POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Cepu Sebagai Lokus Pendidikan dan Kebudayaan

Luhur SusiloOleh Luhur Susilo
June 2, 2025
Cepu Sebagai Lokus Pendidikan dan Kebudayaan
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Luhur Susilo
Guru SMPN 1 Sambong dan Anggota Satupena Kabupaten Blora

Cepu bukan hanya persimpangan ekonomi di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Ia juga menyimpan sejarah panjang sebagai tanah pendidikan dan spiritualitas. Wilayah ini dahulu menjadi bagian dari Jipang, sebuah tanah perdikan yang memegang peran penting dalam perjalanan budaya Nusantara.

Menurut Dr. Kusharyadi dari Yayasan Kraton Jipang, kawasan ini telah lama menjadi pusat pengajaran, mulai dari ajaran agama hingga tata kelola kenegaraan. Dari Padangan hingga Kradenan, para empu dan alim membimbing para bangsawan untuk menjadi pemimpin yang bijaksana dan beradab.

Jipang diapit dua sungai besar: Bengawan Solo dan Sungai Lusi. Keduanya bukan hanya bentang alam, tapi simbol kehidupan dan ilmu pengetahuan. Dalam tradisi setempat, belajar disimbolkan dengan meminum air dari tjupu, cangkir tanah liat yang digunakan saat khataman kitab—lambang kesucian dan dahaga akan ilmu.

Namun, era kolonial membawa arus perubahan besar. Cepu menjelma menjadi kota minyak, dan perlahan identitas spiritual serta pendidikannya tergeser. Simbol-simbol lokal seperti tjupu mulai pudar, tergantikan oleh wajah modernisasi yang abai pada akar budaya.

Meski begitu, jejak masa lalu itu belum sepenuhnya lenyap. Cepu hari ini masih menyimpan peluang besar untuk menghidupkan kembali perannya sebagai pusat ilmu. Warisan nilai dan budaya yang tertanam sejak masa Jipang bisa menjadi fondasi kuat untuk membangun masa depan pendidikan di kota ini.

Prasasti Maribong menjadi bukti fisik dari kejayaan masa lalu Cepu. Ia bukan sekadar batu bertulis, tapi pesan yang melintasi zaman—mengajak kita untuk tidak melupakan akar. Menggali nilai sejarah ini bukan romantisme belaka, melainkan strategi kebudayaan yang membumikan pendidikan pada konteks lokal.

📚 Artikel Terkait

HABA Si PATok

Aksi Siaga Bencana SDIT Muhammadiyah Manggeng

Hanasu Cafe Ikut Meriahkan Maulid Nabi yang Diselenggarakan Pemko

ORDE REFORMASI YANG TERGADAI (6):* PENDIDIKAN MELAHIRKAN JONGOS DAN BABU*

Kehadiran kampus Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) di Cepu menjadi titik balik penting. Ini bukan hanya pembangunan fisik, tetapi peluang untuk mengintegrasikan pendidikan tinggi dengan nilai-nilai budaya lokal. Sebuah upaya merekonstruksi identitas kota melalui pendekatan yang berbasis sejarah dan spiritualitas.

Cepu bisa menjadi model pendidikan yang berpijak pada kearifan lokal namun terbuka pada inovasi global. Ini bisa dimulai dengan kurikulum berbasis sejarah wilayah, riset kebudayaan, serta pelibatan masyarakat dalam merawat identitas bersama. Pendidikan yang hidup bukan hanya di ruang kelas, tapi juga di desa, situs sejarah, dan tradisi masyarakat.

Dalam konteks ini, pendidikan menjadi alat untuk membangkitkan kembali kesadaran kolektif tentang siapa kita dan ke mana akan melangkah. Cepu sebagai lokus pendidikan dan kebudayaan adalah cita-cita yang sejalan dengan arah pembangunan yang berkelanjutan dan berkeadilan.

Monumentasi pembangunan di Cepu perlu dibarengi dengan penguatan identitas. Pembangunan fisik tak boleh mengaburkan warisan nilai. Justru ia harus menjadi wadah yang menghidupkan kembali akar pengetahuan, spiritualitas, dan budaya yang telah lama tertanam di bumi Jipang.

Kini saatnya mengembalikan cahaya pengetahuan yang sempat meredup. Dari tjupu ke kampus, dari Prasasti Maribong ke ruang-ruang kelas modern, Cepu menyusun kembali kisahnya sebagai kota pendidikan yang tidak tercerabut dari akar sejarah dan kebijaksanaan lokal.


Catatan Kaki:

[^1]: Kusharyadi, KRT. Jipang: Dari Tanah Perdikan ke Titik Strategis Budaya, Yayasan Kraton Jipang, 2021.
[^2]: Tradisi minum air dari tjupu dalam pendidikan tradisional Jawa dikaji dalam penelitian Mulyadi (2015), Simbolisme dalam Tradisi Akademik Islam Jawa.
[^3]: Rekaman sejarah kolonial Cepu sebagai kota minyak dapat ditelusuri dalam laporan Kolonial Belanda 1893-1920 (arsip KITLV).
[^4]: Studi kebijakan kawasan dan potensi budaya Cepu, Bappeda Blora (2022)

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 60x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 56x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 51x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Luhur Susilo

Luhur Susilo

Luhur Susilo Luhur Susilo adalah seorang penulis kelahiran Blora tahun 1970. Ia merupakan alumnus IKIP N Yogyakarta dan Universitas Negeri Yogyakarta yang mulai menulis sejak kuliah profesi. Antologi puisi Sajak dari Belantara (2020), Blandhong (2021), dan beberapa karya mulai terbit di media online. Luhur mulai aktif di komunitas penulisan, termasuk Satupena. Ia juga menulis di bidang sastra, sosiohistoris, dan humaniora.

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya
Racun Kehidupan: Kenali 9 Sifat Toxic People yang Sering Tak Disadari

Racun Kehidupan: Kenali 9 Sifat Toxic People yang Sering Tak Disadari

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00