Dengarkan Artikel
Oleh Dayan Abrahman
Di satu sisi, kita bangga melihat mahasiswa Aceh hari ini semakin aktif berbicara, berdiskusi, bahkan membangun jejaring global lewat media sosial. Di sisi lain, muncul kekhawatiran yang tak kalah penting: apakah ruang digital yang mereka huni juga menjadi ruang yang mendidik, menyejukkan, dan mencerminkan nilai-nilai Islam yang menjadi identitas masyarakat Aceh?
Pertanyaan ini mungkin terasa klise. Tapi justru karena ia sering diabaikan, kita perlu menegaskannya kembali—terutama ketika kita menyaksikan betapa mudahnya narasi perdamaian tergerus oleh konten-konten instan, provokatif, atau bahkan destruktif yang beredar di linimasa.
Aceh punya sejarah yang panjang tentang luka dan upaya rekonsiliasi. Syariat Islam yang diterapkan bukan hanya simbol hukum, melainkan ikhtiar kolektif untuk merawat nilai dan martabat masyarakat setelah konflik yang berkepanjangan. Tapi nilai itu tak akan hidup hanya lewat peraturan. Ia hidup kalau ditanamkan, ditumbuhkan, dan dibiasakan—terutama oleh generasi mudanya.
Dan di sinilah media sosial menjadi medan yang sangat penting.
Media sosial, bagi mahasiswa Aceh, adalah ruang ekspresi sekaligus ruang pendidikan. Mereka bukan hanya konsumen konten, tapi juga produsen makna. Apa yang mereka unggah, komentari, dan bagikan, punya pengaruh yang lebih besar dari sekadar status viral. Ia membentuk citra Islam di mata sesama pengguna, baik di Aceh maupun di luar.
Namun masalahnya, tidak semua mahasiswa sadar bahwa mereka tengah membangun narasi besar tentang Islam dan perdamaian. Banyak yang hanya mengikuti arus tren, tanpa refleksi. Ada yang dengan mudah menyebarkan potongan ayat tanpa konteks, atau menyuarakan semangat keislaman tanpa empati. Akibatnya, dakwah menjadi kaku, dialog menjadi bising, dan perdamaian kehilangan daya tariknya.
📚 Artikel Terkait
Padahal, Islam bukan hanya tentang kebenaran, tapi juga tentang cara menyampaikannya. Rasulullah mengajarkan dakwah bil hikmah—dengan kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan hari ini, di era digital, artinya adalah kemampuan untuk menyampaikan pesan yang benar dengan cara yang tepat, di ruang yang padat, kepada audiens yang sangat beragam.
Mahasiswa Aceh sebenarnya punya potensi besar untuk mengisi ruang digital dengan narasi Islam yang damai, progresif, dan membumi. Mereka adalah generasi pasca-konflik yang telah menikmati manfaat perdamaian. Mereka belajar di kampus, berdiskusi lintas fakultas, dan punya akses luas pada literatur Islam global. Mereka juga hidup dalam lingkungan sosial yang masih sangat terikat dengan norma syariat. Maka seharusnya, mereka bisa menjadi jembatan—antara nilai lokal yang religius dan dunia global yang liberal.
Tentu bukan hal mudah. Tapi bukan berarti mustahil. Yang dibutuhkan adalah kesadaran baru: bahwa media sosial bukan sekadar hiburan, tapi ladang dakwah. Bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya mengejar gelar, tapi juga menjalankan tanggung jawab moral sebagai penjaga narasi Islam yang damai.
Kita perlu mengajak kampus-kampus di Aceh untuk lebih serius mendorong literasi digital yang berbasis nilai Islam. Bukan dengan mengekang, tapi dengan membimbing. Kita juga perlu mengajak para ulama dan dosen untuk ikut aktif di media sosial, bukan hanya sebagai pengkritik, tapi sebagai penyeimbang.
Dan tentu saja, kita perlu terus mendengar suara mahasiswa itu sendiri. Apa yang mereka rasakan? Apa yang mereka perjuangkan? Apa bentuk “damai” yang mereka bayangkan? Dengan mendengarkan mereka, kita tidak hanya membimbing, tapi juga belajar.
Sebagai peneliti dan pemerhati isu syariat dan media sosial, saya percaya bahwa masa depan perdamaian di Aceh—dan bahkan di dunia Islam—akan sangat ditentukan oleh bagaimana generasi mudanya memaknai peran mereka di ruang digital. Apakah mereka akan menjadi pengikut tren yang pasif? Atau pelopor narasi yang membebaskan dan menyejukkan?
Damai tidak lahir dari keseragaman. Damai lahir dari ruang yang memberi tempat bagi perbedaan, tapi juga dilandasi oleh nilai-nilai yang luhur. Dan Islam, sebagai rahmat bagi semesta, punya semua itu—jika kita mau merawatnya, termasuk lewat cara yang paling sederhana: dengan satu unggahan yang bijak, satu komentar yang menenangkan, satu diskusi yang mencerahkan.
Maka mari kita mulai dari sekarang. Dari satu mahasiswa. Dari satu akun. Dari satu niat baik untuk menjadikan ruang digital sebagai ruang ibadah, ruang dakwah, dan ruang perdamaian yang sesungguhnya.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






