Dengarkan Artikel
Oleh Aqila Azalea Tabrani Yunis
Kelas II SMPIC Anak Bangsa Banda Aceh
Hari itu, Sabtu, tanggal 5 Juni 2025 saya ikut rombangan ayah bersama teman-temannya yang kala itu mengadakan kegiatan sosial di Aceh Besar. Saya sangat senang karena bisa ikut Ayah dan ibu serta teman- teman ayah hingga sampai ke Jalin’ Jantho.
Sebelum sampai ke Jalin, rombongan singgah di Dayah Aza, Azzarah, di Indrapuri untuk menyerahkan bantuan alat-alat tulis kepada para santri di dayah tersebut. Bantuan itu adalah bantuan dari Komunitas Ayo Berbagi. Komunitas ini menyalurkan bantuan perlengkapan sekolah kepada anak-anak kurang mampu dan yatim piatu di Dayah Al Khairiyah Al-Aziziyah (Dayah Aza) dan SD Negeri 8 Jantho, Aceh Besar, Sabtu 5 Juli 2025. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka menyambut tahun ajaran baru 2025/2026.
Maka, sebelum ke Jalin, Jantho, rombongan kami singgah di dayah Aza dahulu untuk mengantarkan bantuan alat tulis tersebut. Ayah Bersama rombongan membagikan kepada Anak-anak yang sejak tadi sudah menunggu. Setiap Anak mendapat paket alat tulis yang dibawa.
Saya sendiri tidak ikut turun saat itu, hanya menyaksikan dari dalam mobil proses yang berlangsung. Tampak wajah Anak-anak gembira menerima bantuan tersebut. Mereka bersalaman saat menerima bantuan itu.
Setelah selesai menyerahkan paket bantuan alat tulis di Dayah Aza, rombongan berangkat menuju Jantho, Aceh Besar. Satu per satu mobil meninggalkan dayah dan bergerak menuju Jantho. Kami ke Jantho melewati Jalan TOL Sibanceh- Sigli. Perjalanan ke Jantho hanya beberapa menit dan kami keluar di pintu TOL jantho.
📚 Artikel Terkait
Ayah menghentikan mobil di depan sebuah warung nasi. Semua mobil ikut berhenti untuk membeli nasi, bekal makan siang, dan juga membeli snack dan minuman. Ada keripik ubi atau singkong produk lokal dan lain-lain. Lalu, kami melaju ke arah Jalin dengan melewati Jalan nulis yang di kiri dan kanan ditumbuhi semak-semak. Hingga kami sampai ke jembatan Jalin yang warna-warni berlantai kayu.
Kami melewati jembatan itu, sambil mendengar suara kayu jembatan yang membuat kami harus hati-hati. Setelah melewati jembatan, kami masuk sebuah kampung atau desa. Desa itu bernama desa Suka Tani. Kata ayah, di desa ini dahulu didiami oleh transmigran dari Jawa, lebih kurang 200 KK. Lalu, karena konflik, mereka lari meninggalkan desa. Konon, banyak yang pulang ke Jawa dan tidak kembali lagi. Saat ini penduduknya tinggal 30 KK lagi.
Setiba di desa Suka Tani, kami menuju ke sekolah yang letaknya di pinggir hutan kemiri. Sebuah bangunan sekolah yang lumayan besar, tapi hanya ads tujuh murid, di sekolah itu dan lebih banyak guru dari pada murid. Tidak ada murid, karena jumlah penduduk sangat sedikit dan juga ada orangtua yang menyekolahkan Anak ke luar desa itu.
Perjalanan ke Jalin terasa enak dan nyaman serta kita bisa menikmati pemandangan yang sangat indah dan saya sangat senang bisa bersama keluarga dan rombangan bisa menukmati Indahnya alam Jalin.
Kami menuju sungai Jalin dan parkir mobil di pinggir sungai. Di sini kami main air dan mandi. Airnya sangat dingin dan sejuk. Arus air tampak kencang. Saya dan kakak serta adik memilih mandi di pinggir, karena takut hanyut.
Sambil mandi, kami makan siang dan mandi lagi sepuasnya. Saya lihat ayah menyelam.
Lama sekali ia menyelam. Ia bertanding dengan I’m Fajar. Ayah lebih lama menyelam, karena ayah tidak merokok. Jadi bisa tahan nafas lebih lama.
Saat pulang, ayah meminta saya menulis pengalaman ini. Saya langsung menulis pengalaman ini karena saya mau jadi seperti ayah saya yang selalu menulis dan impian saya untuk menjadi penulis bisa terwujud. Kata ayah, kalau kita bisa menulis, kita akan mudah menulis tentang perjalanan menjelajahi dunia dan saya ingin suatu saat tiggal di amerika dan belajar di sana. Saya berusaha bisa jadi seperti ayah.
Jadi saya harus tetap semangat untuk belajar sapai berhasil untuk menuju impian, walaupun kita tidak suka, tapi kita tetap hurus belajar sampai nanti. Pasti itu berguna untuk kehidupan kita dan masa depan kita
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






