Dengarkan Artikel
Oleh Muhammad Abrar, S.E., M.E., C.GM., C.HL., C.PS., C.TM., C.MTr
TEHERAN -Dalam perkembangan terbaru yang kembali mempertegang dinamika kawasan Timur Tengah, pernyataan sepihak dari mantan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengenai tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Republik Islam Iran dan Israel menuai bantahan keras dari otoritas tinggi Iran.
Melalui juru bicara parlemen, Mahdi Mohammadi, Pemerintah Iran secara terbuka menyatakan bahwa informasi yang disampaikan oleh Trump tidak hanya tidak benar, tetapi juga merupakan bagian dari strategi disinformasi yang dirancang untuk tujuan geopolitik tertentu yang merugikan Iran secara strategis dan politik.
Menurut Mahdi, klaim mengenai gencatan senjata tersebut tidak pernah dibicarakan atau disepakati oleh pihak Iran. Ia menyebut bahwa pengumuman tersebut adalah upaya sistematis dari Amerika Serikat dan Israel untuk menyesatkan opini publik global serta menurunkan tingkat kesiapsiagaan Iran terhadap potensi ancaman eksternal.
“Klaim tersebut tidak lebih dari kebohongan politis yang dikonstruksi guna menciptakan persepsi keliru bahwa konflik telah mereda. Tujuan sesungguhnya adalah untuk membuat Iran lengah dan pada saat yang sama meningkatkan instabilitas politik dalam negeri,” tegas Mahdi dalam pernyataan resminya di hadapan parlemen Iran.
Klaim Gencatan Senjata dan Realitas Lapangan
Donald Trump sebelumnya menyampaikan melalui media sosial bahwa Iran dan Israel telah mencapai sebuah kesepakatan damai yang mencakup penghentian total seluruh aktivitas militer. Ia menyebut gencatan senjata itu akan mulai diberlakukan dalam kurun waktu 12 jam sejak pernyataan tersebut diumumkan.
Namun, bertolak belakang dengan klaim itu, pada pagi harinya, tepatnya Selasa (24/6), serangan udara dan rudal kembali mengguncang wilayah Israel.
Serangan tersebut menyebabkan jatuhnya korban jiwa dari kalangan sipil sebanyak empat orang dinyatakan tewas dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka. Hal ini menandakan bahwa tidak terdapat kesepahaman aktual antara kedua negara, dan narasi gencatan senjata yang disampaikan oleh Trump tampak tidak berdasar secara faktual.
Analisis Media dan Perspektif Kritis Iran
📚 Artikel Terkait
Media The Tehran Times, salah satu surat kabar terkemuka di Iran yang masih mampu mempertahankan aksesibilitasnya di tengah perlambatan beberapa kantor berita lokal, menyampaikan kritik tajam terhadap pernyataan mantan Presiden Trump. Dalam analisis editorialnya, media tersebut menilai bahwa pernyataan tersebut bukan hanya bentuk kebohongan biasa, melainkan bagian dari strategi diplomasi tekanan (coercive diplomacy) yang bertujuan menciptakan keretakan internal di Iran.
The Tehran Times menuliskan bahwa, “Trump tampaknya sengaja menciptakan narasi palsu tentang adanya kesepakatan damai guna menimbulkan disonansi kognitif di tengah masyarakat Iran, yang diharapkan dapat melemahkan legitimasi pemerintahan serta memperkuat suara oposisi domestik.”
Lebih jauh lagi, editorial tersebut juga menyebut bahwa Trump tidak hanya berbohong dalam isu gencatan senjata, tetapi juga telah berkali-kali melakukan manipulasi informasi terkait kebijakan luar negerinya terhadap Iran. Misalnya, ia sempat menyatakan bahwa dirinya membutuhkan waktu dua minggu untuk memutuskan kemungkinan menyerang fasilitas nuklir Iran.
Namun kenyataannya, menurut laporan yang sama, pemerintahan Trump disebut telah mempersiapkan operasi militer sejak jauh hari dan bahkan melibatkan Israel dalam proses pengambilan keputusan terkait penyerangan terhadap infrastruktur vital Iran baik yang bersifat militer, nuklir, maupun sipil.
Kritik terhadap Strategi Disinformasi dan Implikasinya terhadap Stabilitas Regional
Dalam kacamata kajian hubungan internasional, tindakan menyebarkan informasi yang tidak benar oleh pemimpin negara besar seperti Amerika Serikat dapat dikategorikan sebagai bagian dari information warfare, yakni bentuk perang non-konvensional yang memanfaatkan arus informasi untuk mencapai tujuan politik dan militer.
Strategi ini memiliki implikasi serius tidak hanya bagi stabilitas kawasan, tetapi juga bagi norma-norma komunikasi diplomatik internasional. Iran menilai bahwa tindakan semacam ini merupakan bentuk intervensi tidak langsung terhadap kedaulatan negara, serta pelanggaran terhadap etika hubungan antarbangsa.
Selain itu, narasi palsu seperti ini juga berpotensi memperburuk kondisi keamanan kawasan, karena menimbulkan ketidakpastian dan kekacauan persepsi di antara para aktor negara maupun non-negara.
Dalam konteks ini, Iran menekankan pentingnya kehati-hatian dalam menerima dan menyebarkan informasi strategis, terutama yang berasal dari sumber-sumber politis yang memiliki rekam jejak manipulatif.
Kesimpulan: Membangun Ketahanan Informasi dan Kewaspadaan Strategis
Pernyataan Mahdi Mohammadi dan kritik yang dilontarkan oleh The Tehran Times menunjukkan bahwa Iran secara serius menolak narasi gencatan senjata yang diklaim secara sepihak oleh Donald Trump.
Pemerintah Iran menganggap narasi tersebut sebagai bagian dari taktik perang informasi yang bertujuan untuk merusak stabilitas internal dan menciptakan keuntungan geopolitik bagi Amerika Serikat dan Israel.
Kejadian ini menjadi peringatan penting bagi komunitas internasional mengenai risiko disinformasi dalam diplomasi global. Diperlukan pendekatan yang lebih transparan, akuntabel, dan berbasis bukti dalam mengelola konflik serta dalam menyampaikan informasi kepada publik global. Ketahanan informasi dan kewaspadaan strategis harus menjadi prioritas dalam upaya menjaga kedaulatan, stabilitas nasional, dan perdamaian kawasan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






