POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pujangga, Peradaban, dan Jalan Menuju Indonesia Emas

RedaksiOleh Redaksi
June 13, 2025
Suara Sejumlah Purnawirawan TNI Jelas dan Tegas Mengikutsertakan Jerit Pilu Hati Rakyat
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh: Rizal Tanjung

Tulisan Jacob Ereste mengenai Negarakertagama membuka kembali lembaran penting tentang relasi erat antara kekuasaan dan sastra dalam sejarah peradaban Nusantara. Namun, jika kita tarik lebih jauh dan melampaui sekadar Negarakertagama, maka benang merah yang menghubungkan pujangga dengan kemajuan suatu bangsa terlihat jelas dan tajam, bahkan sejak zaman Yunani, Romawi, Dinasti Tiongkok, hingga kekhalifahan Islam.

Dalam dunia Yunani kuno, nama-nama seperti Homer bukan hanya pengisah epik, tetapi juga pembentuk imajinasi kolektif bangsa. Iliad dan Odyssey bukan sekadar sastra, melainkan pondasi nilai, moral, dan identitas. Di Romawi, penyair seperti Virgil lewat Aeneid menjadi bagian dari proyek ideologis membangun kebesaran Roma. Di Tiongkok, para penyair dinasti Tang dan Song seperti Du Fu dan Li Bai tidak hanya mendendangkan keindahan, tetapi menjadi suara nurani zaman yang mengkritik kekuasaan, perang, dan ketimpangan. Dalam dunia Islam, nama-nama seperti Rumi, Hafez, hingga Al-Mutanabbi membuktikan bahwa puisi adalah jantung dari filsafat, spiritualitas, dan politik.

Apa yang membedakan peradaban-peradaban itu dengan kondisi Indonesia hari ini? Jawabannya: penghargaan terhadap penyair sebagai pembentuk arah bangsa. Di republik ini, penyair sering dianggap sebagai pengganggu ketenangan status quo. Karya mereka dituding terlalu abstrak, terlalu liar, terlalu tak berguna bagi dunia praktis. Negara ini tampaknya lebih bangga memelihara monumen peninggalan kolonial daripada menumbuhkan monumen intelektual anak bangsanya sendiri.

Padahal sejarah sudah membuktikan: tak ada kejayaan tanpa kebangkitan imajinasi. Dan tak ada imajinasi tanpa keberanian untuk mendengar suara penyair. Justru penyairlah yang pertama kali membayangkan masa depan yang belum ada. Jika Negarakertagama mampu membayangkan Majapahit sebagai imperium besar dengan dasar moral dan spiritual, mengapa kini suara-suara seperti itu malah dibungkam atau diasingkan dari ruang publik?

📚 Artikel Terkait

Puisi-Puisi Muhammad Sholeh Arshatta

Perjalanan

Kualat Pada Leluhur

Mata Air di Alue Merbau

Indonesia Emas 2045 akan tetap menjadi jargon kosong bila kita terus menutup telinga dari puisi anak negeri yang lahir dari luka, cinta, kritik, dan harapan. Tidak ada bangsa besar yang lahir dari mentalitas minder wardeg terhadap budaya sendiri. Dan tidak ada peradaban agung yang terbangun tanpa menyerap inspirasi dari pujangga yang berjalan di pinggiran, menulis dengan darah, air mata, dan cahaya.

Sudah waktunya Indonesia membuka diri—bukan hanya terhadap investasi asing atau teknologi global, tapi terhadap kekayaan intelektualnya sendiri. Inspirasi itu tidak selalu datang dari birokrat, ekonom, atau teknokrat, tetapi juga dari pujangga, penyair, dan filsuf jalanan yang menyuarakan yang tak mampu disuarakan oleh kekuasaan.

Jika Negarakertagama adalah bukti sejarah bahwa puisi bisa menjadi peta politik dan spiritual bangsa, maka kita punya alasan kuat untuk menyusun kembali arah Indonesia melalui karya-karya penyair hari ini. Bukan dengan menengok ke belakang dengan nostalgia kosong, tetapi dengan menjadikan masa lalu sebagai pijakan untuk loncatan besar menuju masa depan yang lebih beradab, lebih adil, lebih puitis—dan lebih manusiawi.

Padang,2025.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya
Mengenal Tito Karnavian yang Memutasi Empat Pulau ke Sumut

Mengenal Tito Karnavian yang Memutasi Empat Pulau ke Sumut

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00