Dengarkan Artikel
Oleh : Juni Ahyar
Seuntai warisan cinta dari orang tua selalu kujunjung tinggi. Aku dilahirkan dalam pelukan kasih yang tak pernah berkurang, bahkan ketika dunia terasa asing. Ayah memberiku nama Putri — berharap aku kelak menjadi perempuan tangguh, meski aku sering membayangkan menjadi Cinderella, lengkap dengan pangeran yang datang membawa sepatu kaca. Tapi hidup bukan dongeng, dan aku bukan karakter dari negeri fantasi.
Ayah mengarahkan langkahku ke SMK Negeri 1 Lhokseumawe, jurusan Akuntansi. Katanya aku punya bakat bisnis. Dan kini, sebagai mahasiswi semester awal di Universitas Malikussaleh, aku mencoba melanjutkan titah itu. Tapi hari ini, langit terasa lebih berat dari biasanya. Mentari sudah tinggi, tapi aku masih terbaring.
Suara ibu mengetuk kamar menyentakku kembali ke dunia nyata.
“Putri, bangun! Sudah waktunya kuliah!”
“Sebentar lagi, Bu…”
“Sudah jam tujuh lebih! Kamu bisa terlambat!”
Dengan enggan, aku bangkit. Rutinitas pagi kulalui dengan cepat. Sarapan, berpamitan, lalu mengejar bus kampus yang biasa dikendarai Pak Somad — sopir tua yang ramah dan hafal nama hampir semua mahasiswa rutenya.
Aku duduk di dekat jendela, tempat favoritku. Tapi ketenangan itu terusik saat kulihat seekor kucing tertabrak motor yang melaju kencang. Pengendaranya kabur, dan orang-orang hanya menonton tanpa reaksi. Tanpa berpikir panjang, aku berdiri.
“Pak Somad, tolong berhenti!”
“Kamu kenapa? Kita belum sampai kampus.”
“Saya harus bantu kucing itu. Kasihan, Pak.”
“Tapi kamu bisa terlambat…”
“Tidak apa-apa. Tak ada yang menolongnya.”
Aku turun dari bus, berlari ke arah kucing malang itu yang kini berjalan pincang. Dengan hati penuh empati, kupeluk ia dengan hati-hati. Klinik hewan tak jauh dari situ. Sesampainya di sana:
“Dok! Tolongin kucing ini, cepat!”
“Taruh saja di sini, saya periksa…”
“Dia ditabrak motor, tapi tak ada yang peduli.”
Dokter menatapku sejenak dan berkata,
“Kamu tahu? Sikapmu hari ini lebih bernilai dari ribuan teori kuliah yang kamu pelajari.
Dunia butuh lebih banyak orang sepertimu.”
Aku hanya mengangguk. Dalam hati, ada perasaan hangat, meski tubuhku resah memikirkan kuliah yang hampir pasti kutinggalkan.
“Wa’alaikumussalam, Dok! Saya harus ke kampus sekarang.”
📚 Artikel Terkait
Bus kampus berikutnya datang 30 menit kemudian. Aku naik sambil terus menatap langit, berharap tidak dimarahi dosen. Tapi kenyataan tak seindah harap.
Pak Satpam sudah berdiri tegak di gerbang dengan tangan terlipat.
“Terlambat, ya? Ke ruang piket sekarang!”
Di ruang piket, Bu Nelly menatapku tajam.
“Putri! Apa alasanmu hari ini? Kamu tahu konsekuensinya!”
Aku menjelaskan apa yang terjadi. Sejenak ia terdiam.
“Maaf, Ibu salah menilai. Tapi tetap saja, kamu harus menyapu taman. Itu aturan.”
Aku menurut tanpa protes.
Usai menyapu, aku buru-buru masuk kelas. Tapi Bu Endang, dosen Seni Budaya, sudah berdiri di depan.
“Putri! Berdiri di depan kelas. Dengarkan dari sana!”
Aku pasrah, berdiri sembari menahan malu saat teman-teman mencuri pandang.
Beberapa berbisik, beberapa tertawa kecil. Tapi aku tetap berdiri tegak.
Usai kuliah, aku menjumpai Bu Endang.
“Kamu murid yang pintar. Tapi pintar saja tidak cukup tanpa disiplin,” katanya tegas.
“Saya terlambat karena menolong kucing yang tertabrak, Bu…”
Setelah mendengar ceritaku, ekspresi Bu Endang melunak.
“Maafkan Ibu. Itu mulia. Tapi jangan abaikan waktu. Dunia ini keras, dan kamu harus kuat — bukan hanya baik.”
Aku mengangguk. Hari itu rasanya sudah cukup berat. Tapi Tuhan belum selesai menantangku.
Dalam perjalanan ke kantin, aku melihat seorang siswi duduk tertunduk dikelilingi geng populer kampus. Bajunya dijambak, sepatunya dilempar ke atap, dan mereka mengoloknya tanpa henti.
“Lihat si pendiam aneh itu datang lagi! Baju kamu kayak lap meja, haha!”
Aku maju. Kali ini aku tak bisa diam.
“STOP! Jangan ganggu dia lagi!”
“Mau jadi pahlawan kamu?” salah satu dari mereka menantang.
“Kalau membela yang tertindas disebut pahlawan, maka aku rela dipanggil begitu.
Kalian pikir keren merendahkan orang lain? Kalian cuma menambah daftar luka mental orang di kampus ini!”
Kejadian itu sampai ke telinga dosen PA. Geng itu dipanggil. Dosen PA lalu memulai program anti-bullying di kampus.
Kini, setelah semua itu, aku sadar…
Aku bukan Cinderella. Tapi aku Putri — dengan pilihan, keberanian, dan kepedulian yang kutanam dari rumah hingga ke kampus.
Aku belajar bahwa menjadi baik bukan tentang dongeng, tapi tentang memilih untuk peduli saat yang lain diam.
Tentang berani menolong, walau terlambat. Tentang berani bersuara, walau sendirian.
Dan jika hari ini aku harus memilih, maka aku akan tetap menjadi Putri yang sama —
Bukan yang menunggu diselamatkan,
tapi yang tak ragu menyelamatkan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






