat is the new dangerous class.“ — Guy Standing(77), The Precariat: The New Dangerous Class(2011).

Dalam perkembangan sosial kontemporer yang ditandai oleh meluasnya aksi protes dan ketidakstabilan politik — seperti yang disoroti oleh Denny JA dalam artikelnya „Meluasnya Aksi Protes dan Munculnya Kelas Baru yang Rawan“ — kita menyaksikan kemunculan sebuah kelas sosial baru yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kerangka klasik borjuis-proletariat.

Kelas ini adalah prekariat—sebuah kelompok yang hidup dalam ketidakpastian kerja, identitas, dan masa depan.

Mereka bukan borjuis yang memiliki alat produksi, bukan pula proletariat yang stabil dalam relasi kerja.

Mereka adalah pekerja kontrak, freelancer, buruh informal, lulusan perguruan tinggi yang menganggur, dan migran yang terjebak dalam sistem kerja fleksibel tanpa jaminan sosial.

Dalam teori kelas sosial klasik, Karl Marx lazim diacu dalam Das Kapital membagi masyarakat kapitalis ke dalam dua kutub utama: borjuis sebagai pemilik modal dan alat produksi, dan proletariat sebagai kelas pekerja yang menjual tenaga kerja demi upah.

Relasi antara keduanya bersifat antagonistik, dan kesadaran kelas menjadi kunci dalam perjuangan kelas menuju transformasi sosial.

Namun, prekariat tidak sepenuhnya masuk dalam kategori proletariat karena mereka tidak memiliki stabilitas kerja, tidak terorganisir dalam serikat, dan sering kali tidak memiliki kesadaran kelas yang terarah.

Mereka hidup dalam fragmen sosial yang tercerai, terjebak dalam sistem meritokrasi palsu dan janji mobilitas sosial yang tak kunjung tiba.

Ralph Dahrendorf(1929-2008) dalam mengkritik pandangan Marx yang terlalu menekankan konflik ekonomi dan menawarkan pendekatan konflik sosial yang lebih luas.

Menurutnya, konflik tidak hanya terjadi antara kelas ekonomi, tetapi juga dalam struktur otoritas dan peran sosial.

Lanjut ia katakan dalam Class and Class Conflict in Industrial Society(1959; Terjemahan, 1986): „Konflik kelas bukanlah peninggalan masa lalu, tetapi merupakan ciri permanen masyarakat modern.”

📚 Artikel Terkait

Mendapat Emas di Musim PILKADA 2024

Sisi Humor Donald Trump: Lebih dari Sekadar Kontroversi

Majalah POTRET Gelar Lomba Menulis Essai Se-Aceh

Meraih Mimpi

Prekariat adalah manifestasi dari konflik baru ini—mereka tidak hanya mengalami eksploitasi ekonomi, tetapi juga alienasi sosial dan politik.

Mereka tidak memiliki suara dalam pengambilan keputusan, dan sering kali menjadi objek kebijakan, bukan subjek yang menentukan arah perubahan.

Sementara Georg Lukacs(1885-1971), dalam History and Class Consciousness(1923; Terjemahan, 2012), menyoroti pentingnya kesadaran kelas sebagai bentuk refleksi terhadap posisi sosial dalam struktur kapitalisme. Namun, prekariat hidup dalam kabut kesadaran yang terfragmentasi.

Mereka tahu bahwa sistem tidak adil, tetapi tidak memiliki alat analisis atau organisasi untuk mengartikulasikan ketidakadilan itu secara kolektif.

Mereka terjebak dalam individualisme neoliberal, di mana kegagalan dianggap sebagai tanggung jawab pribadi, bukan sebagai akibat dari struktur sosial yang timpang.

Demikian hal sosiolog Jerman mutakhir, Ulrich Beck(1944-2015), dalam Risikogesellschaft: Auf dem Weg in eine andere Moderne(1986; Terjemahan, 2015), menunjukkan bahwa masyarakat modern tidak lagi dibagi berdasarkan distribusi kekayaan, tetapi berdasarkan distribusi risiko.

Prekariat adalah kelas yang paling rentan terhadap risiko: kehilangan pekerjaan, tidak memiliki akses kesehatan, pendidikan, dan keamanan sosial.

Mereka hidup dalam ketidakpastian yang terus-menerus, dan ketidakpastian itu menjadi sumber kecemasan kolektif yang mudah meledak dalam bentuk protes, populisme, atau bahkan radikalisasi.
Guy Standing, seperti dikutip Denny menyebut: prekariat sebagai kelas baru yang rawan sekaligus ancaman.

Bukan karena mereka secara inheren berbahaya, tetapi karena ketidakpastian yang mereka alami dapat menjadi bahan bakar bagi ketidakstabilan sosial.

Tanpa jaminan, tanpa identitas yang jelas, dan tanpa representasi politik, prekariat bisa menjadi kekuatan destruktif jika tidak diberi ruang untuk artikulasi dan pemberdayaan.

Solusinya bukan sekadar bantuan sosial atau pelatihan kerja, tetapi penciptaan sistem baru yang mengakui keberadaan mereka sebagai kelas sosial yang sah.

Ini mencakup jaminan pendapatan dasar, hak kerja yang adil, akses terhadap pendidikan dan kesehatan, serta ruang politik untuk menyuarakan aspirasi mereka.

Munculnya kelas baru prekariat menantang kita untuk merevisi teori kelas klasik dan membuka ruang bagi analisis baru yang lebih kompleks dan reflektif.

Mereka bukan sekadar korban dari sistem, tetapi juga cermin dari kegagalan kita memahami perubahan struktur sosial dalam era globalisasi dan digitalisasi.

Jika tidak direspons dengan kesadaran kolektif dan kebijakan yang transformatif, prekariat akan terus menjadi kelas yang rawan—dan dalam kerawanan itu, benih-benih konflik sosial akan terus tumbuh. Kapan saja dan berpotensi meledak.

coversongs: Lagu “Revolution” oleh The Beatles dirilis pada tahun 1968. Tapi menariknya, ada tiga versi berbeda dari lagu ini yang muncul dalam konteks berbeda: Revolution (Single; Side B single Hey Jude); Revolution 1, 9(White Album).

Lagu ini ditulis oleh John Lennon, dan mencerminkan pandangannya terhadap perubahan sosial dan politik di akhir 1960-an. Versi singel lebih “garang” dan langsung, sementara versi album lebih kontemplatif dan eksperimental.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Untaian Puisi-Puisi Dzakwan Ali 

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00