Dengarkan Artikel
Oleh Dayan Abdurrahman
Belum lama ini, saya menerima kabar yang menggembirakan: anak gadis pertama saya menamatkan pendidikannya dengan predikat cum laude, sebuah prestasi akademik yang sangat baik. Secara terminologi, cum laude berasal dari bahasa Latin yang berarti “dengan pujian”, menandakan bahwa seorang lulusan tidak hanya lulus, tetapi berhasil menorehkan kualitas akademik luar biasa, mencerminkan dedikasi, konsistensi, dan penguasaan ilmu yang menonjol. Momen ini mengundang refleksi, terutama ketika kita melihat pendidikan dalam skala yang lebih luas: lokal, nasional, dan global.
Di lingkungan fakultas atau jurusan tertentu, istilah seperti “download” atau sebutan prestasi anak-anak pintar sering terdengar. Mendengar hal ini, kita secara naluriah mengaitkannya dengan kualitas anak tersebut: sangat cerdas, seimbang, dan berbakat. Namun, ketika menilik konteks nasional atau global, realitasnya menjadi berbeda. Standar kualitas pendidikan di Indonesia, walaupun menghasilkan individu-individu unggul secara lokal, belum selalu mampu bersaing di tingkat internasional. Misalnya, ketika membuka situs peringkat universitas dunia, kita dapat melihat bahwa universitas-universitas terbaik di Indonesia masih berada pada peringkat 500–1.000, sedangkan universitas terkemuka di Asia dan dunia menempati peringkat jauh lebih tinggi. Bahkan universitas unggulan di Aceh atau di daerah lain di Indonesia—misalnya Universitas Syiah Kuala—belum mampu menembus peringkat elit regional Asia, apalagi global.
Fenomena ini menunjukkan bahwa prestasi akademik lokal, seperti cum laude, meskipun membanggakan, perlu ditempatkan dalam perspektif yang lebih luas. Tidak dimaksudkan untuk meremehkan keberhasilan individu, tetapi untuk menekankan pentingnya korelasi antara prestasi lokal dengan standar kualitas dunia. Dunia pendidikan modern tidak hanya menilai kemampuan akademik melalui nilai atau IPK semata. Terdapat berbagai indikator global: hasil tes internasional, program internasional, publikasi penelitian di platform terindeks internasional, dan kualitas karya ilmiah yang dapat diakses di level nasional maupun global. Semua ini menjadi tolok ukur bagaimana lulusan suatu institusi mampu bersaing dan relevan di dunia internasional.
Dalam konteks ini, predikat cum laude di tingkat lokal atau regional harus dipahami sebagai pencapaian awal, bukan akhir. Di satu sisi, predikat ini menunjukkan dedikasi, kemampuan belajar, dan integritas akademik. Di sisi lain, pendidikan tinggi seharusnya membekali lulusan dengan kompetensi yang bisa diterima di panggung dunia—baik dalam konteks penelitian, inovasi, maupun dunia kerja. Jika lulusan hanya unggul di level lokal, tetapi output pendidikan tidak berpengaruh pada masyarakat atau pembangunan nasional, maka efektivitas pendidikan menjadi pertanyaan serius.
📚 Artikel Terkait
Konsep komloud, yang sering diasosiasikan dengan platform digital dan pembelajaran berbasis teknologi, menjadi relevan di sini. Kumloud dapat dimaknai sebagai simbol integrasi antara pengetahuan lokal dan wawasan global, di mana pendidikan tidak hanya menekankan kemampuan akademik tetapi juga kreativitas, kolaborasi, dan kemampuan beradaptasi dengan standar global. Pendidikan yang unggul adalah pendidikan yang tidak hanya menghasilkan cum laude lokal, tetapi lulusan yang memiliki relevansi dan daya saing di kancah global, mampu berkontribusi pada penelitian, inovasi, dan pembangunan peradaban bangsa.
Hal ini mengingatkan kita bahwa kualitas pendidikan tidak cukup diukur dari sekelompok individu yang cerdas secara lokal, seperti yang sering kita dengar dari sebutan “anak cum laude” di fakultas atau jurusan tertentu. Yang lebih penting adalah bagaimana kemampuan individu tersebut teruji di skala nasional dan internasional. Misalnya, platform penilaian global PISA, peringkat universitas, kompetisi penelitian internasional, atau program pertukaran akademik dapat menjadi tolok ukur objektif. Melalui mekanisme ini, kita dapat menilai sejauh mana pendidikan di Indonesia berhasil menghasilkan lulusan yang kompetitif, inovatif, dan relevan secara global.
Selain itu, pendidikan yang berkualitas harus selalu terkait dengan dunia kerja dan pembangunan peradaban. Lulusan cum laude atau individu cerdas yang tidak mampu mengaplikasikan pengetahuan mereka untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat atau berkontribusi pada pembangunan nasional sebenarnya belum mencapai tujuan utama pendidikan. Pendidikan tinggi bukan sekadar menara gading yang mencetak prestasi individual; ia adalah instrumen untuk memperkuat kapasitas nasional, membangun budaya ilmiah, dan mempersiapkan manusia Indonesia yang produktif di mata dunia.
Sementara prestasi akademik lokal patut disyukuri dan dihargai, terlalu menekankan pencapaian tersebut tanpa menempatkannya dalam standar global dapat menimbulkan ilusi keberhasilan. Pendidikan seharusnya menghasilkan lulusan yang tidak hanya unggul di kampus atau daerah, tetapi juga mampu bersaing di tingkat nasional, regional, dan internasional. Dengan kata lain, predikat cum laude lokal adalah langkah awal, bukan akhir dari proses pendidikan. Output pendidikan harus selaras dengan output dunia kerja, inovasi, dan kemampuan bangsa untuk berpartisipasi aktif dalam pembangunan global.
Momen ketika seorang lulusan meraih cum laude menjadi pengingat kuat bahwa pendidikan yang benar-benar berhasil adalah pendidikan yang menyeimbangkan prestasi akademik dengan relevansi global dan kontribusi sosial. Pendidikan bukan hanya alat untuk mencetak lulusan, tetapi fondasi peradaban, jembatan masa depan, dan medium bagi bangsa untuk bersinar di kancah internasional tanpa kehilangan identitasnya sendiri. Tanpa standar kualitas global dan relevansi dunia nyata, prestasi akademik yang tampak gemilang sekalipun hanya akan menjadi simbol kosong, yang tidak memberi dampak nyata bagi masyarakat atau bangsa.
Refleksi ini menggarisbawahi pentingnya kolaborasi antara pendidikan lokal, standar nasional, dan benchmark internasional. Dengan dukungan teknologi, program internasional, publikasi terindeks, dan integrasi antara pendidikan, dunia kerja, dan inovasi, kita dapat menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara lokal, tetapi mampu berkompetisi, memberi kontribusi, dan membawa Indonesia ke level global. Pendidikan tinggi yang berhasil adalah pendidikan yang menghasilkan lulusan unggul sekaligus berdaya guna, mampu mendorong pembangunan peradaban bangsa, dan relevan di panggung dunia.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





