Dengarkan Artikel
Oleh : Muhammad Hafiz
Siswa SMK Negeri 1 Jeumpa, Kabupaten Bureun, Aceh
Di sudut bumi Aceh yang permai,
Tersembunyi kisah yang damai.
Namanya Apis, pemuda sederhana,
Tinggal di Bireuen, tanah yang menawan mata.
Setiap pagi sebelum mentari muncul,
Apis sudah bangkit dari selimut yang memeluk.
Langkah kakinya ke halaman rumah,
Menyambut hari dengan jiwa yang ramah.
“Sehat itu rezeki,” ucapnya pelan,
Kepada diri dalam bisikan iman.
Tak perlu muluk, tak harus mewah,
Cukup dengan niat dan langkah yang tabah.
Air putih ia teguk perlahan,
Membersihkan tubuh dari sisa semalam.
Tak ada kopi, tak ada soda,
Hanya air bening, teman setia.
Apis pun regangkan badan,
Di bawah langit yang belum terlalu terang.
Kaki menekuk, tangan memanjang,
Gerakannya lentur, tubuhnya bertenang.
Tak lupa ia ambil sepeda,
Menjelajahi desa, menyapa semesta.
Sawah menghijau di kiri kanan,
Udara segar jadi teman jalan.
Warga menyapa, “Pagi, Apis!”
Ia tersenyum, senyumnya manis.
“Sehat-sehat, ya,” pesan dibalas,
Dengan anggukan yang tulus dan jelas.
Sarapan sederhana menanti di meja,
Nasi merah, tempe, dan sayur kale.
Ibunya bangga melihat pilihan,
Anaknya hidup sehat tanpa paksaan.
“Tak perlu gorengan tiap hari,”
Kata Apis, “Bikin tubuh nanti perih.”
Ia tahu apa yang baik,
Ilmu dari buku, pengalaman pun naik.
Di Bireuen, budaya melekat kuat,
Namun Apis tahu mana yang sehat.
Tak semua warisan harus diikuti,
Ada yang baik, ada yang harus direvisi.
Kadang teman mengajak makan mie instan,
Apis menolak dengan santun.
“Aku lebih suka buah dan kentang,”
Ujarnya sembari tersenyum tenang.
Mereka tertawa, “Ah, kamu terlalu disiplin!”
Tapi Apis tak pernah jadi dingin.
Ia ajak teman bermain bola,
Di lapangan kecil yang tak pernah hampa.
Keringat menetes seperti hujan,
Namun tawa terdengar di setiap gerakan.
Mereka berlari, menendang, dan bersorak,
📚 Artikel Terkait
Mengejar bola, juga sehat yang merebak.
Seusai main, Apis duduk di bawah pohon,
Mengatur napas, mendengarkan detak jantung.
Ia kenali tubuh seperti sahabat,
Mengerti kapan lelah, kapan semangat.
Di malam hari, Apis tak terjaga,
Ia tidur cepat, tak suka begadang sia-sia.
Layar ponsel tak membuatnya lengah,
Karena ia tahu, itu musuh yang ramah.
Delapan jam tidur adalah hadiah,
Untuk tubuh yang bekerja tanpa jeda.
Dan saat bangun, ia tak merasa letih,
Namun segar seperti embun pagi yang bersih.
Apis pun tak lupa soal jiwa,
Ia menulis di buku tentang rasa.
Kadang cemas, kadang kecewa,
Namun ia luapkan dengan cara yang bijaksana.
Menulis, membaca, dan berdoa,
Menjadi caranya menjaga jiwa.
Karena sehat bukan cuma raga,
Tapi juga batin yang tak terluka.
Ibunya bangga, bapaknya senang,
Anaknya hidup lurus dan tenang.
Bukan karena harta melimpah,
Tapi karena hidup sehat jadi anugerah.
Di pasar, Apis bantu belanja,
Memilih sayur, buah, dan rempah.
Ia ajak ibu coba resep baru,
Tumis brokoli, sup ayam tanpa lemak, tak ragu.
“Apis, kamu berubah,” kata ibunya,
“Dulu kamu suka gorengan dan cola.”
“Iya Bu,” ujarnya pelan,
“Sekarang aku ingin hidup lebih bertahan.”
Kadang ia ajak warga kampung,
Senam pagi di balai yang menyambung.
Anak-anak, ibu-ibu pun datang,
Gerakan ringan diiringi musik yang tenang.
Apis bukan dokter, bukan pelatih,
Tapi semangatnya membuat hati bersih.
Ia bukan pahlawan dengan jubah,
Namun memberi teladan tanpa gelisah.
Dia tahu hidup tak abadi,
Namun ia ingin menjalaninya penuh arti.
Tubuh ini titipan dari Ilahi,
Harus dijaga, harus dihargai.
Tak ada alasan untuk malas,
Karena hidup sehat bisa diraih jelas.
Tak perlu biaya atau gaya tinggi,
Cukup kesadaran dan tekad yang berdiri.
Apis pun mulai menulis di blog,
Berbagi resep, cerita, dan dialog.
“Dari Bireuen untuk semua,” tulisnya,
“Karena sehat adalah milik kita bersama.”
Anak muda mulai ikut jejaknya,
Mengurangi rokok, meninggalkan miras.
Mereka melihat perubahan Apis,
Dan tahu bahwa sehat itu manis.
Puskesmas pun undang Apis bicara,
Tentang gaya hidup dan olahraga.
Meski gugup, ia tetap berani,
Demi desa yang lebih berseri.
“Aku bukan sempurna,” ucapnya jujur,
“Kadang tergoda mie goreng di warung.”
Tawa pun pecah di ruangan itu,
Namun semua paham, ia benar dalam laku.
Hidup sehat bukan tanpa jatuh,
Namun selalu bangkit, meski peluh.
Apis terus melangkah tiap hari,
Menjaga tubuh, jiwa, dan mimpi.
Bireuen kini tak lagi sama,
Lebih banyak senyum, lebih banyak tawa.
Karena satu anak muda yang percaya,
Bahwa sehat bisa dimulai dari kita.
Apis dari Bireuen, bukan siapa-siapa,
Namun kisahnya bisa jadi cahaya.
Bahwa hidup sehat bukan soal gelar,
Tapi tentang cinta yang tak pernah pudar.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






