POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Derita Palestina Adalah Derita Kaum Muslimin, Janganlah Kita Melupakan Mereka

RedaksiOleh Redaksi
August 23, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Afrizal Refo, MA

Setiap kali dentuman bom mengguncang langit Gaza, setiap kali rumah-rumah rata dengan tanah, setiap kali tangisan anak-anak Palestina pecah di jalanan yang dipenuhi puing, sejatinya bukan hanya Palestina yang terluka. Luka itu adalah luka kita, derita itu adalah derita kita, sebab umat Islam bagaikan satu tubuh. Bila satu anggota tubuh tersakiti, maka seluruh tubuh ikut merasakan pedihnya.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta-mencintai, kasih sayang, dan kelembutan mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota tubuh sakit, maka seluruh tubuh akan merasakan sakit dengan tidak bisa tidur dan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ada sebuah ironi yang menyayat hati ketika dentuman bom di Gaza berhenti sesaat, layar televisi dan portal berita pun ikut sepi dari kabar Palestina. Seakan-akan penderitaan di sana ikut berhenti padahal kenyataannya derita rakyat Palestina tidak pernah usai. Rumah mereka tetap hancur, blokade tetap berlangsung, akses pangan dan obat-obatan tetap terbatas, serta generasi muda mereka tetap hidup di bawah bayang-bayang penjajahan.

Diamnya media arus utama terhadap Palestina seakan menjadi strategi global agar umat Islam melupakan luka itu. Ketika tidak ada lagi pemberitaan, maka umat perlahan kehilangan rasa peduli. Kita sibuk dengan urusan sehari-hari hingga lupa bahwa di tanah suci yang pernah menjadi kiblat pertama umat Islam itu ada jutaan jiwa yang terus berjuang untuk hidup dengan layak.

Maka saat Palestina menderita dunia Islam sejatinya ikut menanggung luka. Namun pertanyaan yang patut kita renungkan adalah masihkah kita benar-benar merasa sakit atas derita mereka atau hati kita sudah mulai beku dan terbiasa melihat penderitaan itu?

Media dan Politik Senyap

Kita sering bertanya: mengapa Palestina tidak lagi menjadi headline, padahal penderitaan mereka terus berlanjut? Jawabannya ada pada kepentingan politik dan media global. Media besar dunia dikendalikan oleh kepentingan tertentu yang berusaha membentuk opini publik sesuai narasi mereka.

Ketika rakyat Palestina dibantai, diberitakan sekilas lalu menghilang. Tetapi ketika ada perlawanan kecil dari Palestina, media langsung membingkai mereka sebagai “teroris” atau “ancaman keamanan”. Narasi ini dibangun agar masyarakat dunia melupakan siapa yang sebenarnya menjadi korban.

Inilah politik senyap: menenggelamkan tragedi kemanusiaan dalam kesunyian informasi, agar perlahan-lahan umat manusia, khususnya umat Islam, melupakan Palestina.

Palestina: Tanah Suci yang Terjajah

Palestina bukanlah tanah biasa. Di sanalah berdiri Masjid Al-Aqsha, kiblat pertama umat Islam, masjid ketiga yang dimuliakan setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Di sanalah pula terjadi peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad ﷺ, perjalanan agung yang menjadi tonggak spiritual umat Islam. Karena itu, Palestina memiliki kedudukan suci dalam hati setiap muslim.

Namun, tanah mulia itu telah lama hidup dalam penjajahan. Sejak tahun 1948, ketika berdirinya negara Israel, rakyat Palestina terusir dari tanah kelahiran mereka. Peristiwa itu dikenal sebagai Nakbah (malapetaka besar), yang menyebabkan lebih dari 700 ribu warga Palestina menjadi pengungsi. Sejak saat itu hingga kini, penderitaan Palestina tidak pernah berhenti: pengusiran, blokade, perampasan tanah, hingga pembunuhan tanpa henti.

📚 Artikel Terkait

Perempuan dan Hak Di Meja Pemeriksaan

Potret Kejahatan Seksual Online di Indonesia

KAMPUNG YANG BERSIH DAN INDAH

Mengikis Hoax, Mengikis Ketidaksejahteraan

Derita mereka bukan hanya soal politik. Ia adalah tragedi kemanusiaan sekaligus penghinaan terhadap umat Islam seluruhnya.

Allah SWT berfirman:
“Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah, baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang berdoa: ‘Ya Tuhan kami keluarkanlah kami dari negeri ini yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi-Mu, dan berilah kami penolong dari sisi-Mu!’” (QS. An-Nisa: 75).

Ayat ini seakan berbicara langsung tentang Palestina. Anak-anak yang berdoa di tengah reruntuhan, para wanita yang menangis kehilangan keluarga, dan kaum lelaki yang berjuang dengan tangan kosong—semua itu adalah potret nyata dari doa yang disebut dalam ayat suci tersebut.

Palestina adalah ujian bagi umat Islam. Ujian apakah kita masih memiliki hati yang peduli, apakah kita masih memiliki iman yang hidup. Jika kita acuh terhadap penderitaan mereka, maka sesungguhnya kita sedang acuh terhadap perintah Allah sendiri.

Imam Yusuf Al-Qaradhawi menegaskan: “Palestina adalah tanah wakaf umat Islam. Membela Palestina bukan hanya kewajiban bangsa Palestina, melainkan kewajiban seluruh umat Islam.” Kalimat ini menyadarkan kita bahwa kepedulian terhadap Palestina adalah bagian dari iman, bukan sekadar sikap politik.

Penyakit Melupakan Palestina

Sayangnya kepedulian umat Islam sering kali bersifat musiman. Ketika ada serangan besar, media sosial penuh dengan doa, bendera Palestina berkibar di jalanan, dan donasi mengalir. Namun, setelah berita mereda, kita kembali sibuk dengan rutinitas. Palestina pun kembali sunyi, seolah-olah tidak pernah ada luka di sana.

Inilah penyakit terbesar kita: melupakan derita saudara sendiri. Padahal, musuh-musuh Islam tidak pernah berhenti menindas Palestina. Blokade di Gaza terus berlangsung, pemukiman ilegal di Tepi Barat semakin meluas, dan Masjid Al-Aqsha terus dinodai.

Sayyid Qutb pernah mengingatkan: “Umat yang membiarkan kezhaliman tanpa perlawanan, sejatinya sedang menggali kuburnya sendiri.” Jika kita membiarkan Palestina terluka tanpa peduli, sesungguhnya kita sedang membiarkan kehormatan Islam diinjak-injak.

Bentuk Nyata Kepedulian Kita

Bagi rakyat biasa, mungkin terasa sulit untuk berbuat banyak. Namun, jangan remehkan langkah-langkah kecil. Ada banyak cara menunjukkan bahwa kita tidak melupakan Palestina:

  1. Doa yang Ikhlas dan Konsisten
    Jangan pernah bosan memohon pertolongan Allah untuk kemenangan Palestina. Mari kita doakan di hari Jum’at yang mulia ini buat saudara kita di Palestina.
  2. Donasi Kemanusiaan
    Sedikit dari kita bisa menjadi banyak untuk mereka. Uang yang mungkin hanya cukup untuk secangkir kopi di kota kita, bisa berarti seharian makan bagi keluarga di Gaza.
  3. Suara dan Kesadaran Publik
    Gunakan pena, media sosial, dan ruang diskusi untuk menyuarakan solidaritas serta melawan narasi yang menyesatkan.
  4. Pendidikan Generasi
    Tanamkan pada anak-anak kita bahwa Palestina adalah bagian dari iman dan sejarah umat. Jangan biarkan mereka tumbuh dalam ketidaktahuan.
  5. Persatuan Umat
    Kepedulian terhadap Palestina harus memperkuat ukhuwah. Jangan kita sibuk bertikai sesama muslim, sementara musuh-musuh Islam bersatu menindas Palestina.

Penutup: Jangan Pernah Melupakan Palestina

Derita Palestina adalah derita kaum muslimin. Luka mereka adalah luka kita semua. Jika kita melupakan Palestina, berarti kita sedang melupakan jati diri kita sebagai umat Islam. Sebaliknya, jika kita peduli kepada mereka, kita bukan hanya menolong bangsa yang tertindas, tetapi juga menjaga martabat agama kita.

Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kita dalam sabdanya:

“Barangsiapa tidak peduli dengan urusan kaum muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.” (HR. Al-Hakim).

Maka, kepedulian terhadap Palestina bukanlah pilihan, melainkan identitas. Jangan biarkan Palestina menjadi isu musiman yang hanya ramai saat serangan besar. Jangan biarkan air mata anak-anak Gaza menjadi tontonan yang kita nikmati tanpa rasa peduli.

Selama Masjid Al-Aqsha belum bebas, selama tanah Palestina masih dirampas, selama darah saudara kita masih tertumpah maka umat Islam belum benar-benar merdeka.

Derita Palestina adalah derita kita. Jangan pernah melupakan mereka. Sebab melupakan Palestina sama artinya dengan melupakan iman kita sendiri.

Penulis adalah Sekjen Dewan Dakwah Kota Langsa dan Pembina LDK Al- Furqan IAIN Langsa.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00