Dengarkan Artikel
Oleh Fajar Ilham
Jika kita meminjam sudut pandang Marx, bahwa sejarah manusia adalah sejarah perjuangan kelas sosial antara borjuis dan ploreta, maka akar dasarnya sudah pasti pada ‘kehendak berkuasa’ yang diperkenalkan oleh Nietszsche. Namun demikian, teori hegemoni dari Antonio Gramsci ini lahir karena dilatar belakangi oleh pemikiran Engels dan Marx.
Marx dan Engels, yang cenderung melihat institusi politik sebagai representasi dari struktur ekonomi, yang besifat dominasi kapitalis. Dengan begitu, Gramsci menawarkan suatu metode yang diperlukan untuk menghentikan dominasi kapitalis untuk menuju sosialisme.
Menurut pandangan Antony Gramsci, hegemoni memiliki ikatan erat dengan ideologi, dan konsep kekuasaan. Ia memandang hegemoni sebagai praktik dua arah dari dua kelas, yaitu; kelas pemiilik modal (borjuis) dan kelas pekerja (ploreta).
Praktik dua arah dari dua kelas ini, ialah; kelas borjuis membuat kelas proletar tidak memiliki pilihan lain selain membuat persetujuan baru dengan kalangan lain berdasarkan ide-ide yang lebih realistis. Katakanlah seperti mereka (borjuis) mengamankan kekuasaan berdasarkan persetujuan.
Dalam hal ini, yang menjadi titik tekan para borjuis ini, adalah; bagaimana hubungan dua arah mendapatkan persetujuan dari ploreta. Dengan mendapatkan persetujuan dari ploreta inilah terbentuk, dan orang-orang kelas ploreta mau tunduk pada sistem persetujuan itu dengan cara konsensus.
Perlu diingat bahwa, hegemoni yang ditawarkan oleh Gramsci tidak sama dengan dominasi kapitalis Marx. Jika dominasi lebih ke arah fisik, maka hegemoni lebih pada orang mau menyetujui tanpa ada kekerasan fisik. Di sinilah letak perbedaan Marx dengan Gramsci, dimana ia lebih menitik beratkan pada kontrol politik yang berdasarkan pada konsensus.
Dalam pandangan saya, jika hegemoni Gramsci ini ada kaitannya dengan ideologi dan budaya, maka sangat diperlukan untuk berdiskusi lebih lanjut tentang teori tersebut. Dalam kesempatan kali ini, saya mencoba memaparkan realis Atjeh dalam konteks budaya hari ini yang sudah bertolah belakang dari masa lalu. Sebut saja contoh kasusnya seperti konser nyanyian yang menghadirkan para kerumunan untuk menyaksikan bintang favoritnya.
📚 Artikel Terkait
Dalam sudut pandang budaya Atjeh, konser yang dinikmati oleh generasi sekarang dengan konser yang dilakukan oleh nenek moyangnya dahulu adalah konser yang berbeda, jika dulu ada hikayat prang sabil sebagai amunisi spirit perjuangan melawan penjajah, sekarang konsernya adalah hiburan kerumunan yang agitasi tentang pacaran, kandisi hidup yang tidak terarah, apakah itu karena faktor ekonomi dan sosial dan lain-lain.
Tetapi yang pastinya, konser yang ditawarkan sekarang adalah konser yang bertolak belakang dengan Atjeh sebagai Negeri yang bersyariat Islam, yang semestinya umara sebagai pemerintah harus mengambil sikap dan kebijakan yang tegas untuk menganulir bahwa itu tidak boleh ada di geografis Atjeh sebagai serambi mekkah.
Namun demikian, apakah ini dilatar belakangi oleh hegemoni kapitalis hingga hal-hal yang seperti itu telah menjadi candu kerumunan yang mereka nikmati, tetapi itu sangat menguntungkan bagi mereka yang kapitalisme sambil meracuni budaya Atjeh.
Sekarang mari kita jelajahi sudut pandang Gramsci terhadap masyarakat Atjeh, menurut Gramsci, hegemoni yang kapitalis yang dikendarai dengan metode konsensus yang diterima dengan baik tanpa protes oleh kelas pekerja (proletar), itu bersifat pasif. Artinya konsensus terjadi bukan karena kelas pekerja yang menganggap struktur sosial yang ada adalah keinginan mereka, itu karena lebih ke mereka yang tidak mempunyai akses untuk memahami basis konseptual relitas sosial secara nyata dan efektif, ditambah lagi karena kaum buruh memang waktunya digunakan untuk bekerja dan menggunakan otot dari pada menjadi kaum yang sering duduk membaca beberapa buku atau kaum intelektual.
Sehingga membuat kaum pekerja tidak ada waktu atau tidak mampu untuk berfikir kritis dan sistematis, serta waktu mereka digunakan untuk memenuhi isi perut dari pada isi pikiran mereka.
Jika dilihat dari realitas kehidupan hari ini, masyarakat Atjeh buta terhadap materi, krisisnya dialektis, dan fanatisme membunuh logika. Coba kita perhatikan bagaimana mereka yang diajarkan di univertisas itu, yaitu; bagaimana cara menjadi orang sukses, tentu dengan selembar kertas, yang dengan kertas itu ia melamar diri menjadi budak korporat, bukan bagaimana cara berfikir kritis.
Hari ini kita teriak untuk membuka lapangan pekerjaan, tetapi mereka yang ditempa untuk menciptakan lapangan pekerjaan malah menawarkan diri pada kapitalisme menjadi pekerja dari pada membuat sebuah pekerjaan, yang bisa mempekerjakan orang banyak.
Konsensus dalam masyarakat kapitalis itu merupakan kesadaran yang bertentangan. Hegemoni yang dilakukan oleh kelas borjuis adalah hegemoni yang samar-samar atau sembunyi, seperti:
Hegemoni total (integral), cara kelompok elite menguasai setiap unsur yang ada. Baik dari aturan, pendidikan, pemahaman moral, yang dilakukan oleh pemerintah, dengan tujuan rakyat tidak bisa melakukan apapun untuk menolak hegemoni yang sudah merosot (decadent). Misalnya jika di Indonesia pemerintah membicarakan Covid-19 lagi, maka banyak dari masyarakat yang sudah tidak percaya dengan menyebarnya kembali Covid-19, karena mulai tidak sinkron antara apa yang dikatakan dengan praktiknya. Persis sama seperti mantan presiden Indonesia yaitu yang ke-7 yang kebalikan dengan apa yang dikatakan.
Beginilah cara hegemoni kapitalis dalam bernegosiasi degan proletar, hegemoni tidak bisa dilakukan dengan kekerasan fisik, tetapi dengan cara konsensus.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






