Dengarkan Artikel
Oleh Syaqhira Camyla
Siswa angkatan 16 SMAN Unggul Pidie Jaya
Lahir pada tahun 2009 membuat saya merasa kalau generasi 2009 lah yang menjadi akhirnya masa bermain sampai lupa akan waktu. Berbeda dengan generasi sekarang, mungkin mereka masih bermain sampai lupa waktu. Akan tetapi, bukan karena mereka pergi bermain sambil menjelajah, istilah sekarang ngebolang, karena rasa ingin tahu dengan alam sekitar.
Tapi, karena gadget yang membuat mereka Sangat tergantung pada perangkat keras itu. Sebenarnya handphone itu tidak selamanya mengandung unsur negatif. Namun, dari cara penggunaannya yang disayangkan membuat mereka selalu bergantung padanya.
Menurut saya, mereka harus dijaga, dirawat,diperhatikan, karena mereka adalah generasi muda penerus bangsa. Dimulai dari perhatian orang tua mereka, pendidikan yang layak bagi mereka, dan pergaulan mereka yang harus diperhatikan untuk mewujudkan program Indonesia emas 2045.
📚 Artikel Terkait
Ingat merekalah yang akan menjadi pemimpin negeri ini kelak. Jika tidak diperhatikan dari sekarang, kapan negeri ini berkembang.
Bahkan, anak-anak sekarang, banyak ditemukan seolah bersikap tidak acuh terhadap masa depan mereka. Parahnya lagi mereka mengganggap bahwa pendidikan itu tidak penting – untuk apa capek belajar, kan jadi pejabat ada orang lain, tukang kayu juga ada orang lain- kata beberapa anak-anak zaman sekarang saat dinasehati.
Mengapa demikian? Karena mereka berasumsi kalau mereka itu ditekan oleh pendidikan. -kita disuruh untuk menguasai begitu banyak materi, sedangkan guru yang mengajarkannya hanya bisa menguasai satu mapel bagi setiap bidang. Apakah itu layak ? – ucap salah seorang siswa di SMP saya dulu.
Tekanan itu membuat mereka seakan muak dengan model pembelajaran yang begitu banyak menuntut. Dilihat dari faktor lainnya, seperti kurikulum pendidikan yang berubah-ubah seiring bergantinya kabinet yang bertanggung jawab akan pergerakan seluruh negeri. Untuk apa kurikulum pendidikan diubah ?
Pertanyaan besar yang masih terganjal dalam benak hati ini. Bukan karena apa saya berkata seperti ini. Akan tetapi, saya adalah salah satu orang di antara begitu banyaknya jumlah manusia di Indonesia yang terkena dampak dari perubahan kurikulum, dihapusnya UN, dan diadakannya jalur SNBP bagi siswa yang berprestasi.
Sebenarnya untuk apa semua ini ? Apakah ini akan berdampak baik bagi perkembangan Indonesia, atau ini akan menjadi akhir bagi pendidikan nasional? .
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






