Dengarkan Artikel
Oleh : Juni Ahyar
Malam belum benar-benar gelap saat Azmi membuka matanya. Lampu kecil di pojok kamar memancar redup. Sajadah yang tergelar sejak maghrib masih berada di tempatnya. Namun hatinya tetap kosong, sesepi langit malam yang kehilangan bintang.
Ia telah melakukan salat malam. Tapi ia tahu, itu bukanlah salat seperti dulu. Tidak ada gemetar dalam sujud. Tidak ada rasa dekat saat menadahkan tangan. Doanya hanya barisan kalimat hafalan yang hilang makna. Hatinya beku.
Ia duduk termenung. Wajahnya menua oleh renungan. Dalam keheningan itu, ia merasa jauh dari Allah. Bukan karena Allah menjauh, tapi karena dirinya sendiri yang telah berpaling.
Azmi dulu seorang santri yang teguh. Di pesantren, ia dikenal sebagai anak yang giat, tidak pernah meninggalkan tahajjud, dan selalu menangis saat membaca Al-Qur’an. Tapi sejak lulus dan bekerja di kota, semuanya berubah. Rutinitas mengganti ibadah. Ambisi mengganti niat. Dunia menggantikan akhirat.
Bulan Ramadhan kemarin berlalu tanpa semangat. Tak ada malam-malam yang diisi qiyam. Tak ada tadarus yang tulus. Hanya sekadar menjalankan kewajiban, tanpa ruh. Yang ia cari bukan lagi ridha Allah, tapi target kerja dan status sosial.
Suatu hari, di sela liburannya ke kampung, Azmi berkunjung ke rumah Syaikh Mahmud, gurunya dulu di pesantren. Lelaki sepuh itu masih setia dengan rutinitasnya: membaca kitab kuning dan menerima tamu dengan senyum penuh kasih.
Azmi mencium tangan gurunya dan duduk bersimpuh seperti santri kecil yang ingin belajar kembali.
“Abuya,” kata Azmi lirih, “Mengapa Allah tidak menghukum saya, padahal saya telah banyak lalai dan berbuat dosa?”
Syaikh Mahmud menatap Azmi dalam-dalam. Sorot matanya seperti menembus dinding dada yang rapuh.
“Anakku,” jawabnya lembut, “Berapa kali Allah telah menghukummu, tapi kamu tidak sadar?”
Azmi terdiam. Keningnya berkerut. Ia tak merasa pernah ditimpa musibah besar.
“Bukankah kamu dulu merasakan manisnya ibadah?” lanjut Syaikh Mahmud. “Dulu kamu menangis saat sujud, kini kamu berdiri tanpa rasa. Dulu kamu tak sabar ingin membaca Al-Qur’an, kini kamu merasa malas. Bukankah itu tanda bahwa Allah telah menarik nikmat terbesar dari dirimu…?”
📚 Artikel Terkait
Suasana menjadi sunyi. Bahkan angin pun terasa enggan berhembus. Azmi menunduk, merasa hatinya remuk.
“Hukuman terbesar, Azmi, bukan kehilangan uang atau jabatan. Tapi ketika hati dibiarkan keras. Ketika kamu tidak lagi peduli apakah Allah ridha atau tidak. Ketika dosa terasa ringan, dan taat terasa berat.
Ketika musim-musim ibadah berlalu, tapi kamu tidak diberi taufik untuk memanfaatkannya.”
Air mata Azmi mulai jatuh. Ia sadar, bahwa selama ini Allah telah menegur — bukan dengan suara, tapi dengan kehilangan rasa.
“Dan ingat, anakku,” lanjut sang guru, “Seorang hamba bisa diharamkan dari taufik karena dosa-dosanya. Kalau kamu merasa tidak mampu bangun malam, tidak kuat membaca Al-Qur’an, dan sulit berbuat baik… bisa jadi itu karena dosa yang telah lama tidak kamu tangisi.”
Azmi menangis seperti anak kecil. Sesal dan takut bergumul dalam dadanya.
“Apa yang harus saya lakukan, Abuya?” tanyanya di sela isak.
Syaikh Mahmud tersenyum. “Kembali. Seperti dulu kamu datang ke pesantren ini. Bawa hatimu kembali ke Allah. Minta ampun. Bangun malam. Bacalah Al-Qur’an meski kamu belum bisa menangis lagi.
Jangan berhenti, walau kamu terjatuh berkali-kali. Karena Allah tidak akan meninggalkan hamba yang terus mengetuk pintu-Nya.”
Hari itu Azmi pulang dengan hati yang mulai bergetar. Untuk pertama kali dalam sekian bulan, ia merasa Allah tidak meninggalkannya — hanya sedang menunggu ia sadar.
Malam itu, Azmi berdiri dalam gelap. Sajadah yang lama terabaikan kini kembali bersaksi. Ia menadahkan tangan, dan dalam suara paling lirih, ia berbisik,
“Ya Allah… kembalikan aku. Jangan biarkan aku hidup tanpa rasa takut kepada-Mu. Jangan biarkan aku mati dalam keadaan Engkau murka.”
Dan malam itu, tangisnya kembali hadir.
Tangis seorang hamba yang akhirnya sadar — bahwa diamnya Allah adalah teguran paling dalam, dan hilangnya taufik adalah hukuman paling sunyi.
Cerpen ini mengajak kita semua untuk merenungi bentuk hukuman Allah yang tidak selalu berupa bencana atau kehilangan, tetapi bisa jadi berupa kerasnya hati dan jauhnya taufik dari kebaikan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






