Dengarkan Artikel
“Tenggelamnya Kapal Van der Wijck” adalah salah satu novel klasik paling berpengaruh dalam sejarah sastra Indonesia. Ditulis oleh Haji Abdul Malik Karim Amrullah, atau lebih dikenal dengan nama pena Hamka, novel ini pertama kali terbit pada tahun 1938. Awalnya, karya ini diterbitkan sebagai cerita bersambung dalam majalah Pedoman Masyarakat sebelum akhirnya dicetak menjadi buku.
Karya ini mengisahkan percintaan tragis yang terhalang oleh tembok adat dan perbedaan status sosial pada era 1930-an. Dengan latar budaya Minangkabau yang kental, Hamka secara tajam mengkritik adat yang dianggapnya kaku dan tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman.
Sinopsis Ringkas
Kisah berpusat pada dua sejoli, Zainuddin dan Hayati. Zainuddin adalah seorang pemuda yatim piatu berdarah campuran Minang dari pihak ayah dan Bugis dari pihak ibu. Ia tumbuh besar di Makassar dan memutuskan untuk merantau ke Batipuh, tanah kelahiran ayahnya di Minangkabau, untuk memperdalam ilmu agama dan mengenal adat istiadat leluhurnya.
Di Batipuh, ia bertemu dan jatuh cinta pada Hayati, seorang gadis Minang dari keluarga bangsawan yang terpandang. Cinta mereka tulus dan suci, terjalin melalui surat-menyurat yang puitis. Namun, hubungan mereka terganjal oleh adat yang kuat. Zainuddin, karena tidak memiliki suku dari garis ibu (matrilineal) di Minangkabau, dianggap sebagai orang luar yang tidak memiliki status adat yang jelas. Lamaran Zainuddin pun ditolak mentah-mentah oleh keluarga Hayati.
Dengan hati yang hancur, Zainuddin meninggalkan Batipuh dan merantau ke Jawa. Sementara itu, Hayati dipaksa menikah dengan Aziz, seorang pria Minang tulen dari keluarga terpandang yang sebenarnya memiliki tabiat buruk, gemar berjudi dan mabuk-mabukan.
Takdir mempertemukan mereka kembali di Surabaya. Zainuddin telah menjadi seorang penulis terkenal dan kaya raya, sementara rumah tangga Hayati dan Aziz berada di ambang kehancuran akibat gaya hidup Aziz. Setelah bercerai dari Aziz yang kemudian bunuh diri, Hayati berusaha kembali kepada Zainuddin. Namun, Zainuddin yang masih diliputi sakit hati dan kekecewaan, menolak cinta Hayati dengan dingin.
Dengan penuh penyesalan, Hayati memutuskan untuk pulang ke kampung halamannya dengan menumpang kapal “Van der Wijck”. Dalam perjalanan, kapal tersebut tenggelam di perairan Brondong, dekat Lamongan. Zainuddin yang mendengar kabar tersebut segera bergegas ke lokasi. Ia berhasil menemukan Hayati dalam keadaan sekarat. Di saat-saat terakhir itulah Hayati menghembuskan napas terakhirnya di pangkuan Zainuddin, setelah mengakui penyesalan dan cintanya yang abadi. Kehilangan Hayati membuat Zainuddin hidup dalam kesedihan mendalam hingga akhirnya ia pun meninggal dunia dan dimakamkan di samping pusara kekasihnya.
Kisah cinta yang tak sampai ini menjadi simbol kritik tajam Hamka terhadap adat yang membelenggu dan menjadi pengingat abadi akan kekuatan cinta sejati yang melampaui batas duniawi.
📚 Artikel Terkait
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






