Dengarkan Artikel
Catatan Paradoks: Wayan Suyadnya
Di negeri yang sibuk berpolemik tentang masa depan, Bali memilih untuk bertindak.
Ketika banyak daerah gamang menghadapi bayang-bayang 2045, takut tak sempat mencetak generasi emas, Bali justru melangkah dengan mantap.
Sebuah program yang patut dikasi jempol: Satu Keluarga Satu Sarjana.
Sejarah mencatat, 29 Juli 2025, 28 rektor—8 dari perguruan tinggi negeri dan 20 dari swasta—dikumpulkan oleh Gubernur Wayan Koster.
Bukan untuk rapat biasa, bukan pula untuk selebrasi. Mereka dipanggil sebagai penanda, bahwa masa depan sedang dimulai hari itu.
Betapa paradoks kegiatan itu. Saat sebagian pemimpin sibuk menghitung elektabilitas, mengedit citra di media sosial agar selalu tampil baik, atau merancang kata-kata untuk pidato, Gubernur Bali memilih jalan lain: mengalirkan beasiswa. Mendistribusikan harapan. Menanam masa depan.
Gubernur Koster, dalam sunyi birokrasi, justru memilih menjadi penggerak. Tampaknya ia paham betul bahwa Bali bukan tanah emas, bukan pula ladang minyak atau timbunan batu bara. Tapi Bali punya yang lebih berharga: kesadaran bahwa manusia yang terdidik adalah tambang sejati.
Program Satu Keluarga Satu Sarjana bukan sekadar angka. Ia adalah 1.450 cerita tentang keluarga miskin yang akan berubah status.
Jika dimulai tahun akademik 2025/2026, maka tahun 2030 akan lahir 1.450 sarjana. Lima tahun menjabat, Gubernur Koster mencetak 7.250 sarjana.
Bayangkan! Tujuh ribu lebih keluarga miskin bertransformasi bukan karena bantuan sembako, bukan karena amplop saat pemilu, tapi karena anaknya menyandang gelar sarjana.
📚 Artikel Terkait
Bukankah mereka ini yang disebut generasi emas?
Mereka yang sekarang ini berusia 18 tahun, 5 tahun kemudian dia sarjana, dan kelak di tahun 2045 akan menginjak usia 38 tahun—sarjana, usia sangat produktif, sangat kenceng, penuh daya, bukan generasi sandel jepit yang tersisih di pojok dunia kerja karena tak punya ijazah.
Mereka generasi berwawasan, bukan generasi abal-abal, bermodus, apalagi cemas. Generasi yang siap membangun masa depan Bali, masa depan negeri ini.
Dunia paradoks memang aneh. Di negeri ini, seringkali pemimpin dikenang karena baliho, bukan kebijakan. Tapi di Bali, semua itu terbantah.
Kebijakan yang membuat mereka menjadi sarjana, akan tertancap pada otaknya, bahkan bisa jadi dia akan berkata, “Gubernur boleh berganti, tapi Gubernur saya adalah Koster. Bukan karena saya tahu wajahnya, tapi karena hidup saya berubah oleh kebijakannya.”
Inilah warisan paling murni dari seorang pemimpin yang berpikir jauh ke depan.
Di tanah yang tak punya tambang, Gubernur Koster memilih mewariskan tambang akal dan ilmu pengetahuan.
Ia tahu, generasi yang terdidik bisa merebut pekerjaan, tak hanya di Bali, tapi juga di Jakarta, Tokyo, Melbourne, Dubai, atau New York.
Di dunia yang semakin sempit oleh persaingan global, anak-anak Bali harus terlatih, terpelajar, dan terhormat. Tak lagi tunduk pada nasib, tapi menulis takdirnya sendiri.
Dan semua itu dimulai dari sebuah keputusan sederhana tapi dahsyat: satu keluarga, satu sarjana. Dan itu diprioritaskan bagi keluarga miskin.
Terima kasih, Pak Gubernur.
Karena Bapak, generasi miskin di Bali tak lagi takut bermimpi. Karena Pak Gub, Bali punya tambang yang tak bisa ditambang siapa pun: tambang masa depan.
Denpasar, 31 Juli 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





