Dengarkan Artikel
Oleh Silvia
Siswa SMA Negeri 1 Bireun, Aceh
Kulangkahkan kaki, menyusuri setapak basah kenangan, yang tak pernah pupus dalam ingatan. Kenangan yang tetap abadi, terbongkar rapi di relung jiwa. Meski terkadang aku masih tergugu dalam nyeri.
Kala itu, hari Senin pagi pukul 7.30 tepatnya pada tanggal 21 September 2022,aku kehilangan seorang sosok yang begitu berarti dalam hidupku. Sosok itu adalah kakak kandung ibuku, yang kupanggil dengan sebutan Uwa.
Uwaku begitu menyayangi, mengasihi dan memanjakanku. Aku diperlakuukan layaknya seperti anak sendiri. Dari mulai Taman Kanak-Kanak (TK) hingga aku duduk di bangku SMP Kelas dua (2). Uwakulah yang membiayai sekolahku dan memfasilitasi semua kebutuhanku.
📚 Artikel Terkait
Namun, sungguh aku tak pernah menyangka, Uwaku pergi tanpa isyarat. Menyisakan luka yang nyata. Kucoba untuk memendam sebak (sesak) di dada, tapi aku tak kuasa melawan takdir Sang Pencipta semesta. Seketika aku linang, menggenggam jemarinya yang tak bisa lagi bergerak. Dan kupandangi jasadnya yang terbujur kaku, diam, tanpa kata.
Kepergiannya terlalu cepat, di saat aku masih membutuhkan bimbingan, perhatian dan nasihatnya. Terpaku aku dalam diam, seakan tak percaya. Rasanya separuh jiwaku sirna. Seperti ranting yang rapuh dan patah.
Awan menggantung hitam di cakrawala. Seiring gerimis turun perlahan. Seakan turut merasakan, duka sekeping hatiku yang lara. Dengan deraian air mata, kuantar kepergiannya ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Rinai hujan semakin deras. Satu persatu orang orang mulai meninggalkan pemakaman. Tapi aku, ibuku dan keluarga lainya seakan enggan untuk beranjak.
Aku masih tetap terpaku menatap gundukan tanah kuning yang mulai basah di guyur hujan. Hingga pada akhirnya aku pun memilih untuk pergi dan meninggalkan pemakaman.
Uwa, engkau adalah larik jingga yang selalu ingin kulukis, ke dalam sisa hidupku. Kulepas engkau dengan ikhlas. Tidurlah dengan damai di sana.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






