• Latest
Hegemoni Dalam Budaya Aceh

Hegemoni Dalam Budaya Aceh

Juli 9, 2025
8a775060-2ffc-40bc-a7c8-7d5eeda6427a

Mengenal Ayu Zhafira, Finalis Miss Norway Berdarah Sumatera Barat

Maret 30, 2026
IMG_0551

Jalan yang Kita Pilih

Maret 30, 2026

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
0531533e-b691-47af-a72c-150e25a07ee5

Di Dalam Gelap, Ada Ibu

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026
IMG_0542

Jejak Darah di Terbangan: Kematian Letnan Satu Molenaar alias Kapitan Lhoknga dan Perlawanan Rakyat Aceh Selatan

Maret 30, 2026
IMG_0518

Mencari Akar Sejarah Nama Manggeng

Maret 29, 2026
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
SAVED POSTS
AI News
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Literasi
  • Edukasi
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Penulis
  • Kirim Naskah
No Result
View All Result
POTRET
No Result
View All Result

Hegemoni Dalam Budaya Aceh

Fajar Ilhamby Fajar Ilham
Juli 10, 2025
Reading Time: 4 mins read
Hegemoni Dalam Budaya Aceh
591
SHARES
3.3k
VIEWS
Summarize with ChatGPTShare to Facebook

Oleh Fajar Ilham 

Jika kita meminjam sudut pandang Marx, bahwa sejarah manusia adalah sejarah perjuangan kelas sosial antara borjuis dan ploreta, maka akar dasarnya sudah pasti pada ‘kehendak berkuasa’ yang diperkenalkan oleh Nietszsche. Namun demikian, teori hegemoni dari Antonio Gramsci ini lahir karena dilatar belakangi oleh pemikiran Engels dan Marx.

Marx dan Engels, yang cenderung melihat institusi politik sebagai representasi dari struktur ekonomi, yang besifat dominasi kapitalis. Dengan begitu, Gramsci menawarkan suatu metode yang diperlukan untuk menghentikan dominasi kapitalis untuk menuju sosialisme.

Menurut pandangan Antony Gramsci, hegemoni memiliki ikatan erat dengan ideologi, dan konsep kekuasaan. Ia memandang hegemoni sebagai praktik dua arah dari dua kelas, yaitu; kelas pemiilik modal (borjuis) dan kelas pekerja (ploreta). 

Baca Juga

Iran: Ketahanan, Kepemimpinan Teknologi, dan Transformasi di Tengah Blokade Internasional

Maret 30, 2026
db120a04-bc3f-416f-8477-98be379296aa

Peran OSIS  Dalam Membangun Budaya Sekolah 

Maret 30, 2026
20362b6b-fe28-40ff-a0c0-c08280e7bbff

Indonesia, Mundurlah dari Dewan Perdamaian Trump: 175 Siswi Tewas

Maret 30, 2026

Praktik dua arah dari dua kelas ini, ialah; kelas borjuis membuat kelas proletar tidak memiliki pilihan lain selain membuat persetujuan baru dengan kalangan lain berdasarkan ide-ide yang lebih realistis. Katakanlah seperti mereka (borjuis) mengamankan kekuasaan berdasarkan persetujuan. 

Dalam hal ini, yang menjadi titik tekan para borjuis ini,  adalah; bagaimana hubungan dua arah mendapatkan persetujuan dari ploreta. Dengan mendapatkan persetujuan dari ploreta inilah terbentuk, dan orang-orang kelas ploreta mau tunduk pada sistem persetujuan itu dengan cara konsensus.

Perlu diingat bahwa, hegemoni yang ditawarkan oleh Gramsci tidak sama dengan dominasi kapitalis Marx. Jika dominasi lebih ke arah fisik, maka hegemoni lebih pada orang mau menyetujui tanpa ada kekerasan fisik. Di sinilah letak perbedaan Marx dengan Gramsci, dimana ia lebih menitik beratkan pada kontrol politik yang berdasarkan pada konsensus.

Dalam pandangan saya, jika hegemoni Gramsci ini ada kaitannya dengan ideologi dan budaya, maka sangat diperlukan untuk berdiskusi lebih lanjut tentang teori tersebut. Dalam kesempatan kali ini, saya mencoba memaparkan realis Atjeh dalam konteks budaya hari ini yang sudah bertolah belakang dari masa lalu. Sebut saja contoh kasusnya seperti konser nyanyian yang menghadirkan para kerumunan untuk menyaksikan bintang favoritnya. 

Dalam sudut pandang budaya Atjeh, konser yang dinikmati oleh generasi sekarang dengan konser yang dilakukan oleh nenek moyangnya dahulu adalah konser yang berbeda, jika dulu ada hikayat prang sabil sebagai amunisi spirit perjuangan melawan penjajah, sekarang konsernya adalah hiburan kerumunan yang agitasi tentang pacaran, kandisi hidup yang tidak terarah, apakah itu karena faktor ekonomi dan sosial dan lain-lain. 

Tetapi yang pastinya, konser yang ditawarkan sekarang adalah konser yang bertolak belakang dengan Atjeh sebagai Negeri yang bersyariat Islam, yang semestinya umara sebagai pemerintah harus mengambil sikap dan kebijakan yang tegas untuk menganulir bahwa itu tidak boleh ada di geografis Atjeh sebagai serambi mekkah.

Namun demikian, apakah ini dilatar belakangi oleh hegemoni kapitalis hingga hal-hal yang seperti itu telah menjadi candu kerumunan yang mereka nikmati, tetapi itu sangat menguntungkan bagi mereka yang kapitalisme sambil meracuni budaya Atjeh.

Sekarang mari kita jelajahi sudut pandang Gramsci terhadap masyarakat Atjeh, menurut Gramsci, hegemoni yang kapitalis yang dikendarai dengan metode konsensus yang diterima dengan baik tanpa protes oleh kelas pekerja (proletar), itu bersifat pasif. Artinya konsensus terjadi bukan karena kelas pekerja yang menganggap struktur sosial yang ada adalah keinginan mereka, itu karena lebih ke mereka yang tidak mempunyai akses untuk memahami basis konseptual relitas sosial secara nyata dan efektif, ditambah lagi karena kaum buruh memang waktunya digunakan untuk bekerja dan menggunakan otot dari pada menjadi kaum yang sering duduk membaca beberapa buku atau kaum intelektual. 

Sehingga membuat kaum pekerja tidak ada waktu atau tidak mampu untuk berfikir kritis dan sistematis, serta waktu mereka digunakan untuk memenuhi isi perut dari pada isi pikiran mereka.

Jika dilihat dari realitas kehidupan hari ini, masyarakat Atjeh buta terhadap materi, krisisnya dialektis, dan fanatisme membunuh logika. Coba kita perhatikan bagaimana mereka yang diajarkan di univertisas itu, yaitu; bagaimana cara menjadi orang sukses, tentu dengan selembar kertas, yang dengan kertas itu ia melamar diri menjadi budak korporat, bukan bagaimana cara berfikir kritis.

Hari ini kita teriak untuk membuka lapangan pekerjaan, tetapi mereka yang ditempa untuk menciptakan lapangan pekerjaan malah menawarkan diri pada kapitalisme menjadi pekerja dari pada membuat sebuah pekerjaan, yang bisa mempekerjakan orang banyak.

Konsensus dalam masyarakat kapitalis itu merupakan kesadaran yang bertentangan. Hegemoni yang dilakukan oleh kelas borjuis adalah hegemoni yang samar-samar atau sembunyi, seperti:

Hegemoni total (integral), cara kelompok elite menguasai setiap unsur yang ada. Baik dari aturan, pendidikan, pemahaman moral, yang dilakukan oleh pemerintah, dengan tujuan rakyat tidak bisa melakukan apapun untuk menolak hegemoni yang sudah merosot (decadent). Misalnya jika di Indonesia pemerintah membicarakan Covid-19 lagi, maka banyak dari masyarakat yang sudah tidak percaya dengan menyebarnya kembali Covid-19, karena mulai tidak sinkron antara apa yang dikatakan dengan praktiknya.  Persis sama seperti mantan presiden Indonesia yaitu yang ke-7 yang kebalikan dengan apa yang dikatakan.

Beginilah cara hegemoni kapitalis dalam bernegosiasi degan proletar, hegemoni tidak bisa dilakukan dengan kekerasan fisik, tetapi dengan cara konsensus.

ADVERTISEMENT

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 366x dibaca (7 hari)
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
Batu Gajah Hilang di Bate Iliek
23 Mar 2026 • 329x dibaca (7 hari)
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
Aceh Hijau atau Aceh Gundul?
12 Mar 2026 • 276x dibaca (7 hari)
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
Membuka Tabir Sejarah Kenegerian Manggeng dan Para Raja yang  Pernah Berkuasa
27 Mar 2026 • 273x dibaca (7 hari)
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
Memutus Rantai Kemiskinan, Melawan Kufur Etika
20 Mar 2026 • 204x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.

Discussion about this post

Next Post

Filosofi Rajawali Dididik, dan Burung Dara Dibentuk: Cetak Biru Kepemimpinan dari Rumah ke Sekolah

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Tentang Kami
  • Redaksi
  • Al-Qur’an
  • Kirim Naskah
  • Penulis

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Logout
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com