POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pelestarian Kain Tradisional Indonesia Agar Kompetitif dan Tren di Masyarakat

RedaksiOleh Redaksi
August 27, 2025

Novita Sari Yahya

🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Novita Sari Yahya

Kain tradisional Indonesia yang mudah terurai di tanah biasanya terbuat dari serat alami dan diwarnai dengan pewarna alami. Contohnya seperti berikut.

  • Kain Tenun Sumba (Nusa Tenggara Timur): terbuat dari kapas atau serat alami dengan pewarna alami seperti indigo atau kunyit.
  • Ulos (Sumatera Utara): dibuat dari kapas atau sutra alami dengan pewarna alami.
  • Endek (Bali): terbuat dari kapas atau sutra dengan pewarna alami.
  • Sasirangan (Kalimantan Selatan): berbahan kapas dengan pewarna alami seperti kulit kayu atau buah.
  • Kain Tapis (Lampung): menggunakan kapas dan benang emas/perak dengan pewarna alami.

Pewarna alami memiliki kelebihan seperti ramah lingkungan dan tidak beracun, namun juga memiliki kekurangan seperti warna yang tidak terlalu stabil dan dapat memudar seiring waktu.

Data Kapas dan Ekspor

  • Produksi kapas di Indonesia masih terbatas, dengan luas lahan hanya 703 hektar dan produksi 127 ton pada 2020. Daerah penghasil kapas terbesar adalah Nusa Tenggara Timur, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
  • Ekspor kain tradisional Indonesia memiliki potensi besar, terutama untuk batik, tenun ikat, dan songket.
  • Namun, ekspor kain tradisional spesifik tidak terdokumentasi secara terpisah dalam sumber yang tersedia.

Minat Masyarakat dan Dunia

  • Kain tradisional tetap populer di kalangan masyarakat Indonesia, terutama untuk acara budaya dan pernikahan. Minat generasi muda terhadap kain tradisional menurun karena dianggap kuno dibandingkan fesyen modern. Kain tradisional Indonesia diminati di pasar internasional karena nilai estetika dan keunikan budayanya. Kapas organik juga mendapat perhatian karena tren fesyen berkelanjutan.

Potensi Swasembada Kapas

📚 Artikel Terkait

Seteru NURANI

Satgas PPKM Terus Ingatkan Pelaku Usaha

KETIKA KONSEP PENDIDIKAN TERAPLIKASI APIK DARI VISI MISI NEGARA

SMAN 10 Fajar Harapan Gelar Simposium P5

  • Indonesia memiliki 843 aksesi plasma nutfah kapas dan varietas unggul seperti Kanesia 8 dan 9. Teknologi seperti irigasi tetes dan kapas transgenik dapat mendukung produksi kapas lokal.


Manfaat gerakan memakai kain tradisional Indonesia pun begitu banyak, misalnya sebagai bentuk pelestarian budaya dan warisan leluhur, peningkatan ekonomi lokal dan lapangan kerja,Potensi ekspor yang kuat, pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender, dukungan pariwisata dan fesyen modern, serta inovasi dan keberlanjutan dengan bahan baku lokal dan pewarna alami, namun, produksi kain tradisional juga menghadapi kendala di antaranya, pertama, inimnya dukungan pemerintah.Kedua, kurangnya minat generasi muda. Ke tiga, persaingan dengan tekstil impor. ke empat, keterbatasan bahan baku. Ke lima, proses produksi yang rumit. Ke enam, kurangnya kesadaran masyarakat.

Tentu saja selalu ada solusi. Solusi potensial untuk mengatasi kendala ini adalah dengan cara pemberian insentif oleh pemerintah, integrasi kain tradisional dalam fesyen modern, pendidikan budaya dan keterlibatan komunitas, dan pengembangan bahan baku lokal.

Dengan mengatasi kendala ini, produksi kain tradisional dapat menjadi pilar budaya dan ekonomi Indonesia yang berkelanjutan. Untuk membuat kain tradisional Indonesia lebih kompetitif dan tren di kalangan masyarakat, diperlukan strategi yang menggabungkan pelestarian budaya, inovasi, edukasi, dan pemasaran modern.

Nah, berikut adalah beberapa solusi yang bisa kita tawarkan. Pertama, inovasi desain dan produk dengan memadukan motif tradisional dengan gaya kontemporer. Kedua, diversifikasi produk untuk memenuhi selera pasar yang lebih luas. Ke tiga, penggunaan bahan baku yang lebih terjangkau dan teknologi modern untuk meningkatkan efisiensi produksi. Ke empat, edukasi konsumen tentang nilai budaya dan proses pembuatan kain tradisional. Ke lima, pemanfaatan media sosial dan e-commerce untuk memperluas jangkauan pasar. Ke enam, kolaborasi dengan sektor pariwisata untuk mempromosikan kain tradisional sebagai suvenir budaya. Ke tujuh, dukungan pemerintah melalui subsidi, pelatihan, dan perlindungan hak cipta. Ke delapan, promosi kain tradisional sebagai bagian dari tren fesyen berkelanjutan.

Jadi, dengan menggabungkan inovasi, edukasi, dan pemasaran yang strategis, kain tradisional dapat menjadi lebih terjangkau, relevan, dan diminati sebagai tren masyarakat, sekaligus tetap mempertahankan nilai budayanya.

Novita Sari Yahya
Penulis dan peneliti

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Tragedi Zara Qairina : Alarm Bahaya Bullying di Dunia Pendidikan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00