• Latest
Ketika Allah Tidak Lagi Menegur dengan Suara

Ketika Allah Tidak Lagi Menegur dengan Suara

Juli 16, 2025
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
IMG_0541

Rina

Maret 29, 2026
76c605df-1b07-40f1-ab7e-189b529b4818

Filosofi Ketupat

Maret 29, 2026
96c3f2f0-9b1a-4f4e-8d0d-096b123c0888

Ramadhan di Negeri Seberang,  Membangun Komunikasi Lintas Negara

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Ketika Allah Tidak Lagi Menegur dengan Suara

Redaksiby Redaksi
Agustus 4, 2025
Reading Time: 4 mins read
Ketika Allah Tidak Lagi Menegur dengan Suara
597
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh : Juni Ahyar

Malam belum benar-benar gelap saat Azmi membuka matanya. Lampu kecil di pojok kamar memancar redup. Sajadah yang tergelar sejak maghrib masih berada di tempatnya. Namun hatinya tetap kosong, sesepi langit malam yang kehilangan bintang.

Ia telah melakukan salat malam. Tapi ia tahu, itu bukanlah salat seperti dulu. Tidak ada gemetar dalam sujud. Tidak ada rasa dekat saat menadahkan tangan. Doanya hanya barisan kalimat hafalan yang hilang makna. Hatinya beku.

Ia duduk termenung. Wajahnya menua oleh renungan. Dalam keheningan itu, ia merasa jauh dari Allah. Bukan karena Allah menjauh, tapi karena dirinya sendiri yang telah berpaling.

Azmi dulu seorang santri yang teguh. Di pesantren, ia dikenal sebagai anak yang giat, tidak pernah meninggalkan tahajjud, dan selalu menangis saat membaca Al-Qur’an. Tapi sejak lulus dan bekerja di kota, semuanya berubah. Rutinitas mengganti ibadah. Ambisi mengganti niat. Dunia menggantikan akhirat.

Bulan Ramadhan kemarin berlalu tanpa semangat. Tak ada malam-malam yang diisi qiyam. Tak ada tadarus yang tulus. Hanya sekadar menjalankan kewajiban, tanpa ruh. Yang ia cari bukan lagi ridha Allah, tapi target kerja dan status sosial.

Suatu hari, di sela liburannya ke kampung, Azmi berkunjung ke rumah Syaikh Mahmud, gurunya dulu di pesantren. Lelaki sepuh itu masih setia dengan rutinitasnya: membaca kitab kuning dan menerima tamu dengan senyum penuh kasih.

Azmi mencium tangan gurunya dan duduk bersimpuh seperti santri kecil yang ingin belajar kembali.

“Abuya,” kata Azmi lirih, “Mengapa Allah tidak menghukum saya, padahal saya telah banyak lalai dan berbuat dosa?”

Syaikh Mahmud menatap Azmi dalam-dalam. Sorot matanya seperti menembus dinding dada yang rapuh.

“Anakku,” jawabnya lembut, “Berapa kali Allah telah menghukummu, tapi kamu tidak sadar?”

Azmi terdiam. Keningnya berkerut. Ia tak merasa pernah ditimpa musibah besar.

“Bukankah kamu dulu merasakan manisnya ibadah?” lanjut Syaikh Mahmud. “Dulu kamu menangis saat sujud, kini kamu berdiri tanpa rasa. Dulu kamu tak sabar ingin membaca Al-Qur’an, kini kamu merasa malas. Bukankah itu tanda bahwa Allah telah menarik nikmat terbesar dari dirimu…?”

Suasana menjadi sunyi. Bahkan angin pun terasa enggan berhembus. Azmi menunduk, merasa hatinya remuk.

“Hukuman terbesar, Azmi, bukan kehilangan uang atau jabatan. Tapi ketika hati dibiarkan keras. Ketika kamu tidak lagi peduli apakah Allah ridha atau tidak. Ketika dosa terasa ringan, dan taat terasa berat. 

Baca Juga

Kenangan yang terlupakan di cermin

Kehilangan Cinta Secara Karena Egois

Maret 27, 2026
Emak Mananti Lebaran

Emak Mananti Lebaran

Maret 23, 2026

Aku Merindu

Maret 17, 2026

Ketika musim-musim ibadah berlalu, tapi kamu tidak diberi taufik untuk memanfaatkannya.”

Air mata Azmi mulai jatuh. Ia sadar, bahwa selama ini Allah telah menegur — bukan dengan suara, tapi dengan kehilangan rasa.

“Dan ingat, anakku,” lanjut sang guru, “Seorang hamba bisa diharamkan dari taufik karena dosa-dosanya. Kalau kamu merasa tidak mampu bangun malam, tidak kuat membaca Al-Qur’an, dan sulit berbuat baik… bisa jadi itu karena dosa yang telah lama tidak kamu tangisi.”

Azmi menangis seperti anak kecil. Sesal dan takut bergumul dalam dadanya.

“Apa yang harus saya lakukan, Abuya?” tanyanya di sela isak.

Syaikh Mahmud tersenyum. “Kembali. Seperti dulu kamu datang ke pesantren ini. Bawa hatimu kembali ke Allah. Minta ampun. Bangun malam. Bacalah Al-Qur’an meski kamu belum bisa menangis lagi. 

ADVERTISEMENT

Jangan berhenti, walau kamu terjatuh berkali-kali. Karena Allah tidak akan meninggalkan hamba yang terus mengetuk pintu-Nya.”

Hari itu Azmi pulang dengan hati yang mulai bergetar. Untuk pertama kali dalam sekian bulan, ia merasa Allah tidak meninggalkannya — hanya sedang menunggu ia sadar.

Malam itu, Azmi berdiri dalam gelap. Sajadah yang lama terabaikan kini kembali bersaksi. Ia menadahkan tangan, dan dalam suara paling lirih, ia berbisik,

“Ya Allah… kembalikan aku. Jangan biarkan aku hidup tanpa rasa takut kepada-Mu. Jangan biarkan aku mati dalam keadaan Engkau murka.”

Dan malam itu, tangisnya kembali hadir.

Tangis seorang hamba yang akhirnya sadar — bahwa diamnya Allah adalah teguran paling dalam, dan hilangnya taufik adalah hukuman paling sunyi.

Cerpen ini mengajak kita semua untuk merenungi bentuk hukuman Allah yang tidak selalu berupa bencana atau kehilangan, tetapi bisa jadi berupa kerasnya hati dan jauhnya taufik dari kebaikan.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 344x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 306x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 256x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 251x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 196x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post
Kenapa Warga Ramai Menolak Program Transmigrasi?

Kenapa Warga Ramai Menolak Program Transmigrasi?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com