POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Damai Digital ala Mahasiswa Aceh: Menjaga Nilai Islam di Tengah Gelombang Media Sosial

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
July 12, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Dayan Abrahman

Di satu sisi, kita bangga melihat mahasiswa Aceh hari ini semakin aktif berbicara, berdiskusi, bahkan membangun jejaring global lewat media sosial. Di sisi lain, muncul kekhawatiran yang tak kalah penting: apakah ruang digital yang mereka huni juga menjadi ruang yang mendidik, menyejukkan, dan mencerminkan nilai-nilai Islam yang menjadi identitas masyarakat Aceh?

Pertanyaan ini mungkin terasa klise. Tapi justru karena ia sering diabaikan, kita perlu menegaskannya kembali—terutama ketika kita menyaksikan betapa mudahnya narasi perdamaian tergerus oleh konten-konten instan, provokatif, atau bahkan destruktif yang beredar di linimasa.

Aceh punya sejarah yang panjang tentang luka dan upaya rekonsiliasi. Syariat Islam yang diterapkan bukan hanya simbol hukum, melainkan ikhtiar kolektif untuk merawat nilai dan martabat masyarakat setelah konflik yang berkepanjangan. Tapi nilai itu tak akan hidup hanya lewat peraturan. Ia hidup kalau ditanamkan, ditumbuhkan, dan dibiasakan—terutama oleh generasi mudanya.

Dan di sinilah media sosial menjadi medan yang sangat penting.

Media sosial, bagi mahasiswa Aceh, adalah ruang ekspresi sekaligus ruang pendidikan. Mereka bukan hanya konsumen konten, tapi juga produsen makna. Apa yang mereka unggah, komentari, dan bagikan, punya pengaruh yang lebih besar dari sekadar status viral. Ia membentuk citra Islam di mata sesama pengguna, baik di Aceh maupun di luar.

Namun masalahnya, tidak semua mahasiswa sadar bahwa mereka tengah membangun narasi besar tentang Islam dan perdamaian. Banyak yang hanya mengikuti arus tren, tanpa refleksi. Ada yang dengan mudah menyebarkan potongan ayat tanpa konteks, atau menyuarakan semangat keislaman tanpa empati. Akibatnya, dakwah menjadi kaku, dialog menjadi bising, dan perdamaian kehilangan daya tariknya.

📚 Artikel Terkait

Memaknai Ramadan yang Ditunggu-Tunggu

Dialog di Antara Kaki-kaki Langit bersama Ananda Sukarlan

SELAMATKAN BUMI SELAMATKAN EKONOMI

HIJRAH DI BATAS PASRAH

Padahal, Islam bukan hanya tentang kebenaran, tapi juga tentang cara menyampaikannya. Rasulullah mengajarkan dakwah bil hikmah—dengan kebijaksanaan. Dan kebijaksanaan hari ini, di era digital, artinya adalah kemampuan untuk menyampaikan pesan yang benar dengan cara yang tepat, di ruang yang padat, kepada audiens yang sangat beragam.

Mahasiswa Aceh sebenarnya punya potensi besar untuk mengisi ruang digital dengan narasi Islam yang damai, progresif, dan membumi. Mereka adalah generasi pasca-konflik yang telah menikmati manfaat perdamaian. Mereka belajar di kampus, berdiskusi lintas fakultas, dan punya akses luas pada literatur Islam global. Mereka juga hidup dalam lingkungan sosial yang masih sangat terikat dengan norma syariat. Maka seharusnya, mereka bisa menjadi jembatan—antara nilai lokal yang religius dan dunia global yang liberal.

Tentu bukan hal mudah. Tapi bukan berarti mustahil. Yang dibutuhkan adalah kesadaran baru: bahwa media sosial bukan sekadar hiburan, tapi ladang dakwah. Bahwa menjadi mahasiswa bukan hanya mengejar gelar, tapi juga menjalankan tanggung jawab moral sebagai penjaga narasi Islam yang damai.

Kita perlu mengajak kampus-kampus di Aceh untuk lebih serius mendorong literasi digital yang berbasis nilai Islam. Bukan dengan mengekang, tapi dengan membimbing. Kita juga perlu mengajak para ulama dan dosen untuk ikut aktif di media sosial, bukan hanya sebagai pengkritik, tapi sebagai penyeimbang.

Dan tentu saja, kita perlu terus mendengar suara mahasiswa itu sendiri. Apa yang mereka rasakan? Apa yang mereka perjuangkan? Apa bentuk “damai” yang mereka bayangkan? Dengan mendengarkan mereka, kita tidak hanya membimbing, tapi juga belajar.

Sebagai peneliti dan pemerhati isu syariat dan media sosial, saya percaya bahwa masa depan perdamaian di Aceh—dan bahkan di dunia Islam—akan sangat ditentukan oleh bagaimana generasi mudanya memaknai peran mereka di ruang digital. Apakah mereka akan menjadi pengikut tren yang pasif? Atau pelopor narasi yang membebaskan dan menyejukkan?

Damai tidak lahir dari keseragaman. Damai lahir dari ruang yang memberi tempat bagi perbedaan, tapi juga dilandasi oleh nilai-nilai yang luhur. Dan Islam, sebagai rahmat bagi semesta, punya semua itu—jika kita mau merawatnya, termasuk lewat cara yang paling sederhana: dengan satu unggahan yang bijak, satu komentar yang menenangkan, satu diskusi yang mencerahkan.

Maka mari kita mulai dari sekarang. Dari satu mahasiswa. Dari satu akun. Dari satu niat baik untuk menjadikan ruang digital sebagai ruang ibadah, ruang dakwah, dan ruang perdamaian yang sesungguhnya.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 84x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
INDONESIA BERSETERU

INDONESIA BERSETERU

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00