• Latest
Amanah yang Berat - 2025 06 12 08 56 50 | #Cerpen | Potret Online

Amanah yang Berat

Juni 12, 2025
file_00000000e608720b92fed92bd3c55b54

Bahaya Rekayasa Narasi Sesat yang Menimbulkan Permusuhan

April 19, 2026
file_000000007ff0720bbf683bd905ac60ed

Surat Untuk Anak Muda (2)

April 19, 2026
54306927-8436-4237-801f-5fda46d9c8c8

Dari Aceh ke Panggung Dunia: Muslim Amin, Ilmuwan Global Alumni USK

April 19, 2026
3a73ee9a-87d0-4bf2-aa52-0c77db8a9144

Pengaruh Self-Efficacy Terhadap Prestasi Akademik: Tinjauan Psikologi dan Bukti Empiris

April 19, 2026
IMG_0839

Demokrasi Di Ujung Tanduk?

April 19, 2026
d6285489-5291-4630-bb73-f4e571585b61

‎Ghost in the Cell: Bukan Sekadar Horor Fiksi, Melainkan Realitas Pahit Ketidakadilan Sistem

April 19, 2026
fd4ef5b5-307b-48e6-adff-f924e420a87b

Mengkritik Dan Mengajak Merenung Melalui Puisi Esai

April 19, 2026
ad86b955-a8e6-412e-b371-a15c846736db

Sedih Sekali, Ibu Guru Diacungi Jari Tengah oleh Siswanya Sendiri

April 19, 2026
Minggu, April 19, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Amanah yang Berat

Redaksi by Redaksi
Juni 12, 2025
in #Cerpen
Reading Time: 3 mins read
0
Amanah yang Berat - 2025 06 12 08 56 50 | #Cerpen | Potret Online
585
SHARES
3.2k
VIEWS

Oleh Wiji Lestari
Kepala SMK Musa Cepu

Di sebuah negeri kecil bernama Lantira, hidup seorang pemimpin muda bernama Ardan. Ia baru saja dilantik menjadi kepala desa setelah pemimpin sebelumnya, Pak Wira, mengundurkan diri secara tiba-tiba karena sakit.

Ardan bukan berasal dari keluarga berpengaruh, bukan pula keturunan bangsawan. Ia hanyalah anak seorang petani yang sejak kecil terbiasa hidup sederhana. Namun, kejujuran dan semangatnya dalam membantu warga membuatnya dipercaya untuk memimpin. Banyak yang berharap, Ardan bisa membawa perubahan di tengah kondisi desa yang sulit.

Namun, belum genap satu minggu menjabat, Ardan menemukan kenyataan pahit. Desa Lantira menanggung utang besar akibat kebijakan pemimpin sebelumnya yang sembrono, proyek infrastruktur tanpa perencanaan matang, pemborosan anggaran, dan utang yang disembunyikan dari warga. Total utangnya mencapai ratusan juta rupiah, sementara kas desa hampir kosong.

Ardan terduduk lama di ruang kerjanya. Ia tahu, ini bukan kesalahannya. Tapi sebagai pemimpin saat ini, tanggung jawab ada di pundaknya. Ia harus mencari solusi, bukan menyalahkan masa lalu.


Ardan teringat ucapan gurunya saat di sekolah menengah, “Seorang pemimpin tidak hanya menerima kemuliaan dari jabatan, tetapi juga mewarisi beban yang belum terselesaikan. Amanah itu tak bisa ditawar.”

Malam itu, Ardan tak tidur. Ia menyusun rencana: memangkas pengeluaran tidak penting, membuka transparansi anggaran kepada publik, dan mengadakan pertemuan warga setiap pekan. Ia ingin semua warga tahu kondisi sebenarnya—tanpa ditutup-tutupi.

Beberapa warga awalnya marah dan kecewa. “Mengapa Ardan yang harus menanggung ini semua?” keluh seorang ibu.

Namun Ardan tetap sabar menjelaskan. “Kalau kita saling menyalahkan, utang ini tidak akan lunas. Tapi kalau kita gotong royong, pelan-pelan kita bisa bangkit.”


Di tengah krisis, Ardan tetap berusaha menjadi pemimpin yang adil dan mengayomi. Ia mendengarkan keluhan pedagang pasar yang tercekik oleh pajak tinggi, membantu petani mendapatkan pupuk secara kolektif, dan memfasilitasi pelatihan kerja bagi pemuda desa.

Ardan tidak ingin rakyatnya merasa ditinggalkan. Ia hadir di tengah mereka, tak hanya dalam rapat resmi, tapi juga saat panen, saat banjir, dan bahkan ketika ada warga yang kehilangan anggota keluarganya.

Sikap itu membuat kepercayaan warga mulai tumbuh. Beberapa orang kaya di desa bahkan mulai menyumbangkan dana untuk membayar sebagian utang desa. Anak-anak muda mulai bergabung menjadi relawan pembangunan. Sedikit demi sedikit, desa Lantira berubah.


Setahun berlalu. Laporan keuangan desa menunjukkan penurunan utang yang signifikan. Masyarakat pun mulai merasakan manfaat dari kepemimpinan baru: jalan diperbaiki, bantuan sosial tepat sasaran, dan tidak ada lagi proyek siluman.

Dalam peringatan Hari Desa, seorang anak bertanya pada Ardan, “Pak Ardan, apa yang paling sulit jadi pemimpin?”

Ardan tersenyum. “Yang paling sulit adalah bersabar saat semua orang marah, dan tetap tenang saat semua orang panik. Tapi yang paling penting, kita harus tetap jujur, meskipun kejujuran itu pahit di awal.”

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Amanah yang Berat - d3cd7ac8 ffb2 46ee 9f95 844fd9e2ec14 scaled | #Cerpen | Potret Online

EMPAT PULAU SIAPA PUNYA: ACEH ATAU SUMATERA UTARA?

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com