POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Ketika Allah Tidak Lagi Menegur dengan Suara

RedaksiOleh Redaksi
July 16, 2025
Ketika Allah Tidak Lagi Menegur dengan Suara
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh : Juni Ahyar

Malam belum benar-benar gelap saat Azmi membuka matanya. Lampu kecil di pojok kamar memancar redup. Sajadah yang tergelar sejak maghrib masih berada di tempatnya. Namun hatinya tetap kosong, sesepi langit malam yang kehilangan bintang.

Ia telah melakukan salat malam. Tapi ia tahu, itu bukanlah salat seperti dulu. Tidak ada gemetar dalam sujud. Tidak ada rasa dekat saat menadahkan tangan. Doanya hanya barisan kalimat hafalan yang hilang makna. Hatinya beku.

Ia duduk termenung. Wajahnya menua oleh renungan. Dalam keheningan itu, ia merasa jauh dari Allah. Bukan karena Allah menjauh, tapi karena dirinya sendiri yang telah berpaling.

Azmi dulu seorang santri yang teguh. Di pesantren, ia dikenal sebagai anak yang giat, tidak pernah meninggalkan tahajjud, dan selalu menangis saat membaca Al-Qur’an. Tapi sejak lulus dan bekerja di kota, semuanya berubah. Rutinitas mengganti ibadah. Ambisi mengganti niat. Dunia menggantikan akhirat.

Bulan Ramadhan kemarin berlalu tanpa semangat. Tak ada malam-malam yang diisi qiyam. Tak ada tadarus yang tulus. Hanya sekadar menjalankan kewajiban, tanpa ruh. Yang ia cari bukan lagi ridha Allah, tapi target kerja dan status sosial.

Suatu hari, di sela liburannya ke kampung, Azmi berkunjung ke rumah Syaikh Mahmud, gurunya dulu di pesantren. Lelaki sepuh itu masih setia dengan rutinitasnya: membaca kitab kuning dan menerima tamu dengan senyum penuh kasih.

Azmi mencium tangan gurunya dan duduk bersimpuh seperti santri kecil yang ingin belajar kembali.

“Abuya,” kata Azmi lirih, “Mengapa Allah tidak menghukum saya, padahal saya telah banyak lalai dan berbuat dosa?”

Syaikh Mahmud menatap Azmi dalam-dalam. Sorot matanya seperti menembus dinding dada yang rapuh.

“Anakku,” jawabnya lembut, “Berapa kali Allah telah menghukummu, tapi kamu tidak sadar?”

Azmi terdiam. Keningnya berkerut. Ia tak merasa pernah ditimpa musibah besar.

“Bukankah kamu dulu merasakan manisnya ibadah?” lanjut Syaikh Mahmud. “Dulu kamu menangis saat sujud, kini kamu berdiri tanpa rasa. Dulu kamu tak sabar ingin membaca Al-Qur’an, kini kamu merasa malas. Bukankah itu tanda bahwa Allah telah menarik nikmat terbesar dari dirimu…?”

📚 Artikel Terkait

Kota Kecil yang Kurindukan

Saksi Bisu

Erril Telah Pulang

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Suasana menjadi sunyi. Bahkan angin pun terasa enggan berhembus. Azmi menunduk, merasa hatinya remuk.

“Hukuman terbesar, Azmi, bukan kehilangan uang atau jabatan. Tapi ketika hati dibiarkan keras. Ketika kamu tidak lagi peduli apakah Allah ridha atau tidak. Ketika dosa terasa ringan, dan taat terasa berat. 

Ketika musim-musim ibadah berlalu, tapi kamu tidak diberi taufik untuk memanfaatkannya.”

Air mata Azmi mulai jatuh. Ia sadar, bahwa selama ini Allah telah menegur — bukan dengan suara, tapi dengan kehilangan rasa.

“Dan ingat, anakku,” lanjut sang guru, “Seorang hamba bisa diharamkan dari taufik karena dosa-dosanya. Kalau kamu merasa tidak mampu bangun malam, tidak kuat membaca Al-Qur’an, dan sulit berbuat baik… bisa jadi itu karena dosa yang telah lama tidak kamu tangisi.”

Azmi menangis seperti anak kecil. Sesal dan takut bergumul dalam dadanya.

“Apa yang harus saya lakukan, Abuya?” tanyanya di sela isak.

Syaikh Mahmud tersenyum. “Kembali. Seperti dulu kamu datang ke pesantren ini. Bawa hatimu kembali ke Allah. Minta ampun. Bangun malam. Bacalah Al-Qur’an meski kamu belum bisa menangis lagi. 

Jangan berhenti, walau kamu terjatuh berkali-kali. Karena Allah tidak akan meninggalkan hamba yang terus mengetuk pintu-Nya.”

Hari itu Azmi pulang dengan hati yang mulai bergetar. Untuk pertama kali dalam sekian bulan, ia merasa Allah tidak meninggalkannya — hanya sedang menunggu ia sadar.

Malam itu, Azmi berdiri dalam gelap. Sajadah yang lama terabaikan kini kembali bersaksi. Ia menadahkan tangan, dan dalam suara paling lirih, ia berbisik,

“Ya Allah… kembalikan aku. Jangan biarkan aku hidup tanpa rasa takut kepada-Mu. Jangan biarkan aku mati dalam keadaan Engkau murka.”

Dan malam itu, tangisnya kembali hadir.

Tangis seorang hamba yang akhirnya sadar — bahwa diamnya Allah adalah teguran paling dalam, dan hilangnya taufik adalah hukuman paling sunyi.

Cerpen ini mengajak kita semua untuk merenungi bentuk hukuman Allah yang tidak selalu berupa bencana atau kehilangan, tetapi bisa jadi berupa kerasnya hati dan jauhnya taufik dari kebaikan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share5SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Kenapa Warga Ramai Menolak Program Transmigrasi?

Kenapa Warga Ramai Menolak Program Transmigrasi?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00