• Latest

Satu Keluarga, Satu Sarjana

Juni 4, 2025
9fdb3c1c-1879-4f8c-9aa8-02113678bceb

Warisan Musik Aceh dari Gampong Padang Manggeng

April 21, 2026
Ilustrasi siluet pasangan dengan hati retak melambangkan cemburu, konflik emosional, dan hubungan yang rapuh

Cemburu Membunuh Perempuan

April 21, 2026
Satu Keluarga, Satu Sarjana - 1001348646_11zon | Cacatan | Potret Online

Kisah Perempuan – Lubna dari Córdoba

April 21, 2026
Satu Keluarga, Satu Sarjana - 1001353319_11zon | Cacatan | Potret Online

Fatimah al-Fihri, Pendiri Universitas Tertua

April 21, 2026
3753a9dd-0c43-46a6-9577-711a7479d4d5

Misogini Genital (Di) Kartini Digital

April 21, 2026
IMG_0878

Perempuan di Titik Klimaks

April 21, 2026
Satu Keluarga, Satu Sarjana - 1001361361_11zon | Cacatan | Potret Online

Kisah Perempuan POTRET – Zaynab bint al-Kamal

April 21, 2026
d2a5b58f-c424-41eb-91dc-d0a057017eda

Menguak Kenangan Orkes Mekar Melati Manggeng dan Para Musisi Muda

April 21, 2026
Selasa, April 21, 2026
POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • POTRET Budaya
  • Pendidikan
  • Puisi
  • Esai
  • Opini
  • Sastra
  • Cerpen
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result

Satu Keluarga, Satu Sarjana

Redaksi by Redaksi
Juni 4, 2025
in Cacatan, sarjana
Reading Time: 3 mins read
0
585
SHARES
3.2k
VIEWS


Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya

Senin, 2 Juni 2025, langit Jaya Sabha seakan merekam detik-detik sebuah babak baru. 26 rektor dan pemimpin perguruan tinggi yang ada di Bali dikumpulkan oleh Gubernur Bali, Bapak Wayan Koster.

Bukan untuk rapat biasa, bukan pula hanya seremoni. Tapi untuk meletakkan batu pertama dari sebuah mimpi besar yang sangat sederhana dan sangat agung: Satu Keluarga, Satu Sarjana.

Baca Juga
  • Satu Keluarga (miskin) Satu Sarjana
  • MENGAPA HARUS PERUBAHAN?

Sungguh, ini bukan program biasa. Ini adalah percikan wahyu dari langit yang diterjemahkan dalam bahasa kebijakan. Paradoks: di dunia yang penuh ketimpangan, lahirlah tekad agar tak ada satu pun keluarga di Bali yang terjebak dalam gelapnya ketidaktahuan. Satu keluarga, satu sarjana. Bukan sekadar slogan, tapi jalan sunyi menuju kemuliaan.

Bayangkan, tak ada lagi rumah di pinggir pantai yang hanya dihuni nelayan tanpa akses pendidikan.

Baca Juga
  • Orasi Pendidikan Hari Kartini Institut KAPAL Perempuan 2021
  • Berkunjung ke BUNKASAI USK : Festival Seni dan Budaya Jepang di AAC Dayan Dawood Banda Aceh

Tak ada lagi rumah di tengah hutan yang anak-anaknya hanya bermain tanah dan ilalang.

Bahkan di puncak gunung, akan lahir seorang sujana — ia yang melangkah dengan akal, berbicara dengan nurani, dan berpikir dengan logika.

Baca Juga
  • Cum Laude, Standar Global, dan Kesadaran Pendidikan Abad ke-21
  • FORUM AYO SELAMATKAN INDONESIA

Sarjana bukan hanya gelar — ia adalah janji. Bahwa kebodohan bisa diringkus, kemiskinan bisa diretas, penderitaan bukan kutukan, melainkan kesementaraan yang bisa diakhiri oleh ilmu.

Gubernur Koster tampaknya tahu benar makna ini. Di awal periode keduanya, ia menanam benih yang hasilnya mungkin tak ia petik sendiri, tapi akan dituai oleh Bali masa depan — Bali yang terang benderang.

Bila hari ini seorang sarjana lahir di satu keluarga, maka esok sarjana kedua akan muncul, lalu ketiga, dan seterusnya.

Ini seperti mata air di hulu yang tak pernah kering — mengalir, menghidupkan. Bali akan bersinar. Tidak hanya oleh lampu, tapi oleh pikiran.

Dan sungguh, ini adalah bukti, bahwa tak sembarang orang bisa menjadi Gubernur Bali. Bali adalah gumi tenget, tanah sakral. Ia memilih pemimpinnya lewat kehendak yang lebih tinggi dari kotak suara.

Pak Koster — anak gunung dari Sembiran, bukan bangsawan, bukan pemodal — tapi ia datang dengan titah tak kasatmata: memberi terang, bukan hanya untuk dirinya, tapi untuk seluruh rumah di Bali.

Pertanyaan muncul — akan ke mana para sarjana kelak setelah lulus? Apakah ada tempat untuk mereka?

Inilah lagi-lagi dunia paradoks. Sarjana sejati tak menunggu tempat; ia menciptakan ruang.

Dunia adalah tempat kerjanya: dari geladak kapal pesiar hingga sawah Kalimantan, dari kantor digital hingga ladang Afrika.

Formasi mereka bukanlah angka dalam lembar birokrasi, tapi ruang-ruang baru yang mereka buka dengan ilmu dan kecakapan.

Ilmu pengetahuan memang bermata ganda — bisa membebaskan, bisa menindas. Tapi di tangan Bali yang ajeg, ilmu itu menjadi penuntun — menuju sat kerthi, keseimbangan semesta.

Program ini bukan hanya untuk Bali. Tapi untuk dunia. Untuk umat manusia, untuk semesta.

Maka jika ada jempol untuk diberikan, bukan hanya pada Pak Koster, sang visioner, tetapi pada visi besar yang ia lahirkan — yang kelak akan membuat setiap rumah di Bali memiliki lentera, dan setiap keluarga memiliki harapan.

Denpasar, 4 Juni 2025

Share234SendTweet146Share
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Next Post
Satu Keluarga, Satu Sarjana - 2025 06 04 11 41 42 | Cacatan | Potret Online

Panggung Itu Tak Pernah Menyebut Nama Kegagalan

POTRET Online

© 2026 potretonline.com

  • Home
  • Tentang Kami
  • Kirim Naskah
  • Disclaimer
  • Kebijakan Privasi
  • ToS
  • Penulis
  • Al-Qur’an
  • Redaksi

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Pendidikan
  • Opini
  • Essay
  • Politik
  • PODCAST
  • Penulis
  • Kirim Naskah

© 2026 potretonline.com