Dengarkan Artikel
Oleh: Naura Safira
Siswa SMAN 3 Bireuen, Aceh
Sejak menginjak kelas 3 SMP, saya sudah memiliki mimpi besar yang ingin saya capai, yaitu menjadi seorang entrepreneur.
Saya adalah pribadi dengan pemikiran terbuka dan bercita‑cita membuka usaha, dalam bidang makanan dan minuman serta di bidang elektronik.
Setelah lulus SMA, saya bermimpi untuk mendapatkan beasiswa dan berkuliah pada jurusan Bisnis, di St. Gallen, Swiss.
Setelah itu, saya akan membuka usaha sendiri berdasarkan ilmu yang saya peroleh. Namun, saya menyadari bahwa realitas hidup tidak selalu indah seperti di dalam novel. Maka saya memutuskan untuk memperkaya ilmu dan memperluas pengalaman saya sedari dini, belajar coding, terjun sebagai barista dan peracik minuman, serta menjadi voice-over untuk beberapa proyek. Walaupun memang sulit dan melelahkan, tetapi hanya itu yang dapat saya lakukan demi masa depan saya.
Selain ingin sukses dan menjadi hebat, saya juga ingin bermanfaat bagi masyarakat. Saat ini, saya bersama teman dekat saya yang bernama “Raya”, sedang mengumpulkan dana untuk membiayai usaha kami dalam membersihkan sampah di lingkungan sekitar.
Saya menyadari bahwa jika dalam suatu kelompok tidak ada yang memiliki pemikiran berbeda, maka tidak akan ada orang sukses yang lahir dari kelompok itu, walaupun mungkin kami hanya sukses dalam membersihkan sampah, tidak masalah, karena kesuksesan hanya dicapai melalui perubahan nyata, meskipun dimulai dari hal-hal kecil.
Saya tahu bahwa setiap orang memiliki potensi masing‑masing, setiap orang juga memiliki impiannya masing-masing, tetapi hanya sedikit orang yang benar-benar menekuni potensinya sendiri.
Jika merasa tidak memiliki potensi, maka kita harus segera bergerak dan menemukan potensi kita sendiri, demi masa depan yang lebih terstruktur.
Ibaratnya seperti kita bermimpi, tapi kita masih terus tertinggal di dalam mimpi itu, tidak mau maju untuk merealisasikannya, lalu ingin menyalahkan siapa saat kita tertinggal? hanya diri sendiri yang patut disalahkan.
Saya bisa melakukan banyak hal, tapi terkadang saya merasa kemampuan saya tidak sempurna dan terlalu takut untuk melakukan hal yang sebenarnya bisa saya lakukan. Sampai saya sadar, jika takut akan kegagalan adalah awal dari kegagalan itu sendiri.
Saya pernah mendengar bapak Tabrani Yunis berkata “Kita bisa melakukan apapun selama kita mencintainya”.
Saya sangat setuju dengan perkataan itu, karena saya sudah mengalaminya sendiri.
Ada suatu waktu dimana saya tiba-tiba berpikir jika matematika itu menarik, padahal sebelumnya matematika adalah pelajaran yang paling tidak saya sukai, tapi kenapa saya tiba-tiba bisa berpikiran bahwa matematika itu menarik? Saya pun mencari tahu alasannya, saya mulai belajar matematika, lalu pada akhirnya saya jatuh cinta kepada matematika.
📚 Artikel Terkait
Setiap rumus yang berhasil saya pecahkan, setiap deretan angka yang berhasil saya selesaikan, saya mendapatkan perasaan senang yang tak terbendung dalam diri saya, lalu siapa sangka, setelah saya tidak sengaja jatuh cinta kepada deretan angka itu, saya berhasil menjuarai olimpiade matematika dan berhasil membawa nama sekolah saya ke luar daerah. Perlombaan yang saya ikuti murni hanya karena rasa suka dan tertarik.
Saya juga pernah ber-ide untuk menjadi seorang penulis, lalu saya melakukannya, saya menulis sebuah karangan yang berjudul “Take Me Back” yang menceritakan tentang kisah persahabatan saya semasa SMP. Karangan itu saya unggah di sebuah aplikasi membaca novel, dan hiatus sampai saat ini karena akun yang saya gunakan sudah tidak bisa lagi saya akses.
Berdasarkan hal-hal aneh yang saya alami di masa lampau, saya bisa mengambil kesimpulan jika, ide ditambah rasa suka akan ide itu sendiri adalah sebuah mahakarya. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, ketika saya mendapatkan ide, dan saya menjadi suka dengan ide itu, saya langsung melakukan apapun untuk ide itu, karena saya menyukainya.
Sama seperti saat kita jatuh cinta kepada seorang manusia, hati dan pikiran kita akan tergerak untuk melakukan apapun untuknya, karena kita mencintainya.
Jika kita mendapatkan ide, lalu kita suka dengan ide tersebut, maka kita harus segera merealisasikan ide tersebut, sama seperti perasaan suka kepada manusia, jika tidak segera diungkapkan keburu diambil orang katanya. Begitu juga ide, karena sejatinya ide tidak menunggu, ide hanya lewat untuk ditangkap, jika tidak ditangkap mereka akan pergi, dan jika ditangkap mereka akan terus bersama kita.
Oleh karena itu, selama ide yang kita dapat bersifat positif, maka lakukan saja ide itu, karena masih banyak ide lain yang akan muncul untuk ditulis, dilukis, dilakukan ataupun diciptakan. Ide itu tidak menunggu, jadi hanya hal yang kita lakukan setelah ide itu muncullah yang menjadi jawaban dari ide itu sendiri.
Saya orangnya serakah, karena saya ingin menjadi segalanya, saya ingin menjadi Jaksa, ingin menjadi Composer, ingin menjadi Pengusaha, ingin jadi Seniman, ingin jadi ini, ingin jadi itu.
Saya ingin melakukan segalanya.
I wanna do everything that i love, why? because i love it.
Setelah saya melihat kilas balik hal-hal sulit yang berhasil saya lalui, saya menjadi paham, apa alasan hal itu saya sebut sulit.
Apa itu? Because I don’t love it, I do not enjoye it.
Semua hal itu sulit, jika kita belum melakukannya.
Saya sudah melakukannya, tapi itu tetap terasa sulit, kenapa??
Karena kamu tidak menyukainya, kamu melakukannya dengan rasa tidak suka, sehingga kamu tidak bisa menikmatinya dan tetap merasa sulit bahkan sesudah kamu selesai melakukannya.
Menulis itu sulit, karena kamu belum melakukannya, sudah dilakukan, tapi tetap terasa sulit? berarti kamu tidak mencintainya.
Kenapa orang bisa melukis, bisa menulis, bisa membuat karya, sedangkan saya tidak?
Mereka cinta dan giat dalam mencintainya, sehingga hal itu menjadi mudah dan menyenangkan bagi mereka.
Kunci melakukan segala hal adalah cinta.
Ingin melukis? Cintai dulu lukisan, cintai melukis, kemudian giat dalam melukis, maka hal itu akan terasa mudah dan menyenangkan bagi dirimu, karena kamu sudah mencintainya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






