• Latest
Damai Digital ala Mahasiswa Aceh: Menjaga Nilai Islam di Tengah Gelombang Media Sosial - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | Artikel | Potret Online

Damai Digital ala Mahasiswa Aceh: Menjaga Nilai Islam di Tengah Gelombang Media Sosial

Juli 12, 2025
Damai Digital ala Mahasiswa Aceh: Menjaga Nilai Islam di Tengah Gelombang Media Sosial - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Artikel | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
Damai Digital ala Mahasiswa Aceh: Menjaga Nilai Islam di Tengah Gelombang Media Sosial - 09ff0262 2fb8 4c93 9f84 06e6009c9293 | Artikel | Potret Online

Menanti Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Bersinergi Membangun Literasi Anak Negeri

Maret 31, 2026
Ilustrasi ketidakadilan hukum terhadap rakyat kecil

Hukum yang “Sakit” Hati : Rakyat Kecil Hanya Bisa Mengeluh

Maret 31, 2026
0bbaafe3-989c-40ac-89fc-d0335c56d343

Dubai Kota Impian Pelan-pelan Menuju Kota Hantu

Maret 31, 2026
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result
Damai Digital ala Mahasiswa Aceh: Menjaga Nilai Islam di Tengah Gelombang Media Sosial - 99840128 d4ca 41aa a17a 4104b004adac | Artikel | Potret Online

Damai Digital ala Mahasiswa Aceh: Menjaga Nilai Islam di Tengah Gelombang Media Sosial

Dayan Abdurrahman by Dayan Abdurrahman
Juli 12, 2025
in Artikel, Mahasiswa, Opini
Reading Time: 3 mins read
0
589
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Dayan Abrahman

Di satu sisi, kita bangga melihat mahasiswa Aceh hari ini semakin aktif berbicara, berdiskusi, bahkan membangun jejaring global lewat media sosial. Di sisi lain, muncul kekhawatiran yang tak kalah penting: apakah ruang digital yang mereka huni juga menjadi ruang yang mendidik, menyejukkan, dan mencerminkan nilai-nilai Islam yang menjadi identitas masyarakat Aceh?

Baca Juga

Damai Digital ala Mahasiswa Aceh: Menjaga Nilai Islam di Tengah Gelombang Media Sosial - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Artikel | Potret Online

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026

Pertanyaan ini mungkin terasa klise. Tapi justru karena ia sering diabaikan, kita perlu menegaskannya kembali—terutama ketika kita menyaksikan betapa mudahnya narasi perdamaian tergerus oleh konten-konten instan, provokatif, atau bahkan destruktif yang beredar di linimasa.

Aceh punya sejarah yang panjang tentang luka dan upaya rekonsiliasi. Syariat Islam yang diterapkan bukan hanya simbol hukum, melainkan ikhtiar kolektif untuk merawat nilai dan martabat masyarakat setelah konflik yang berkepanjangan. Tapi nilai itu tak akan hidup hanya lewat peraturan. Ia hidup kalau ditanamkan, ditumbuhkan, dan dibiasakan—terutama oleh generasi mudanya.

Dan di sinilah media sosial menjadi medan yang sangat penting.

Media sosial, bagi mahasiswa Aceh, adalah ruang ekspresi sekaligus ruang pendidikan. Mereka bukan hanya konsumen konten, tapi juga produsen makna. Apa yang mereka unggah, komentari, dan bagikan, punya pengaruh yang lebih besar dari sekadar status viral. Ia membentuk citra Islam di mata sesama pengguna, baik di Aceh maupun di luar.

Namun masalahnya, tidak semua mahasiswa sadar bahwa mereka tengah membangun narasi besar tentang Islam dan perdamaian. Banyak yang hanya mengikuti arus tren, tanpa refleksi. Ada yang dengan mudah menyebarkan potongan ayat tanpa konteks, atau menyuarakan semangat keislaman tanpa empati. Akibatnya, dakwah menjadi kaku, dialog menjadi bising, dan perdamaian kehilangan daya tariknya.

Padahal, Islam bukan hanya tentang kebenaran, tapi juga tentang cara menyampaikannya. Rasulullah mengajarkan dakwah bil hikmah—dengan kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan hari ini, di era digital, artinya adalah kemampuan untuk menyampaikan pesan yang benar dengan cara yang tepat, di ruang yang padat, kepada audiens yang sangat beragam.

Mahasiswa Aceh sebenarnya punya potensi besar untuk mengisi ruang digital dengan narasi Islam yang damai, progresif, dan membumi. Mereka adalah generasi pasca-konflik yang telah menikmati manfaat perdamaian. Mereka belajar di kampus, berdiskusi lintas fakultas, dan punya akses luas pada literatur Islam global. Mereka juga hidup dalam lingkungan sosial yang masih sangat terikat dengan norma syariat. Maka seharusnya, mereka bisa menjadi jembatan—antara nilai lokal yang religius dan dunia global yang liberal.

Tentu bukan hal mudah. Tapi bukan berarti mustahil. Yang dibutuhkan adalah kesadaran baru: bahwa media sosial bukan sekadar hiburan, tapi ladang dakwah. Bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya mengejar gelar, tapi juga menjalankan tanggung jawab moral sebagai penjaga narasi Islam yang damai.

Kita perlu mengajak kampus-kampus di Aceh untuk lebih serius mendorong literasi digital yang berbasis nilai Islam. Bukan dengan mengekang, tapi dengan membimbing. Kita juga perlu mengajak para ulama dan dosen untuk ikut aktif di media sosial, bukan hanya sebagai pengkritik, tapi sebagai penyeimbang.

Dan tentu saja, kita perlu terus mendengar suara mahasiswa itu sendiri. Apa yang mereka rasakan? Apa yang mereka perjuangkan? Apa bentuk “damai” yang mereka bayangkan? Dengan mendengarkan mereka, kita tidak hanya membimbing, tapi juga belajar.

Sebagai peneliti dan pemerhati isu syariat dan media sosial, saya percaya bahwa masa depan perdamaian di Aceh—dan bahkan di dunia Islam—akan sangat ditentukan oleh bagaimana generasi mudanya memaknai peran mereka di ruang digital. Apakah mereka akan menjadi pengikut tren yang pasif? Atau pelopor narasi yang membebaskan dan menyejukkan?

Damai tidak lahir dari keseragaman. Damai lahir dari ruang yang memberi tempat bagi perbedaan, tapi juga dilandasi oleh nilai-nilai yang luhur. Dan Islam, sebagai rahmat bagi semesta, punya semua itu—jika kita mau merawatnya, termasuk lewat cara yang paling sederhana: dengan satu unggahan yang bijak, satu komentar yang menenangkan, satu diskusi yang mencerahkan.

ADVERTISEMENT

Maka mari kita mulai dari sekarang. Dari satu mahasiswa. Dari satu akun. Dari satu niat baik untuk menjadikan ruang digital sebagai ruang ibadah, ruang dakwah, dan ruang perdamaian yang sesungguhnya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 353x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 318x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 310x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 274x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 201x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
SummarizeShare236Tweet147
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Baca Juga

Damai Digital ala Mahasiswa Aceh: Menjaga Nilai Islam di Tengah Gelombang Media Sosial - 0e417695 171f 4238 b08b 77387e695a57 | Artikel | Potret Online
Artikel

Dari Geopolitik ke Dapur Rakyat: Krisis Global dan Rapuhnya Ekonomi Indonesia

Maret 31, 2026
ba05a86a-c490-46bf-9ae8-c75ef1da62eb
Artikel

Nasrallah dan Jugendliteratur

Maret 31, 2026
cd371ba6-715d-447b-b94a-30123cf2d952
Pendidikan

Pendidikan Hadapi Ancaman Nyata

Maret 31, 2026
Ilustrasi Ngopi Bersama Ali Shariati dan Nietsche
Artikel

Aceh Meniru Jakarta

Maret 31, 2026
Next Post
Damai Digital ala Mahasiswa Aceh: Menjaga Nilai Islam di Tengah Gelombang Media Sosial - 2025 07 12 08 55 48 | Artikel | Potret Online

INDONESIA BERSETERU

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com