POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Kejamnya Politik, Sampai Cucu Mantan Presiden pun Ditembak

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
June 11, 2025
Kejamnya Politik, Sampai Cucu Mantan Presiden pun Ditembak
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Politik itu kejam. Ada benarnya. Untungnya bukan di sini, melainkan di Kolombia. Cucu mantan presiden yang sedang kampanye Capres ditembak di bagian kepala. Yang nembak remaja 15 tahun. Ada baiknya kita ungkap kisah ini untuk dijadikan pelajaran buat para politisi di sini.

Kolombia, tanah tropis yang harum oleh aroma kopi dan mesiu. Negeri yang tanahnya subur untuk bunga, ganja, dan konflik politik. Pada tanggal 7 Juni 2025, sejarah tidak sekadar ditulis, ia ditembak. Tiga kali. Tepat ke kepala dan lutut seorang calon presiden, Miguel Uribe Turbay, politisi muda yang tampan, waras, dan tentu saja, terlalu hidup untuk dibiarkan oleh realitas politik Amerika Latin yang tidak kenal belas kasihan.

Uribe sedang berkampanye di Bogota, penuh semangat dan janji-janji manis yang seandainya dikonversi ke mata uang bisa membangun dua pulau dan satu wahana roller coaster demokrasi. Tapi takdir berkata lain. Seorang remaja, ya, remaja, lima belas tahun! mendekatinya dengan wajah masa depan dan tangan membawa masa lalu. Glock. Tiga tembakan dilepaskan. Dua masuk ke kepala Uribe, simbol bahwa di Kolombia, berpikir politik adalah tindakan berbahaya. Satu peluru mengenai lututnya, seakan demokrasi tidak hanya ingin membungkam otak, tapi juga menekuk langkah.

Kini Uribe terbaring di ICU Santa Fe Foundation, tempat para dokter bukan cuma menyelamatkan nyawa, tapi juga mencoba menahan trauma nasional. Ia telah menjalani bedah saraf dan vaskular, dua jenis operasi yang dalam istilah medis berarti “berusaha membuat harapan tetap hidup meskipun otak sudah ditembak dua kali.” Para dokter menyebut jam-jam berikutnya adalah krusial, yang dalam bahasa rakyat berarti, “Berdoa saja semampunya, karena kami pun tidak yakin.”

Sementara itu, ribuan warga Kolombia berkumpul di depan rumah sakit. Mereka menyalakan lilin, menyanyikan lagu kebangsaan, dan menangis di Instagram Live dengan caption “#PrayForUribe.” Ini bukan hanya duka cita, ini adalah drama kolektif rakyat yang terlalu sering berharap dan terlalu sering kecewa. Di tengah tangis dan lampu kamera, Partai Centro Democratico mengutuk keras serangan ini, menyebutnya sebagai “serangan terhadap demokrasi.” Lucu, karena demokrasi di Kolombia sudah lama dibunuh secara berkala sejak 1948, tapi tidak pernah ada yang ditangkap selain kambing hitam.

📚 Artikel Terkait

Falsafah Perang adalah Penentu Kemenangan

**Monolog Mata Ie: Surat Cinta yang Tak Pernah Usai**

Kisruh Nurani

Spirit Nyi Eroh dan Terowongan Geureutee

Pelaku sudah diamankan. Seorang anak usia sekolah yang entah belajar dari Call of Duty atau sejarah politik negaranya sendiri. Polisi menyita senjata Glock, sebuah nama yang terdengar seperti startup fintech, tapi ternyata lebih efektif dalam menghentikan mimpi. Pemerintah menawarkan hadiah Rp12 miliar bagi siapa saja yang bisa memberikan informasi soal dalang di balik serangan ini. Dua belas miliar rupiah, cukup untuk membeli satu kursi DPR, dua vila di Cartagena, atau satu momen kebenaran dalam politik, jika itu memang dijual.

Siapa Miguel Uribe Turbay? Ia bukan hanya cucu dari mantan Presiden Julio Cesar Turbay Ayala, ia adalah simbol dari generasi politisi baru yang cukup pintar untuk menentang Presiden Gustavo Petro, cukup tampan untuk memes TikTok, dan cukup nekat untuk percaya bahwa pemilu bisa dimenangkan tanpa peluru.

Pemilu dijadwalkan Mei 2026. Masih setahun lagi. Tapi darah sudah mengalir, dan suara rakyat sudah tercecer di trotoar. Ini bukan sekadar politik, ini adalah opera sabun. Dunia menonton. Dunia menganga. Tapi Kolombia tahu, ini hanya Selasa sore biasa.

Di negeri di mana demokrasi adalah pertunjukan, dan peluru adalah kritik, Miguel Uribe kini menjadi plot twist paling tragis tahun ini. Sebuah tragedi nasional. Atau komedi gelap. Tergantung siapa yang menang nanti.

Sebrutal-brutalnya politik di negeri kita, paling hanya “mengguyuk” atau mengguncang pintu pagar Senayan. Separah-parahnya politik di sini, paling demo di depan gedung dewan. Semoga politik kejam yang terjadi di Kolombia bisa dijadikan pelajaran.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 78x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 75x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 70x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 58x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
150
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya
What is Scholasticide?

Nasionalisme Jawa-Sentris

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00