Dengarkan Artikel
Oleh Rosadi Jamani
Bertahun-tahun kuliah di Amerika. Begitu lulus, lalu pulang ke negeri sendiri. Malangnya, ijazah dari Paman Sam tidak lagi diterima. Itulah China, mulai tutup pintu untuk seluruh lulusan negeri Barat. Mereka percaya diri mengandalkan ilmu dari dalam negeri sendiri. Simak narasinya sambil seruput kopi tanpa gula.
Bayangkan, wak! Sebuah dunia di mana ijazah dari Harvard, MIT, Cambridge, dan Oxford tidak lagi dianggap sebagai “kunci emas”, melainkan lebih mirip koper tua yang penuh debu, bagus untuk pajangan, tapi bikin repot kalau dibawa ke bandara. Itulah yang kini terjadi di China. Para raksasa bisnis seperti Deep Seek dan Gree Electric sudah mulai memandang gelar asing seperti memandang durian di musim mangga: eksotis, beraroma kuat, tapi dianggap tidak cocok dengan menu lokal.
Di Guangdong dan Shandong, lulusan asing bahkan dilarang masuk ke jabatan publik. Alasannya? Sederhana dan sangat filosofis. Siapa yang pernah mencium aroma demokrasi, bisa saja lupa bahwa di sini nasi goreng harus sesuai resep negara. Gelar asing kini bukan lagi tanda prestise, melainkan seperti tato tribal di era rap moder, pernah keren, sekarang agak memalukan.
Ironinya? Sistem pendidikan domestik sendiri kerap dikritik karena terlalu mengajarkan “bagaimana menghafal dengan benar” ketimbang “bagaimana berpikir dengan berbahaya.” Tapi justru itulah poinnya. China ingin menciptakan generasi loyalis yang lebih orisinal dari kopi Starbucks, meski kreativitas kadang diparkir sementara di basement.
Mari kita lihat absurditasnya. Ada lulusan Tsinghua dengan gelar magister yang kini bekerja sebagai pelayan restoran, menyajikan mi pedas dengan teknik presentasi ilmiah. Ada juga lulusan Hong Kong University of Science & Technology yang banting setir menjadi terapis pijat, mungkin demi mengaplikasikan ilmu ergonomi secara langsung pada tulang punggung pelanggan. Tingkat pengangguran anak muda? Sudah 15,8%. Itu bukan sekadar angka, itu adalah simfoni kegelisahan yang dimainkan dengan seruling Wi-Fi.
📚 Artikel Terkait
Lulusan asing lebih apes lagi. Mereka dulu datang dengan keyakinan, “China adalah masa depan.” Eh, ternyata masa depan itu ternyata punya aturan ketat tentang siapa yang boleh menontonnya. Proses visa diperlambat, izin kerja makin ribet, dan mereka diberi label “risiko ideologis” seolah-olah setiap mahasiswa Cambridge yang bisa main gitar akustik adalah agen rahasia CIA.
Namun jangan salah. Ini bukan sekadar soal kerja. Ini adalah narasi eksistensial. China seolah berkata, “Kami tidak butuh ilmu dari luar, karena semua jawaban ada di dalam. Kami bukan siswa dunia, kami adalah guru baru sejarah.” Ini mirip orang yang menolak lampu senter karena yakin cahaya sejati hanya bisa datang dari lilin buatan sendiri.
Absurd? Jelas. Tapi di balik absurditas, ada ironi global. China ingin mandiri talenta, tapi kemandirian itu justru menutup pintu bagi angin segar yang dulu membuat mereka tumbuh. Dunia luar dianggap “racun budaya,” padahal mungkin hanya “bumbu penyedap.”
Maka, lulusan asing kini berubah dari “global citizen” menjadi “strategic migrant,” makhluk aneh yang harus menyeimbangkan identitas internasional dengan tuntutan lokal. Mereka belajar Mandarin, ikut kursus startup, bahkan mungkin membuka kafe dengan menu fusion, kopi Liberika dengan nama berbahasa Mandarin yang artinya “Loyalitas Negara.”
Akhirnya, kita diingatkan pada satu hal, menolak ilmu dari luar dengan alasan nasionalisme bisa terdengar gagah, tapi juga bisa jadi tragikomedi. Sebab pada akhirnya, ide besar, inovasi liar, dan humor absurd selalu lahir dari pertemuan lintas batas. Kalau semua pintu ditutup rapat, jangan heran kalau suatu hari seluruh negeri hanya sibuk menghafal peribahasa, tapi lupa siapa yang pertama kali menemukan listrik untuk menyalakan lampu kelasnya.
Mungkin inilah filsafat barunya, lebih baik miskin ide tapi kaya loyalitas. Atau lebih ekstrim lagi, lebih baik lapar inovasi, asal kenyang dengan kebanggaan. Dunia akan menertawakan, lalu diam-diam menyalin catatannya.
camanewak
Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






