Dengarkan Artikel
Oleh Diana Dwi Susanti
Peresensi adalah seorang guru
Penulis Buku : Febriawan Jauhari
Penerbit: PT Bukune Kreatif Cipta
Cetakan: Pertama, Maret 2025
Tebal Buku: 213 halaman
Saat lelah sangat, terkadang kita membutuhkan support system dari hal-hal kecil yang tidak kita sadari sebelumnya. Termasuk membaca buku ini. Kedalaman maknanya mengajak pembaca untuk sejenak ber-refleksi. Secara pribadi. Bisa jadi hasilnya akan sangat manusiawi sekali.
Ditulis dengan membagi menjadi beberapa point fokus untuk bisa dibaca tanpa harus berurutan. Membuat pembaca bisa memilih, bagian mana yang ingin dibaca lebih dulu. Buku ini bukan kisah tentang pengalaman, atau hasil dari kajian akademik yang dalam. Tapi buku ini hasil renungan belajar. Ditulis dengan manis, dan dibagi dengan tulus. Sederhana sekali. Tapi, isinya menghangatkan relung hati. Buku yang memang ditulis untuk menemani.
Perfeksionisme
Di buku ini dijelaskan bahwa perfeksionisme merupakan dorongan untuk selalu mencapai kesempurnaan dalam segala bidang. Hal yang sangat manusiawi, dan dimiliki oleh hampir seluruh manusia di bumi. Hidup harus bahagia, dalam berusaha jangan sampai gagal, saat ujian harus lulus dengan nilai tertinggi, penampilan harus sesempurna mungkin, dan sebagainya. Begitukan biasanya?
📚 Artikel Terkait
Tapi, ternyata buku ini berpendapat yang tak sama. Mengingatkan bahwa perfeksionisme itu melelahkan. Semakin mencoba menyempurnakan sesuatu, maka biasanya kita akan merasa segalanya masih sangat kurang sempurna. Sempurna itu fatamorgana.
Kebanyakan kita dalam keseharian selalu terjebak pada kondisi yang sulit untuk “mencukupkan”. Tanpa sadar, belum bisa untuk berdamai dengan kondisi dan diri sendiri. Dan buku ini menuliskan, bahwa sifat masa depan yang paling dasar itu adalah tidak pasti. Maka, kita sebagai manusia, hanya bisa berusaha dengan serius dan berdoa sedalam mungkin untuk tidak memastikan apapun di masa depan. Apapun bisa terjadi.
Sedang berproses
Hal menarik lainnya dalam buku ini adalah disebutkan juga bahwa salah satu hukum dasar di dunia adalah segala sesuatu itu membutuhkan proses. Butuh waktu. Bahwa semua penciptaan yang ada di bumi ini, membutuhkan waktu untuk prosesnya. Inilah yang dalam ilmu sains kita kenal dengan pertumbuhan dan perkembangan.
Dalam era modern saat ini, kita seringkali dihadapkan dengan segala sesuatu yang instan. Menyenangkan sebenarnya. Sim salabim. Dan langsung jadi. Magic.
Tapi ternyata, ada fase-fase tertentu yang harus dilewati. Kemudian, ini tidak bisa dipelajari. Hanya bisa dilatih. Sebuah moment yang akan menghasilkan kenangan yang bernama: pengalaman. Entah itu baik atau buruk. Berhasil atau gagal. Lalu, ujungnya, kita akan kembali bilang, sempurna atau belum sempurna.
Bagaimana jika terpuruk dengan kegagalan? Ya wajar. Minum kopi saja, kadang kita suka yang tanpa gula, dan bisa jadi suatu saat kita merasa kopinya terlalu manis kebanyakan gula. Itulah manusia. Buku ini mengajak pembaca untuk memahami bahwa sukses dan gagal adalah bagian dari hidup. Tak ada yang sukses selamanya, begitu juga tak mungkin gagal seterusnya. Nah, pengalaman itu, apapun bentuknya adalah salah satu bagian dari hidup. Apa gunanya hidup jika ternyata, kita tak punya kenangan dan pengalaman tentang apapun?
Belajar dan Berubah
Banyak hal-hal entah itu kecil ataupun besar, benar-benar membutuhkan waktu. Perlu semangat. Perlu kesabaran, ketekunan, ketelatenan, bahkan kesungguhan. Harus berubah. Jadi, buku ini kembali mengejutkan saya dengan menyebutkan bahwa ternyata perubahan itu mempunyai dua bagian. Satu, adalah berpindah dari hal lama ke hal baru, dan yang kedua adalah menetapnya kita di hal baru tersebut.
Seringnya karena Euforia, kita lupa dengan hal yang kedua. Kita terlalu fokus pada pertama saja. Mencari sebanyak-banyaknya hal baru yang kita inginkan. Tapi tak menemukan cara untuk bagaimana yang baru tersebut menjadi bagian dari rutinitas, dan akhirnya bisa menetap, menjadi kebiasaan. Bukankah itu esensi dari sebuah perubahan? Karena kalau tidak menjadi bagian yang rutin dan menetap, bukan berubah namanya. Kita bisa kembali pada kebiasaan yang lama. Lalu, mana yang namanya berubah?
Hal penting lainnya yang dibahas di buku ini adalah tentang kegagalan. Sebuah point penting yang harus dibaca, karena seringnya kita sebagai manusia sering lupa bahwa setiap orang punya lintasannya masing-masing. Menyadarkan saya, bahwa apa yang terlihat cepat bukan berarti lebih atau paling baik.Termasuk ketakutan dalam menggenggam sesuatu yang bisa menghalangi kita dalam meraih sebuah kesuksesan. Memaknai sebuah kekuatan sejati sesungguhnya ada pada keberanian untuk melepaskan.
*****
Jangan pernah merasa sendiri saat lelah. Buku ini hadir untuk menemani. Memberi semangat dalam menjalani perjalanan hidup dengan penuh kesadaran dan keikhlasan.
Selamat membaca. Buku ini, bagus sekali.
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






