Dengarkan Artikel
Oleh :Nuriman Abdullah, S.Pd.I., M.Ed., Ph.D
Dosen Sosiologi Pendidikan pada UINSUNA Lhokseumawe
nuriman.abdul@gmail.com
Di zaman ini, gelar akademik tumbuh subur seperti jamur di musim hujan. Seminar ilmiah digelar di hotel bintang lima, skripsi ditulis dalam semalam (dengan sedikit bantuan jasa pengetikan daring), dan wisuda menjadi ajang kontes toga termewah. Ironisnya, di tengah kecanggihan ini, integritas justru terjun bebas ke jurang yang paling dalam.
Pertanyaannya pun sederhana, namun berduri:
Mengapa semakin tinggi gelar seseorang, justru semakin rendah moralnya?
Mungkin jawabannya juga sederhana: karena gelar itu mahal, tapi adab itu gratis. Dan kita semua tahu, dalam dunia kapitalisme akademik, yang mahal itulah yang dianggap penting.
Lihatlah realitas hari ini. Profesor bisa memalsukan data demi hibah penelitian. Doktor bisa membungkam kebenaran asal SK kenaikan pangkat aman. Dan pejabat bergelar panjang bisa dengan tenang membangun kepentingan pribadi dan CS yang rapi dan berkelanjutan—dengan wajah sumringah di depan kamera, sambil mengutip ayat suci di podium.
Tapi jangan khawatir, semua ini sudah diisyaratkan oleh Rasulullah SAW lebih dari 1.400 tahun yang lalu. Beliau bersabda:
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun penuh dengan penipuan. Pendusta dianggap jujur dan orang jujur dianggap pendusta. Pengkhianat diberi amanah, dan orang yang amanah dianggap pengkhianat. Dan yang berbicara adalah ruwaibidhah.”
(Sunan Ibnu Majah No. 4036, Bab Kitab al-Fitan)
Ruwaibidhah, kata Rasul. Siapa dia? Bukan sembarang orang bodoh, tapi orang bodoh yang nekat tampil di ruang publik, seolah-olah ia sang juru selamat. Jangan salah, di zaman ini, ruwaibidhah bisa punya gelar S3, jabatan strategis, bahkan akun media sosial dengan jutaan pengikut.
📚 Artikel Terkait
Mereka tidak perlu tahu isi kitab; asal bisa mengutip satu ayat dan tiga motivasi, mereka sudah dianggap tokoh panutan. Mereka bukan cuma bicara soal umat, tapi juga menentukan arah kebijakan bangsa—tentu saja, berdasarkan hasil survei dan bukan hasil perenungan.
Kita hidup di era industri pendidikan. Universitas berubah menjadi pabrik ijazah. Mahasiswa adalah konsumen, dosen adalah operator mesin. Gelar adalah produk utama, dan adab? Ah, itu hanya mata kuliah pilihan—kalau masih sempat.
Tak heran jika hari ini kita bisa menjumpai lulusan cumlaude tapi tak paham malu, doktor tapi mudah berbohong, profesor tapi tak punya keberanian menyuarakan kebenaran. Karena yang dicetak bukan manusia, tapi robot intelektual—cerdas, tapi tidak bijak; pintar, tapi tak takut Tuhan.
Allah SWT memberikan analogi yang tajam bagi kaum berilmu yang kehilangan nilai:
“Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab besar.”
(QS. Al-Jumu’ah: 5)
Sakit? Memang. Tapi akurat. Hari ini, banyak yang memikul gelar, tapi tidak memikul tanggung jawab. Banyak yang mengoleksi sertifikat, tapi gagal menjaga amanah. Dan dalam banyak kasus, keledai tampak lebih konsisten—setidaknya ia tidak mengkhianati beban yang ia bawa.
Solusinya?
Bukan memperpanjang daftar gelar di kartu nama. Yang kita butuhkan adalah reorientasi total—bukan hanya cuci otak, tapi juga ganti kepala: dari kepala penuh ambisi menjadi kepala yang tunduk pada Ilahi.
Pendidikan harus kembali menjadi taman adab, bukan ladang gengsi. Universitas harus menjadi tempat menyemai integritas, bukan menanam modal untuk kekuasaan. Dan yang paling penting, ilmu harus kembali disandingkan dengan takwa. Kalau tidak, pendidikan hanya akan melahirkan generasi ruwaibidhah baru—lebih canggih, lebih pintar, tapi lebih berbahaya.
Menjelang kiamat, kita tak bisa lagi berbangga dengan prestasi akademik semata. Di hadapan Allah, gelar profesor tidak otomatis lebih mulia dari penjual gorengan yang jujur. Yang akan diuji adalah hati, bukan ijazah. Yang ditimbang adalah amanah, bukan angka kredit.
“Tinggi gelar tak berarti tinggi budi, bila moral dikorbankan demi gengsi.”
Jadi, sebelum kita terlalu bangga memajang titel di depan nama, mari kita renungkan:
Apakah kita sedang mendidik manusia yang merdeka, atau hanya mencetak ruwaibidhah bergelar tinggi?
Karena jika jawabannya yang kedua, maka kiamat memang sudah sangat dekat.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






