Dengarkan Artikel
Oleh Dayan Abdurrahman
I. Latar Akademis dan Data Kritis
Ketika dunia menyaksikan eskalasi konflik antara Israel dan Iran — termasuk serangan udara Israel pada 13 Juni 2025 dan tanggapan AS melalui serangan bunker‑buster ke fasilitas nuklir Iran pada 21 Juni 2025 — peringatan bahaya global pun mengemuka. Dari rekaman Global Foresight 2025 oleh Atlantic Council, sekitar 40 % analis memperkirakan kemungkinan perang dunia ketiga dalam satu dekade ke depan, dengan 48 % meyakini kemungkinan penggunaan senjata nuklir, bahkan konflik bisa meluas hingga luar angkasa .
Konflik saat ini bukan sekadar benturan regional — mereka adalah fragmen dari “Axis of Upheaval” (China‑Russia‑Iran‑Korea Utara), sebuah formasi geopolitik yang menunjuk pada upaya bersama menantang tatanan global Barat . Iran, kini melalui IRGC, mengembangkan rudal-rudal jarak jauh (Ghaem‑100, Simorgh) berpotensi nuklir, mampu menjangkau Eropa sejauh 3.000 km . Sebaliknya, Israel merancang strategi udara presisi untuk menghancurkan pertahanan udara Iran, seperti operasi “Days of Repentance” di Oktober 2024 .
Sebagai akademisi bio‑ekologis, saya menyoroti bahwa konflik militer skala besar bukan hanya soal kematian manusia—tetapi juga malapetaka ekologis, pencemaran radiasi, gangguan air dan pangan, serta dampak psikologis dan biologis jangka panjang pada manusia, hewan, dan tumbuhan. Bahkan serangan siber terhadap infrastruktur energi dapat menimbulkan kerusakan ekologis yang sulit dipulihkan .
II. Langkah-Langkah Strategis Para Pemain Global
- Iran
Strategi Proxy dan Cyber: Alih-alih terlibat langsung, Iran kemungkinan akan memperluas tekanan melalui serangan proxy—seperti Houthis di Yaman, Hezbollah di Lebanon—dan serangan siber terhadap target Israel atau Amerika .
Penegasan Nuklir: Penolakan untuk mundur dari jalur nuklir, sebagai respon terhadap serangan, sudah diumumkan oleh para ulama Iran .
Blokade Strategis: Mengancam menutup Selat Hormuz, jalur vital minyak global (~20 %) sebagai alat leverage ekonomi-politik .
- Amerika Serikat
Dominasi Militer dan Politik: Keputusan Trump menarget fasilitas nuklir Iran mencerminkan keberhasilan dominasi strategis. Namun, Ahli peringati bahwa keterlibatan langsung masih sangat berisiko dalam memicu eskalasi global .
Tekanan Ekonomi dan Diplomatik: Sanksi kembali diberlakukan ke Iran sejak 2018, menjatuhkan ekspor migas dan menciptakan krisis ekonomi di Iran .
Redeploy Nuklir dan Basis: Penempatan bomber B‑2 via Guam menunjukkan kesiapan eskalasi, meski secara strategis digunakan untuk menahan Iran .
- Rusia
Dua Wajah Strategi: Tanda tangan perjanjian “Strategic Partnership” Januari 2025 memberi dukungan diplomatik, tapi saat konflik nyata tiba, Putin menahan diri secara militer .
Pemanfaatan Harga Migas: Lonjakan harga minyak memberikan keuntungan pendanaan jangka pendek .
Posisi Penengah: Rusia menawarkan diri sebagai mediator—mempertahankan relasi dengan Iran dan Israel sekaligus menghindari sanksi baru .
- Negara Teluk & Pihak Lain
Vietnam diplomatik dari negara seperti Mesir dan UAE terdengar menyerukan de-eskalasi, menekankan urgensi stabilitas regional .
Sebagian negara mungkin menutup atau mengendalikan wilayah udara, seiring eskalasi aksi militer di perbatasan kawasan .
III. Kritik Akademik, Biologis, dan Moral-Religius
A. Kritik Akademik dan Tatanan Global
📚 Artikel Terkait
Institusi internasional (PBB, IAEA) terbukti lemah dalam mencegah eskalasi saat ini. Ketiadaan moratorium nuklir yang inklusif memperkuat dinamika konflik – target nuklir kali ini lebih spesifik dari sebelumnya, menandakan kegagalan diplomasi klasik dalam krisis akut .
B. Perspektif Biologis dan Ekologis
Perang nuklir tak hanya membunuh manusia—ia mencemari air tanah (radioaktif), merusak pertanian, memicu mutasi jangka panjang, bahkan mendistorsi rantai makanan alami—malah menjatuhkan “peradaban biologi” sejati manusia.
C. Nuansa Religius: Doa dan Etika Kemanusiaan
Nilai religius ajak kita bukan hanya berdoa, tetapi juga membumikan prinsip rahmat dan perlindungan terhadap ciptaan. Semakin dekat dunia pada ancaman nuklir, semakin tajam peringatan religius bahwa “membunuh satu nyawa seperti membunuh seluruh umat manusia” (Quran 5:32). Ini panggilan spiritual universal: jangan sampai wadah doa kehilangan makna nyata karena perang global menghancurkan semua.
IV. Ramalan dan Harapan untuk Mencegah WWIII
- Potensi Jalur Diplomasi Multilateral
Pertemuan IAEA dan P5–plus bisa memandu stand-down Iran dari senjata nuklir, melalui moratorium nuklir bilateral/barat–Iran.
Mediatori oleh Rusia/Turki: Rusia diuntungkan secara ekonomi, sehingga mungkin terbuka menjadi katalis diplomasi.
Perjanjian Teluk Neutralitas: Menurunkan escalasi di Selat Hormuz lewat dukungan militer Eropa/AS.
- De-Eskalasi Ekonomi dan Militer
Review ulang sanksi dan kesepakatan perdagangan, misalnya barter energi melalui Turki/Rusia.
Mereduksi patroli militer mendekati titik konfrontasi dengan menegaskan misi defensif, bukan ofensif.
- Roadmap Jangka Panjang
Keterlibatan lembaga civil society global memperluas suara rakyat pendukung perdamaian.
Reformasi PBB menjadi platform efektif penyelesaian konflik akut, disertai sanksi moral bagi negara yang melanggar.
- Urgensi Bio-Security dan Keberlanjutan
Pembentukan protokol internasional penanganan radiasi dan kesehatan pasca-serangan nuklir.
Fokus pemulihan wilayah konflik: air bersih, reintegrasi biologi lokal, revegetasi.
- Panggilan Universal untuk Doa dan Pendidikan
Tingkatkan kesadaran global akan ancaman nuklir melalui literasi konflik di sekolah dan media.
Dorong dialog agama-intensif di masyarakat lintas iman—menyadari bahwa doa tak pernah memudar di hadapan bahaya global.
V. Penutup: Sebuah Doa dan Janji Aksi Kolektif
Dunia saat ini berdiri di persimpangan sejarah: satu jalan menuju kehancuran nuklir dan kekacauan global; jalan lain menuju rekonstruksi damai, melalui dialog, tindakan ilmiah, dan kebangkitan moral.
Sebagai warga dunia, kita dipanggil untuk:
Berdoa tanpa pasrah: doa menjadi esensi spiritual dan pangkal ketabahan.
Bertekad bekerja nyata: guna bezakan agama dari negasi terhadap kemanusiaan.
Menuntut pertanggungjawaban negara: agar kekuatan besar tak menyandera rakyat dunia demi ambisi geopolitik.
Mari kita bersumpah bahwa malapetaka perang dunia ketiga—bahkan konflik nuklir regional—tak akan melanjutkan sejarah penderitaan umat manusia, tetapi malah jadi momentum bagi umat global untuk bersatu, menjadikan bumi sebagai rumah damai bagi generasi masa depan.
Ditulis dengan penuh harapan dan kesadaran oleh
Dayan Abdurrahman, pemerhati geopolitik dan kebudayaan.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






