Dengarkan Artikel
Merekam Jejak Kemenangan dan Menerangi Jalan Pendidikan Inklusif
Oleh Luhur Susilo
Dalam semarak Hari Anak Nasional 2025, gema literasi menggema dari Blora. Sebuah lomba menulis surat bertema “Surat untuk Pak Presiden” menjadi momentum bagi anak-anak menyampaikan isi hati mereka dengan bahasa yang tulus, melalui tulisan tangan berhuruf latin tegak bersambung—sebuah seni yang perlahan nyaris ditinggalkan zaman.
Lomba ini bukan sekadar ajang unjuk kemampuan menulis. Ia menjadi jendela untuk menakar kedalaman nalar, kejujuran rasa, dan keindahan bahasa yang tumbuh dalam dunia anak. Di balik tiap gores tinta, terselip harapan dan keberanian untuk bersuara. Dari total 258 peserta yang berpartisipasi, 46 di antaranya berasal dari jenjang SMA/SMK/MA, dan yang paling mencuri perhatian adalah SRMA 18 Blora.
Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 18 Blora bukan sekadar sekolah baru. Ia adalah percikan cahaya dari negara untuk anak-anak yang lahir dalam kemiskinan, namun tidak menyerah pada nasib. Dengan sistem berasrama, pendidikan gratis, dan pendekatan personal, SRMA hadir sebagai alternatif pendidikan inklusif yang membebaskan dan memanusiakan.
Dari lomba ini, SRMA 18 Blora meraih Juara I melalui Nuril Istiqomah. Tidak hanya secara kualitatif ia tampil unggul, secara kuantitatif pun SRMA mengirimkan 36 dari 46 peserta kategori SMA/SMK/MA. Sebuah capaian luar biasa yang mencerminkan semangat belajar yang tumbuh dari akar kemauan, bukan privilese.
Tulisan Nuril mencerminkan karakter pemikir muda yang terbuka, jujur, dan reflektif terhadap realitas pendidikan. Ia menuliskan harapan, kritik, dan ide dengan bahasa yang santun namun mengena. Di sanalah letak kekuatan tulisan: bukan pada kata yang rumit, melainkan pada nurani yang bersinar di balik setiap kalimat.
Sementara itu, Rahma Deasi Riskita dari SMPN 2 Cepu menunjukkan kepiawaian dalam merangkai struktur surat secara utuh dan proporsional. Pilihan katanya mengikuti kaidah Ejaan Bahasa Indonesia dengan konsistensi yang mengesankan. Keteraturan dalam menulis tegak bersambung bukan hanya soal teknis, tetapi mencerminkan fokus, kesabaran, dan karakter.
📚 Artikel Terkait
Gabriela Maykash dari SMP Kristen 3 Cepu menyampaikan bahwa tulisan tangan adalah ungkapan jiwa. Gaya tulisan menjadi sidik jari batin yang unik. Melalui keindahan tulisan, pembaca dapat menangkap kepribadian penulis yang tidak bisa dipalsukan oleh mesin.
Dari jenjang SD, Candis Vittin Octavia dari SDN 2 Jepon berhasil menunjukkan pemahaman alur pikir yang runtut. Kata-katanya sederhana namun bermakna, dan tiap paragraf saling menyambung dalam irama yang selaras. Ini menunjukkan bahwa literasi bukan soal usia, tetapi soal pembiasaan berpikir.
Raihan Fadil dari SDN 1 Kamolan menyoroti sisi psikologis penulis ekstrovert. Menurutnya, keberanian untuk mengekspresikan ide secara terbuka membantu anak-anak menyampaikan isi pikiran secara jernih dan jujur. Penulis ekstrovert, katanya, mudah membagikan pengalaman karena mereka hidup dalam interaksi sosial yang kaya makna.
Alyessa Dwi Martaleta dari SMAN 1 Randublatung menekankan pentingnya konsentrasi dalam menulis. Menulis tangan bukan hal sepele; ia membutuhkan stamina, perhatian penuh, dan ketekunan. Inilah latihan mental yang jarang dibicarakan, tetapi sesungguhnya penting untuk mendidik anak menjadi tahan uji dalam berkarya.
Alya Pinasti Dewi dari SMAN 1 Blora menyinggung hubungan antara literasi baca dan kemampuan menulis. Semakin tinggi daya baca literatif seseorang, semakin kaya pula bahasanya dalam mengungkapkan ide. Ini menjadi refleksi bagi semua pihak bahwa budaya membaca dan menulis harus terus dibangun secara simultan.
Kegiatan ini diprakarsai oleh Bunda Literasi Kabupaten Blora, Hj. Ainia Shalichah. Beliau memahami bahwa kekuatan bangsa terletak pada daya pikir dan daya ungkap generasi mudanya. Maka lahirlah lomba ini bukan sebagai rutinitas seremoni, melainkan sebagai ruang pembelajaran yang menggugah kesadaran.
Lomba ini digelar dengan alur yang tertata: pengumpulan naskah 10–20 Juli, penjurian 21–23 Juli, pengumuman 24 Juli, dan puncak penghargaan pada 26 Juli 2025. Setiap tahapan memberi ruang bagi proses, bukan hanya hasil.
Kemenangan SRMA 18 Blora menjadi simbol kemenangan pendidikan yang memerdekakan. Ia menunjukkan bahwa ketika negara hadir secara konkret dalam kehidupan rakyatnya, maka anak-anak pun mampu melampaui keterbatasan. Tulisan tangan mereka menjadi suara perubahan. Dan di sanalah pendidikan menemukan maknanya: sebagai jalan pulang bagi harapan yang lama terpinggirkan.
Rumah Tua, 29 Juni 2025
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini





