• Latest
EMPAT PULAU SIAPA PUNYA: ACEH ATAU SUMATERA UTARA? - d3cd7ac8 ffb2 46ee 9f95 844fd9e2ec14 scaled | Aceh | Potret Online

EMPAT PULAU SIAPA PUNYA: ACEH ATAU SUMATERA UTARA?

Juni 12, 2025
332cedb5-e6db-41bf-947d-3c3b781b4b41

Benteng Tauhid dan Sauh Keselamatan: Menjangkar Makrifat di Dermaga Eskatologi.

April 19, 2026
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

EMPAT PULAU SIAPA PUNYA: ACEH ATAU SUMATERA UTARA?

Akmal Nasery Basral by Akmal Nasery Basral
Juni 12, 2025
in Aceh, Aceh Singkil, Konflik, Skema
Reading Time: 4 mins read
0
EMPAT PULAU SIAPA PUNYA: ACEH ATAU SUMATERA UTARA? - d3cd7ac8 ffb2 46ee 9f95 844fd9e2ec14 scaled | Aceh | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

SKEMA
(Sketsa Masyarakat)


Oleh Akmal Nasery Basral*

1/
Satu hari di paruh kedua tahun 2012 Presiden Direktur PT Arun Lhokseumawe, Iqbal Hasan Saleh, menceritakan kepada saya sebuah kelakar yang diceritakan ayahnya saat dia kecil. “Kau tahu, Bal, mengapa orang Aceh suka perang?” ujarnya mengulang pertanyaan ayahanda.

“Tidak tahu, Pak?” jawab Iqbal polos. “Kenapa?”

“Karena orang Aceh melihat perang seperti orang lapar melihat kenduri,” ungkap Iqbal tertawa lebar mengulangi jawaban ayahnya, membuat gelak saya pecah, ikut tertular. Namanya saja kelakar. Separuh benar, separuhnya lagi wallahu a’lam.

Ketika itu saya sedang riset tentang Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) Aceh. Ayah Iqbal, Letnan Kolonel (Purn.) Hasan Saleh, adalah mantan Panglima Militer DI/TII (1953-1959). Awalnya sebagai tangan kanan sekaligus murid utama tokoh karismatik Teungku Daud Beureueh, sebelum mereka pecah kongsi dan bersimpang jalan.

Hasan kembali ke pangkuan Republik Indonesia, sedangkan Daud Beureueh melanjutkan angkat senjata dari kawasan pegunungan yang sulit dijangkau tentara pemerintah. Beliau baru menyerah tahun 1962 melalui musyarawarah dan surat-menyurat intensif dengan Kolonel M. Jassin, Panglima Kodam I Iskandar Muda, yang memperlakukan Abu Beureueh penuh hormat seakan ayahnya sendiri.

Salah satu faktor penyebab meletusnya pemberontakan DI/TII Aceh adalah penurunan status Aceh dari provinsi otonom menjadi karesidenan setelah terbitnya PP No. 21/1950 era pemerintahan Perdana Menteri Mohamad Natsir. Dengan berlakunya PP itu maka sejak 20 Agustus 1950 Aceh menjadi bagian Provinsi Sumatra Utara.

Tentu saja membuat murka rakyat Aceh yang merasa punya sejarahnya sendiri. Apalagi mereka berperan besar di awal kemerdekaan Republik Indonesia, antara lain, dengan menyumbang pesawat Dakota RI 001-Seulawah dari hasil iuran sukarela rakyat. Pesawat inilah yang menjadi cikal bakal maskapai penerbangan komersial di tanah air yakni Indonesia Airways sebelum bersalin nama menjadi Garuda Indonesia.

Perasaan disepelekan dan martabat dinistakan membuat Abu Beureueh sebagai Ketua PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) menyerukan perlawanan terhadap Jakarta yang dinilai sewenang-wenang. Rakyat Aceh tak pernah punya masalah dengan rakyat Sumatra Utara. Bahkan tak sedikit dari mereka yang masih terpilin tali persaudaraan di daerah perbatasan kedua provinsi.

Namun dijadikan bagian dari provinsi Sumatra Utara adalah hal yang tak pernah terlintas dalam pikiran, bahkan dalam mimpi terliar. Apakah Jakarta lupa bahwa rakyat Aceh bertempur melawan Belanda dalam Perang Aceh yang heroik selama 31 tahun (1873-1904)—salah satu perang terlama—ketika wilayah lain Nusantara memilih membungkuk pasrah di kaki penjajah.

Hasil riset itu saya tulis dalam novel sejarah berjudul Napoleon dari Tanah Rencong (Gramedia Pustaka Utama, 2013). Saya teringat pada spirit perjuangan rakyat Aceh ini sehubungan kontroversi status empat pulau (Pulau Mangkir Gadang, Pulau Mangkir Ketek, Pulau Lipan, dan Pulau Panjang) yang sebelumnya dianggap turun temurun wilayah Kabupaten Aceh Singkil namun kini diputuskan Kementerian Dalam Negeri sebagai wilayah Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara.

“Saya menduga adanya perubahan administrasi wilayah empat pulau ini berkaitan dengan adanya kandungan migas,” ujar anggota DPR RI Muslim Ayub. “Ada rencana investasi besar triliunan rupiah dari Uni Emirat Arab di empat pulau tersebut,” lanjut Ketua Dewan Pertimbangan Wilayah DPW Partai Nasdem Aceh periode 2024-2029 itu seperti dikutip CNN Indonesia (11/6).

Namun menurut Mendagri Tito Karnavian, sengketa empat pulau itu sudah terjadi sejak 1928. “Keputusan administrasi Kemendagri itu, sudah didasarkan pada kajian yang melibatkan sejumlah instansi,” ujarnya mengenai Kepmendagri No. 300.2.2-2138/2025 tentang Pemberian dan Pemutakhiran Kode, Data Wilayah Administrasi Pemerintahan dan Pulau yang ditetapkan pada 25 April 2025 dan kini menjadi pemantik utama kontroversi.

Jika sengketa sudah berlangsung sejak 1928 seperti penjelasan Mendagri, menjadi menarik karena peta Jawatan Topografi (Jantop) TNI AD pada 1978 yang menjadi acuan batas daerah menegaskan bahwa garis batas antara Aceh dengan Sumatra Utara berada di atas keempat pulau yang menunjukkan pulau-pulau itu masuk ke dalam wilayah Aceh.

Sementara dari aktivitas pembangunan fisik, Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil yang aktif membangun fasilitas di keempat pulau dengan dana APBD mereka, sedangkan Pemerintah Provinsi Sumatra Utara dan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah tidak melakukan pembangunan apapun, sehingga tidak terjadi overlapping anggaran pembangunan.

2/
Dengan keterbatasan pengetahuan dan wawasan tentang administrasi wilayah, saya tak ingin masuk lebih jauh dalam kontroversi yang sedang menguar di pentas nasional ini. Namun sependek pemahaman saya tentang karakter masyarakat Aceh dan Sumatra Utara, mereka adalah warga yang memiliki kemampuan musyarawah tinggi untuk mencari solusi dari masalah yang sedang dihadapi. Tak terkecuali masyarakat Kabupaten Aceh Singkil dan Kabupaten Tapanuli Tengah yang mengapit langsung keempat pulau yang sedang disengketakan.

Transparansi juga menjadi faktor penentu berikutnya. Sinyalemen Muslim Ayub sebagai anggota DPR RI rasanya tak mungkin sembarangan dan asal ucap. Pastilah ada sumber api jika tercipta asap.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf dan Gubernur Sumatra Utara Bobby Nasution sebagai eksekutif tertinggi kedua provinsi juga harus menempatkan kepentingan rakyat keempat pulau dan historisitas sejarah mereka–yang bukan baru tercipta 10-20 tahun terakhir—sebagai pertimbangan utama.

Rakyat harus dilibatkan dalam proses penentuan wilayah karena mereka makhluk hidup yang sudah punya leluhur turun temurun di keempat pulau. Pendapat mereka harus serius didengar, bukan hanya hasil kerja kompas, GPS, Theodolite, Total Station, EDM ( Electronic Distance Measurement) dan beragam alat ukur topografi lainnya yang beroperasi di bawah kendali manusia.

Dan tentunya Mendagri Tito Karnavian sebagai “Ayah Geografis” bagi Aceh dan Sumatra Utara juga harus bersikap hati-hati dan supercermat dalam masalah ini. Ibarat mengangkat benang dari tepung, bagaimana caranya benang bisa diambil namun tepung tidak koyak berantakan. Sebab, sejarah bukan hanya bagian masa lalu yang statis dan mendekam di pojok museum ingatan kolektif bangsa.

“Siapa yang tak bisa mengingat masa lalu,” Filsuf George Santayana mengingatkan, “akan dikutuk untuk mengulanginya lagi.”

Jakarta, 12 Juni 2025

*Penerima Anugerah Sastra Andalas 2022 kategori Sastrawan/Budayawan Nasional. Tanggapan atas tulisan ini agar dikirim ke e-mail: akmal.n.basral@gmail.com.

Share234SendTweet146Share
Akmal Nasery Basral

Akmal Nasery Basral

Akmal Nasery Basral adalah mantan redaktur film _Tempo_ (2004 – 2010) dan _Gatra_ (1994 – 1998), penulis 26 buku, termasuk novel _Nagabonar Jadi 2_ (2007) dan _Sang Pencerah_ (2010) Penerima Anugerah Sastra Andalas 2022 kategori Sastrawan/Budayawan Nasional, penerima Anugerah Penulis Nasional SATUPENA 2021 kategori fiksi

Next Post
EMPAT PULAU SIAPA PUNYA: ACEH ATAU SUMATERA UTARA? - 1000639805_11zon | Aceh | Potret Online

Jokowi Nabi?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com