POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Kritik Bentuk Peduli, Bukan Menghakimi

Siti HajarOleh Siti Hajar
September 11, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Siti Hajar

Aku pernah menulis bahwa kritik bukanlah cemoohan, melainkan bentuk kepedulian. Kritik adalah bahan bakar yang membuat bangsa tetap bergerak, tetap mawas diri, dan tidak larut dalam kesombongan kekuasaan. Tanpa kritik, pemimpin mudah terperangkap dalam ilusi, merasa selalu benar, dan menutup telinga terhadap jeritan rakyatnya.

Akhir Agustus 2025 menjadi saksi, bagaimana kritik itu akhirnya membanjiri jalanan. Jakarta dan sejumlah provinsi lain berguncang oleh demonstrasi besar-besaran. Ribuan mahasiswa, buruh, petani, pelajar, bahkan ibu-ibu rumah tangga bersatu dalam lautan massa. Mereka datang dengan satu suara: pemerintah harus kembali berpihak pada rakyat. Tidak ada lagi ruang bagi pemimpin yang hanya sibuk menumpuk privilese dan melupakan tugas utamanya: melayani.

Pemandangan itu menyentak nurani kita semua. Jalan protokol yang biasanya dipenuhi kendaraan, hari itu dipenuhi poster, spanduk, dan teriakan. Suara mereka keras, tapi bukan sekadar amarah kosong. Itu jeritan panjang yang dipupuk bertahun-tahun oleh rasa ketidakadilan. 

Harga kebutuhan pokok yang semakin mahal, akses pendidikan yang kian terbatas, lapangan kerja yang tak kunjung jelas, dan jurang kesenjangan yang semakin lebar. Semua itu menumpuk, lalu pecah dalam gelombang protes yang tak terbendung.

Ironisnya, alih-alih mendengar, pemerintah justru memilih jalan represi. Aparat dikerahkan dalam jumlah besar. Gas air mata ditembakkan ke arah kerumunan. Penangkapan dilakukan terhadap para pengunjuk rasa. Lebih menyakitkan lagi, suara rakyat itu dicap sebagai tindakan pengkhianatan terhadap negara. Sejak kapan rakyat yang mengingatkan pemimpinnya dianggap musuh bangsa? 

Sejak kapan kritik, yang seharusnya menjadi vitamin bagi demokrasi, justru diperlakukan sebagai penyakit berbahaya?

Rakyat tentu tidak buta. Mereka tahu, di balik panggung politik, para pemimpin asyik dengan fasilitas dan tunjangan yang fantastis. Isu mengenai gaji dan berbagai tambahan bagi wakil rakyat menjadi bahan bakar yang menyulut api protes lebih besar. 

Bagaimana mungkin para pejabat bicara soal penghematan, sementara gaya hidup mereka menunjukkan sebaliknya? Ketika rakyat dipaksa menahan lapar, mengencangkan ikat pinggang, mereka justru hidup di dalam kelimpahan.

📚 Artikel Terkait

PANDEMI

Kualitas Pendidikan Aceh, Rendah?

Kolabarasi Fakultas Bahasa dan Seni UNP Dengan IMLF Dalam Sebuah Panggung Pertunjukan

Sampah Bisa Hidup?

Korupsi pun belum sirna. Nyaris di setiap instansi publik, praktik kotor itu terus berulang. Penegakan hukum tampak hanya sebagai formalitas. 

Pelaku korupsi diproses seadanya, divonis ringan, dan anehnya, banyak yang tetap bisa berkeliaran dengan bebas. Sementara rakyat kecil yang melakukan pelanggaran demi bertahan hidup, justru dihukum dengan keras. Bukankah ini ironi yang menyayat hati?

Di sinilah kritik menemukan maknanya yang paling mendasar. Demonstrasi besar-besaran ini bukan sekadar amarah jalanan. Itu adalah panggilan nurani. Rakyat berteriak karena mereka masih peduli. Mereka masih menaruh harapan bahwa pemimpinnya bisa berubah. Jika rakyat sudah apatis, jika kritik tak lagi ada, itu justru lebih berbahaya. Itu tanda bangsa ini sedang mati pelan-pelan.

Sayangnya, pemimpin kita sering kali gagal memahami hal itu. Kritik dianggap sebagai serangan. Kritik dianggap sebagai upaya menjatuhkan. Padahal, bukankah lebih berbahaya jika rakyat hanya diam, membiarkan para pemimpin terus salah arah, tanpa ada yang mengingatkan? 

Demokrasi bukan hanya tentang pemilu lima tahun sekali. Demokrasi adalah keberanian rakyat untuk bersuara, setiap kali merasa diperlakukan tidak adil.

Demonstrasi yang mengguncang Jakarta dan berbagai kota di Indonesia pada akhir Agustus lalu hingga kini adalah alarm keras. Alarm yang berbunyi lantang, memberi tanda bahwa ada yang salah. Jika alarm itu diabaikan, jangan salahkan rakyat bila kelak mereka kehilangan kesabaran.

Namun, demonstrasi kali ini meninggalkan jejak berbeda yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Indonesia. Beberapa rumah anggota dewan dijarah massa, sebuah tindakan ekstrem yang mencerminkan amarah rakyat sudah melampaui batas kesabaran. Jika dulu protes masih berupa orasi, spanduk, atau blokade jalan, maka kali ini kemarahan rakyat meledak dalam bentuk yang lebih destruktif. Mengapa demikian? Karena rakyat merasa kritik yang disampaikan bertahun-tahun hanya berakhir menjadi gema di ruang kosong. 

Tidak ada perbaikan nyata, tidak ada jawaban yang tulus daripara wakil rakyat. Aksi penjarahan itu, meski tidak dapat dibenarkan secara hukum, menjadi simbol putusnya kepercayaan publik terhadap lembaga legislatif. Rakyat seolah ingin berteriak: bila rumah rakyat tak lagi berpihak pada kami, maka rumah pribadi para wakil itu pun tidak lagi layak dihormati.

Tentu saja, ini tidak bisa ditolerir dan harus menjadi pelajaran. Bagaimanapun juga, menyampaikan kritik tetap ada etikanya. Protes harus menjadi jalan untuk memperbaiki, bukan menghancurkan. Rakyat boleh marah, boleh kecewa, tapi jangan sampai kehilangan arah. Karena pada akhirnya, kekuatan kritik sejati bukan terletak pada amarah yang meledak-ledak, melainkan pada konsistensi menjaga nurani dan akal sehat agar perubahan bisa benar-benar terjadi.

Kritik adalah nafas demokrasi. Ia bukan racun, melainkan obat. Ia bukan tanda benci, melainkan tanda cinta. Cinta pada negeri ini, agar tidak tenggelam oleh keserakahan segelintir orang.

Jika pemerintah memilih tuli, jika kritik tetap dianggap musuh, maka sejarah akan mencatat: mereka jatuh bukan karena rakyat berhenti peduli, melainkan karena mereka menolak mendengar.

Kritik Tanda Peduli, Jangan Menghakimi. Merdeka![]

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Siti Hajar

Siti Hajar

Siti Hajar adalah seorang perempuan lahir di Sigli pada 17 Desember. Saat ini tinggal di Banda Aceh dan bekerja sebagai tenaga kependidikan di Fakultas Pertanian USK. Menggemari dunia literasi karena baginya menulis adalah terapi dan cara berbagi pengalaman. Beberapa buku yang sudah cetak, di antaranya kumpulan cerpen, “Kisah Gampong Meurandeh” Novel, Sophia dan Ahmadi, Patok Penghalang Cinta, Beberapa novel anak, di antaranya The Spirit of Zahra, Mencari Medali yang Hilang, Petualangan Hana dan Hani. Ophila si Care Taker. Dan buku Non Fiksi, Empati Dalam Dunia Kerja (Bagaimana Menjadi Bos dan karyawan yang Elegan) Ingin berkomunikasi lebih lanjut bisa menghubungi nomor WhatsApp 085260512648. Email: sthajarkembar@gmail.com

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Munculnya Kelas Baru Prekariat

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00