POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Gerakan Aceh Melawan Mulai Unjuk Gigi

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
June 16, 2025
Gerakan Aceh Melawan Mulai Unjuk Gigi
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Isu mutasi empat pulau dari Aceh ke Sumut, belum reda. Bahkan, semakin panas dengan turunnya ratusan massa dari Gerakan Aceh Melawan (GAM), bukan GAM yang dulu, ya. Mari kita ungkap aksi GAM menekan pemerintah.

Di bawah terik matahari Banda Aceh yang menyengat seperti amarah rakyat yang sudah terlalu lama dipendam, ratusan massa dari GAM bergerak. Mereka bukan berjalan, tapi mengguncang bumi dengan tapak kaki penuh dendam sejarah. Lokasinya, depan Kantor Gubernur Aceh. Isunya, empat pulau dicaplok Sumatera Utara lewat prosedural Kementerian Dalam Negeri.

SK Mendagri Nomor 300.2.2.2138 Tahun 2025 jadi biang kerok. Dalam surat sakti itu, empat pulau di Aceh Singkil, pulau-pulau yang bahkan mungkin belum sempat masuk Google Maps dengan benar, tiba-tiba diakui masuk administrasi Sumut. Tanpa diskusi. Tanpa permisi. Bahkan tanpa sepucuk surat maaf formal seperti yang biasa diucapkan mantan waktu minta balikan.

Apa tanggapan rakyat Aceh? Sederhana, wak! “Kalau pulau bisa dipindah seenak jidat, berarti keadilan bisa dijual di marketplace dengan promo flash sale!”

Aksi dimulai dari Komplek Taman Ratu Safiatuddin. Di sana, mahasiswa, aktivis, ibu-ibu, hingga orang-orang yang tak disebutkan dalam SK Mendagri, berkumpul. Mereka membawa spanduk, bendera Bintang Bulan, dan suara lantang yang bahkan bisa bikin Google Translate bingung menerjemahkannya.

Sambil meneriakkan “Merdeka!” dan menyanyikan lagu-lagu perjuangan, massa bergerak menuju Kantor Gubernur. Arus lalu lintas lumpuh. Bukan karena lubang jalan seperti biasa, tapi karena rakyat lagi-lagi harus mengajarkan pemerintah pusat cara membaca peta.

Empat pulau yang dipermasalahkan itu adalah Pulau Mangkir Besar, Pulau Mangkir Kecil, Pulau Lipan, dan Pulau Panjang. Semua berada di kawasan Aceh Singkil. Tiba-tiba, di tahun 2025, mereka berubah status tanpa pindah tanah, hanya pindah provinsi.

Ini bukan sekadar kesalahan koordinat. Ini tragedi kartografi nasional!

📚 Artikel Terkait

Kartini Bangkit Lagi, Tapi Kini Ia Sibuk di Instagram

Gerakan Self Love, Disiplin Diri Sebagai Benteng Kehidupan

Puisi-Puisi Nyakman Lamjame

Semangatlah Para Jiwa Muda

Para demonstran menolak dengan keras keputusan Mendagri Tito Karnavian. Mereka meminta Tito diperiksa, diberhentikan, dan dikirim ke kelas Geografi ulang. Beberapa bahkan menyarankan agar beliau ikut lomba menggambar peta buta tingkat SD untuk mengasah kembali insting kenegaraannya.

Tak hanya soal pulau, massa juga menolak rencana pembangunan empat batalyon TNI di Aceh, yang dinilai bisa memicu ketegangan baru. “Kami ingin damai, bukan parade tank!” teriak salah satu orator, sambil menabuh gendang perjuangan di atas mobil bak terbuka.

Isu otonomi khusus juga diangkat. Mereka mendesak agar Otsus Aceh dipermanenkan sebagai jaminan perdamaian. Bahkan, di tengah demonstrasi, seruan referendum menggema, seperti kaset lama yang kembali diputar saat semua solusi modern gagal memberi rasa adil.

Presiden Prabowo Subianto, dalam pernyataan diplomatis, menyebut akan mempertimbangkan “aspirasi rakyat dan aspek historis”. Sebuah kalimat yang lebih mirip status WA pejabat dari rencana konkret. DPR bilang masalah ini akan selesai dalam “pekan depan” kalau tidak ditunda karena rapat paripurna mendadak berubah jadi coffee break nasional.

Tapi rakyat Aceh tak sabar menunggu. Karena bagi mereka, ini bukan sekadar soal empat pulau. Ini soal kehormatan. Soal tanah yang ditinggal para leluhur. Soal hak yang tak bisa ditakar dengan batas administratif.

Kalau keadilan bisa ditentukan dengan surat SK, maka kita semua bisa jadi provinsi mandiri hanya dengan niat dan notulen rapat RT.

Hari ini, Aceh tidak hanya berdiri. Ia menggugat. Bukan dengan peluru. Tapi dengan bendera, suara, dan tanya, “Masih adakah keadilan, atau sudah karam bersama empat pulau yang dilupakan?”

Ingat, wak! Negara bisa menggeser garis di atas peta, tapi tidak bisa menggeser amarah rakyat yang merasa dipermainkan.

Aceh tidak sedang marah karena tanah, tapi karena dipermalukan. Diputuskan sepihak. Diperlakukan seperti anak kost yang kamarnya dipindah ke gudang tanpa permisi.

Pada akhirnya, semua menunggu titah Prabowo. Kecuali, ngopi.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 77x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 69x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

Jilbab Putih: Menyulam Cermin Diri dalam Benang Cahaya

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00