Dengarkan Artikel
Oleh ReO Fiksiwan
„The precariat is the new dangerous class.“ — Guy Standing(77), The Precariat: The New Dangerous Class(2011).
Dalam perkembangan sosial kontemporer yang ditandai oleh meluasnya aksi protes dan ketidakstabilan politik — seperti yang disoroti oleh Denny JA dalam artikelnya „Meluasnya Aksi Protes dan Munculnya Kelas Baru yang Rawan“ — kita menyaksikan kemunculan sebuah kelas sosial baru yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh kerangka klasik borjuis-proletariat.
Kelas ini adalah prekariat—sebuah kelompok yang hidup dalam ketidakpastian kerja, identitas, dan masa depan.
Mereka bukan borjuis yang memiliki alat produksi, bukan pula proletariat yang stabil dalam relasi kerja.
Mereka adalah pekerja kontrak, freelancer, buruh informal, lulusan perguruan tinggi yang menganggur, dan migran yang terjebak dalam sistem kerja fleksibel tanpa jaminan sosial.
Dalam teori kelas sosial klasik, Karl Marx lazim diacu dalam Das Kapital membagi masyarakat kapitalis ke dalam dua kutub utama: borjuis sebagai pemilik modal dan alat produksi, dan proletariat sebagai kelas pekerja yang menjual tenaga kerja demi upah.
Relasi antara keduanya bersifat antagonistik, dan kesadaran kelas menjadi kunci dalam perjuangan kelas menuju transformasi sosial.
Namun, prekariat tidak sepenuhnya masuk dalam kategori proletariat karena mereka tidak memiliki stabilitas kerja, tidak terorganisir dalam serikat, dan sering kali tidak memiliki kesadaran kelas yang terarah.
Mereka hidup dalam fragmen sosial yang tercerai, terjebak dalam sistem meritokrasi palsu dan janji mobilitas sosial yang tak kunjung tiba.
Ralph Dahrendorf(1929-2008) dalam mengkritik pandangan Marx yang terlalu menekankan konflik ekonomi dan menawarkan pendekatan konflik sosial yang lebih luas.
Menurutnya, konflik tidak hanya terjadi antara kelas ekonomi, tetapi juga dalam struktur otoritas dan peran sosial.
Lanjut ia katakan dalam Class and Class Conflict in Industrial Society(1959; Terjemahan, 1986): „Konflik kelas bukanlah peninggalan masa lalu, tetapi merupakan ciri permanen masyarakat modern.”
📚 Artikel Terkait
Prekariat adalah manifestasi dari konflik baru ini—mereka tidak hanya mengalami eksploitasi ekonomi, tetapi juga alienasi sosial dan politik.
Mereka tidak memiliki suara dalam pengambilan keputusan, dan sering kali menjadi objek kebijakan, bukan subjek yang menentukan arah perubahan.
Sementara Georg Lukacs(1885-1971), dalam History and Class Consciousness(1923; Terjemahan, 2012), menyoroti pentingnya kesadaran kelas sebagai bentuk refleksi terhadap posisi sosial dalam struktur kapitalisme. Namun, prekariat hidup dalam kabut kesadaran yang terfragmentasi.
Mereka tahu bahwa sistem tidak adil, tetapi tidak memiliki alat analisis atau organisasi untuk mengartikulasikan ketidakadilan itu secara kolektif.
Mereka terjebak dalam individualisme neoliberal, di mana kegagalan dianggap sebagai tanggung jawab pribadi, bukan sebagai akibat dari struktur sosial yang timpang.
Demikian hal sosiolog Jerman mutakhir, Ulrich Beck(1944-2015), dalam Risikogesellschaft: Auf dem Weg in eine andere Moderne(1986; Terjemahan, 2015), menunjukkan bahwa masyarakat modern tidak lagi dibagi berdasarkan distribusi kekayaan, tetapi berdasarkan distribusi risiko.
Prekariat adalah kelas yang paling rentan terhadap risiko: kehilangan pekerjaan, tidak memiliki akses kesehatan, pendidikan, dan keamanan sosial.
Mereka hidup dalam ketidakpastian yang terus-menerus, dan ketidakpastian itu menjadi sumber kecemasan kolektif yang mudah meledak dalam bentuk protes, populisme, atau bahkan radikalisasi.
Guy Standing, seperti dikutip Denny menyebut: prekariat sebagai kelas baru yang rawan sekaligus ancaman.
Bukan karena mereka secara inheren berbahaya, tetapi karena ketidakpastian yang mereka alami dapat menjadi bahan bakar bagi ketidakstabilan sosial.
Tanpa jaminan, tanpa identitas yang jelas, dan tanpa representasi politik, prekariat bisa menjadi kekuatan destruktif jika tidak diberi ruang untuk artikulasi dan pemberdayaan.
Solusinya bukan sekadar bantuan sosial atau pelatihan kerja, tetapi penciptaan sistem baru yang mengakui keberadaan mereka sebagai kelas sosial yang sah.
Ini mencakup jaminan pendapatan dasar, hak kerja yang adil, akses terhadap pendidikan dan kesehatan, serta ruang politik untuk menyuarakan aspirasi mereka.
Munculnya kelas baru prekariat menantang kita untuk merevisi teori kelas klasik dan membuka ruang bagi analisis baru yang lebih kompleks dan reflektif.
Mereka bukan sekadar korban dari sistem, tetapi juga cermin dari kegagalan kita memahami perubahan struktur sosial dalam era globalisasi dan digitalisasi.
Jika tidak direspons dengan kesadaran kolektif dan kebijakan yang transformatif, prekariat akan terus menjadi kelas yang rawan—dan dalam kerawanan itu, benih-benih konflik sosial akan terus tumbuh. Kapan saja dan berpotensi meledak.
coversongs: Lagu “Revolution” oleh The Beatles dirilis pada tahun 1968. Tapi menariknya, ada tiga versi berbeda dari lagu ini yang muncul dalam konteks berbeda: Revolution (Single; Side B single Hey Jude); Revolution 1, 9(White Album).
Lagu ini ditulis oleh John Lennon, dan mencerminkan pandangannya terhadap perubahan sosial dan politik di akhir 1960-an. Versi singel lebih “garang” dan langsung, sementara versi album lebih kontemplatif dan eksperimental.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






