POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pantomim di Era Kecerdasan Artifisial

RedaksiOleh Redaksi
July 26, 2025
Pantomim di Era Kecerdasan Artifisial
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Gunawan Trihantoro


Sekretaris Kreator Era AI Jawa Tengah dan Ketua Satupena Kabupaten Blora

Di tengah gegap gempita teknologi dan kecerdasan buatan (AI), anak-anak Blora memberikan pertunjukan yang membekas di hati, yakni pantomim. Dalam Festival Anak Blora (Fablo) yang digelar sebagai puncak Hari Anak Nasional 2025 di GOR Mustika Blora, Sabtu 26 Juli, gerak tanpa suara justru bersuara lantang tentang kreativitas dan ekspresi manusia.

Pantomim adalah seni yang mendahului kata. Di balik diamnya, ia berbicara lewat tubuh, raut, dan gerakan. Anak-anak Blora menyuguhkan ini dengan tulus, membawa pesan kuat, bahwa manusia tetap punya cara unik untuk mengungkapkan perasaan, bahkan tanpa teknologi.

Di era AI, ketika robot bisa berbicara dan wajah bisa dibuat tersenyum oleh algoritma, pantomim mengingatkan kita akan pentingnya ekspresi alami. Anak-anak tidak hanya belajar meniru gerak, tapi juga belajar empati, imajinasi, dan membaca bahasa tubuh, sesuatu yang belum bisa sepenuhnya dimiliki mesin.

Kehadiran teknologi jangan sampai mematikan ruang-ruang seni tradisional dan pertunjukan tubuh seperti pantomim. Justru, di tengah arus digital, seni ini bisa menjadi penyeimbang agar anak-anak tidak hanya terpaku pada layar, tetapi juga mampu merasakan dan menyampaikan emosi secara langsung.

Pertunjukan pantomim di Fablo menunjukkan bahwa seni bukan sekadar hiburan. Ia menjadi ruang edukasi, terapi ekspresi, dan sarana pembentukan karakter. Dalam gerakan pelan hingga ledakan emosi, anak-anak belajar tentang kontrol diri, keberanian tampil, dan kerja sama dalam tim.

Anak-anak yang tampil dalam pantomim bukan hanya artis panggung. Mereka adalah pelaku pendidikan karakter. Dengan gestur tanpa kata, mereka mengisyaratkan bahwa perasaan dan nilai bisa ditransmisikan dengan cara sederhana namun mendalam.

📚 Artikel Terkait

Kenakalan Remaja dan Peran Pendidikan Keluarga

Ketika Putusan Ulama Tidak Lagi Menjadi Pijakan: Peusijuk Wali Agama Terjadi Juga

Surga untuk Siapa?

Nilai Juang yang Tinggi Merawat Eksistensi Majalah POTRET

AI mungkin bisa menulis puisi, menciptakan lagu, bahkan menggambar wajah. Namun, memahami kesedihan di balik senyum yang tertahan, atau rasa takut yang terselip dalam langkah kecil, masih merupakan wilayah manusia. Pantomim memperlihatkan itu dengan jujur.

Festival Anak Blora adalah contoh bahwa ruang publik harus menjadi panggung bagi ekspresi anak-anak. Mereka bukan hanya penonton masa depan, tapi juga pencipta dunia hari ini. Lewat pantomim, mereka menyampaikan mimpi, kegelisahan, dan harapan mereka dalam bentuk yang murni dan tak terbantahkan.

Melibatkan anak-anak dalam kegiatan seni seperti pantomim juga membantu mereka mengembangkan kecerdasan emosional. Di tengah derasnya pembelajaran digital, kecakapan ini justru semakin langka dan mahal. Gerakan kecil bisa melatih kepekaan besar.

Pantomim adalah ruang belajar yang menyeimbangkan logika dan perasaan. Ketika dunia dikuasai perhitungan algoritma, seni ini menghidupkan kembali nilai intuisi dan spontanitas, kemampuan manusia yang tak tergantikan oleh teknologi secanggih apa pun.

Blora patut berbangga karena telah memberi panggung bagi anak-anak untuk mengeksplorasi jati diri mereka melalui pantomim. Langkah ini bukan nostalgia, melainkan strategi cerdas membangun generasi yang peka, tangguh, dan manusiawi.

Di masa depan, bisa jadi AI akan mampu membuat pertunjukan virtual pantomim. Tapi yang tak bisa dicipta adalah ketulusan. Gerak anak-anak Blora di Fablo membuktikan bahwa seni bukan tentang kesempurnaan teknis, tapi ketulusan niat.

Menjaga ruang seni bagi anak-anak di tengah era digital bukan tugas kecil. Ini adalah ikhtiar besar menanamkan nilai-nilai yang tak bisa digantikan mesin. Pantomim menjadi salah satu jembatan antara imajinasi masa lalu dan tantangan masa depan.

Kita semua, sebagai orang dewasa, punya peran penting untuk tetap menghadirkan ruang-ruang kreativitas non-digital di tengah kecanggihan zaman. Bukan untuk melawan teknologi, tetapi agar anak-anak tumbuh seimbang, pintar secara digital, dan matang secara emosional.

Pantomim di era kecerdasan artifisial bukanlah anomali. Ia adalah pengingat bahwa dalam diam, manusia tetap bisa bicara; dan dalam dunia serba cepat, kita masih bisa belajar menafsirkan makna dari gerak yang pelan. (*)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Saat Mentari Menunggu

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00