POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Koperasi Desa Merah Putih

Dayan AbdurrahmanOleh Dayan Abdurrahman
June 2, 2025
Kuliah Tanpa Beban: Kritik Terhadap Klaim Kuliah yang Terlalu Mudah
🔊

Dengarkan Artikel

Antara Harapan Ekonomi Rakyat dan Bayang-Bayang Kegagalan Lama

Oleh: Dayan Abdurrahman

Pemerintahan baru di bawah Presiden Prabowo Subianto membawa visi besar untuk membangkitkan ekonomi desa melalui pembentukan Koperasi Desa Merah Putih. Ini adalah program yang digagas dalam skala nasional, berangkat dari keyakinan bahwa koperasi bisa menjadi tulang punggung ekonomi rakyat.

Rencananya, koperasi ini akan hadir di seluruh desa di Indonesia dan mendapatkan permodalan melalui pinjaman kredit yang disalurkan oleh negara. Namun, gagasan ini, betapapun ambisiusnya, patut ditakar kembali secara kritis dengan belajar dari sejarah panjang koperasi di Indonesia — yang tidak selalu berjalan manis.

Jika menilik dari sejarah koperasi di Tanah Air, sejak era Orde Baru kita telah menyaksikan kemunculan Koperasi Unit Desa (KUD) yang didorong penuh oleh negara. Pada masanya, KUD memainkan peran penting dalam distribusi barang kebutuhan pokok, pupuk, hingga hasil pertanian. Namun setelah Orde Baru berakhir, banyak KUD mati secara perlahan. Penyebab utamanya adalah karena pendekatan pembangunan koperasi bersifat top-down, minim partisipasi aktif dari anggota, tidak dibangun atas dasar kebutuhan riil masyarakat, dan dikelola tanpa akuntabilitas bisnis jangka panjang. Ironisnya, semangat top-down itu kembali terlihat dalam rencana Koperasi Desa Merah Putih yang kini diusung.

Program ini, meskipun mulia di atas kertas, menyimpan banyak tantangan mendasar. Pertama, koperasi dibentuk secara serempak di seluruh desa tanpa proses pendampingan yang terstruktur dan mendalam. Pengurus koperasi dipilih terburu-buru, mayoritas tanpa latar belakang kewirausahaan, manajemen bisnis, apalagi pengalaman mengelola entitas usaha kolektif. Dalam dunia manajerial, pengelolaan organisasi ekonomi tanpa kompetensi hanya akan berujung pada stagnasi atau bahkan kegagalan. Koperasi, dalam hal ini, bukan sekadar lembaga administratif, tetapi adalah entitas bisnis yang harus tunduk pada hukum pasar dan prinsip keberlanjutan usaha.

Kedua, modal koperasi berasal dari pinjaman negara yang kelak harus dikembalikan. Ini berbeda dengan model subsidi atau hibah. Artinya, koperasi yang masih “startup” ini harus segera produktif dan mencetak arus kas positif di tengah ketatnya persaingan pasar. Padahal, mereka akan langsung berhadapan dengan pengusaha-pengusaha lokal yang telah mapan dan bahkan saat ini sedang mengalami kesulitan akibat lesunya daya beli masyarakat dan ketidakpastian ekonomi global. Memaksakan koperasi pemula untuk segera bersaing dalam kondisi pasar yang keras seperti ini, ibarat melempar anak ayam ke kolam penuh buaya.

📚 Artikel Terkait

Belajar dari Pemilihan Ketua Kongress Amerika

🚩SELAMAT PAGI MERAH PUTIH

Mengenal Agen Mossad Israel

Berwakaf Dengan Nominal Kecil. Berwakaf Tidak Harus Menunggu Kaya

Ketiga, koperasi desa yang diharapkan menjadi pilar ekonomi rakyat ini justru tidak lahir dari dorongan kemandirian masyarakat itu sendiri. Banyak di antaranya didirikan karena mengikuti perintah atasan atau memenuhi target administratif. Ini menimbulkan persoalan legitimasi sosial: apakah benar warga desa merasa memiliki koperasi tersebut? Tanpa rasa kepemilikan, koperasi hanya akan menjadi simbol formalitas yang tidak memiliki energi kolektif untuk tumbuh.

Permasalahan berikutnya adalah kultur kewirausahaan di pedesaan yang belum sepenuhnya matang. Banyak calon anggota koperasi belum memiliki orientasi bisnis yang kuat. Mereka melihat koperasi sebagai tempat mendapatkan bantuan, bukan sebagai wadah untuk bertumbuh secara ekonomi dan berkontribusi aktif. Hal ini menjadi penghambat serius, sebab koperasi tidak mungkin dijalankan oleh mentalitas konsumtif. Ia menuntut semangat gotong royong, kedisiplinan, tanggung jawab, dan keberanian mengambil risiko — nilai-nilai yang harus dibangun secara bertahap melalui pendidikan ekonomi rakyat yang konsisten.

Namun, kita juga tidak boleh semata-mata pesimis. Program Koperasi Desa Merah Putih bisa menjadi titik balik jika pemerintah mau membenahi pendekatannya. Beberapa koperasi sukses di Indonesia bisa dijadikan acuan. Sebut saja Kospin Jasa di Pekalongan, Koperasi Sidogiri di Pasuruan, dan Koperasi Setia Kawan di Mojokerto. Ketiganya sukses karena tiga hal utama: dibangun atas kebutuhan nyata komunitas, dikelola oleh sumber daya manusia yang kompeten dan berintegritas, serta memiliki fokus bisnis yang jelas dan realistis.

Agar Koperasi Desa Merah Putih tidak terjebak dalam sejarah kegagalan masa lalu, maka pendekatan manajerial yang lebih adaptif dan berbasis komunitas harus dikedepankan. Pemerintah perlu menyusun fase implementasi yang tidak seragam dan terburu-buru. Mulailah dari pilot project di desa-desa yang sudah memiliki embrio kewirausahaan dan jaringan ekonomi yang siap dibina. Fokus awal koperasi sebaiknya tidak langsung diarahkan pada aktivitas jual beli barang dagangan yang padat modal dan kompetitif tinggi, melainkan pada sektor-sektor dasar yang dibutuhkan masyarakat lokal, seperti simpan pinjam mikro, distribusi bahan pokok, jasa pertanian, atau layanan logistik sederhana.

Pendampingan adalah kunci lain yang tidak bisa ditawar. Koperasi butuh mentor, bukan hanya pengawas. Dibutuhkan SDM pendamping yang bukan sekadar birokrat, tetapi pelaku usaha berpengalaman yang memahami seluk-beluk pasar. Proses penguatan kapasitas pengurus dan anggota koperasi harus dilakukan secara reguler dan disesuaikan dengan konteks sosial budaya setempat.

Selain itu, perlu juga diterapkan sistem digital yang memungkinkan pelaporan keuangan koperasi dilakukan secara transparan dan akuntabel. Pemerintah bisa mewajibkan koperasi untuk menggunakan platform teknologi seperti SIPCo atau aplikasi koperasi digital yang terintegrasi dengan pengawasan nasional. Di era digital, efisiensi dan transparansi adalah fondasi keberlangsungan lembaga ekonomi kolektif.

Bagaimana skenario ke depan? Bila tetap menggunakan pendekatan lama — top-down, serba buru-buru, minim pelatihan, dan hanya mengandalkan semangat nasionalisme tanpa disertai keterampilan manajerial — maka koperasi-koperasi desa ini kemungkinan besar akan menjadi beban baru. Kita akan kembali menyaksikan koperasi yang pasif, tidak produktif, tersangkut utang, dan akhirnya hilang dari sistem. Tidak hanya dana publik yang terbuang, tetapi juga kepercayaan masyarakat terhadap koperasi sebagai ideologi ekonomi kerakyatan akan kembali tercoreng.

Namun, jika pemerintah mampu membalik pendekatannya, dan menjadikan koperasi bukan sebagai instrumen proyek, melainkan sebagai wahana pembangunan kapasitas ekonomi warga desa, maka ini bisa menjadi transformasi yang nyata. Koperasi bisa berperan sebagai penghubung antara produksi lokal dengan pasar nasional, sebagai simpul distribusi bahan pokok dengan harga wajar, sebagai pemberi modal mikro bagi pelaku usaha kecil, dan sebagai wadah kolektif yang melatih tanggung jawab sosial dan ekonomi anggota-anggotanya.

Pada akhirnya, Koperasi Desa Merah Putih akan menjadi simbol apakah bangsa ini benar-benar percaya pada kekuatan ekonomi rakyat — atau hanya menjadikannya retorika pembangunan. Jalan panjang koperasi di Indonesia selalu dipenuhi ambisi besar dan realitas pahit. Kini, kita berada di persimpangan. Apakah kita akan mengulang kesalahan yang sama, atau mulai menulis babak baru ekonomi kerakyatan dengan perencanaan yang matang dan keberpihakan yang sejati.

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Dayan Abdurrahman

Dayan Abdurrahman

Bio narasi Saya adalah lulusan pendidikan Bahasa Inggris dengan pengalaman sebagai pendidik, penulis akademik, dan pengembang konten literasi. Saya menyelesaikan studi magister di salah satu universitas ternama di Australia, dan aktif menulis di bidang filsafat pendidikan Islam, pengembangan SDM, serta studi sosial. Saya juga terlibat dalam riset dan penulisan terkait Skill Development Framework dari Australia. Berpengalaman sebagai dosen dan pelatih pendidik, saya memiliki keahlian dalam penulisan ilmiah, editing, serta pendampingan riset. Saat ini, saya terus mengembangkan karya dan membangun jejaring profesional lintas bidang, generasi, serta komunitas akademik global.

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Kegalauan Bapak - Bincang Sore POTRET

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00