POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Pancasila dan Korupsi di Lembaga Pendidikan

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
June 1, 2025
Pancasila dan Korupsi di Lembaga Pendidikan
🔊

Dengarkan Artikel

Olwh Rosadi Jamani

Pancasila, saya yakin kalian pasti hafal. Wajar hafal, karena dari SD kita sudah dipaksa hafal kata demi kata teks Pancasila. Kadang ditakuti, tak hafal Pancasila, tak naik kelas. Pancasila juga sangat sakti, sehingga belum ada ideologi mampu menggusur dari puncaknya. Untuk kali ini, kita bahas Pancasila sambil seruput kopi di Asiang Jalan Ayani Pontianak.

Hari ini, 1 Juni, adalah hari lahir Pancasila. Sebuah momen sakral ketika seluruh negeri bersatu padu, setidaknya di atas kertas, untuk memperingati kelahiran ideologi luhur, penuh nilai, dan sangat cocok dijadikan kutipan di slide PowerPoint atau spanduk acara dinas. Di sekolah, dari SD sampai kampus, Pancasila diajarkan dengan tekun, hafalannya dijadikan ujian, dan bahkan kadang jadi lomba cerdas cermat. Anak-anak bangsa dibentuk menjadi insan Pancasilais sejati, yang konon katanya tidak mungkin korupsi. Sayangnya, kenyataan ternyata bukan modul PPKn.

Di luar sana, korupsi sudah jadi semacam cabang olahraga nasional. Dari menteri, gubernur, bupati, pejabat eseolon, pejabat BUMN, kepala dinas, sampai kepala desa dan pengusaha, pernah dijebloskan ke penjara. Yang belum pernah, presiden dan wakil presiden saja. Lebih parah lagi, di lembaga pendidikan pun tak mau kalah soal merampok uang rakyat.

Lihat saja kasus pengadaan laptop Chromebook senilai hampir Rp10 triliun. Program digitalisasi pendidikan yang awalnya ingin memajukan teknologi anak bangsa, malah maju ke arah Kejaksaan Agung. Katanya, laptopnya cocok kalau internetnya stabil. Masalahnya, yang stabil di negeri ini cuma harga gorengan, bukan koneksi internet. Dari usulan Windows berubah jadi Chromebook, disertai dugaan pemufakatan jahat yang aroma bumbunya lebih kental dari rendang padang. Bahkan, Mas Menteri zaman itu, Nadiem Makarim, disebut-sebut bakal dipanggil. Duh, dari ruang rapat ke ruang penyidikan, tinggal ganti background Zoom saja.

Belum selesai tepuk tangan untuk keanehan itu, muncul lagi kasus STIA Bagasasi Bandung. Dana Program Indonesia Pintar, yang mestinya langsung jatuh ke tangan mahasiswa, malah nyasar dulu ke rekening ayah-anak pejabat kampus. MYA dan MFA, duo koruptor keluarga yang begitu harmonis dalam membangun masa depan, diri mereka sendiri. Mahasiswa bukannya terbantu, malah tetap bayar uang bangunan, seminar, dan segala rupa pungutan. Total kerugian negara mencapai Rp20,7 miliar. Tapi tentu saja, itu semua atas nama operasional kampus. Kalau dikritik? Pasti jawabannya, “Untuk kelangsungan mutu pendidikan.” Entah mutu yang mana, mungkin mutu sinetron.

📚 Artikel Terkait

PENANGANAN PEREMPUAN KORBAN KEKERASAN DI ACEH BELUM OPTIMAL

Siswa SDIT Muhammadiyah Manggeng Kabupaten Aceh Barat Daya Menebar Kebaikan

Lindungi Anak Demi Masa Depan Bangsa

Akhirnya Bersama, Hanya Kerjasama yang Selamatkan Kami

Pendidikan seharusnya menjadi ruang suci tempat karakter dibentuk dan nilai ditanamkan. Tapi di Indonesia, kadang justru jadi laboratorium eksperimen korupsi, gratifikasi, dan nepotisme. Praktik menyontek masih terjadi di 78 persen sekolah dan 98 persen kampus. Bahkan plagiarisme oleh dosen atau guru masih merajalela. Kadang rasanya tesis bukan hasil riset, tapi hasil comot sana-sini yang dirapikan oleh jasa pengetikan kilat. Sungguh luar biasa: manusia Pancasilais dibentuk dari rangkaian copy-paste dan pungli berkedok administrasi.

Pancasila, dalam dunia filsafat pendidikan, mestinya menjadi fondasi moral. Tapi kini, ia tak lebih dari latar belakang dekoratif saat wisuda dan apel pagi. Lima silanya dikunyah-kunyah tiap minggu oleh siswa, tapi dimuntahkan secara kolektif oleh para elit pendidikan ketika melihat angka anggaran. Ketuhanan digantikan ketamakan, kemanusiaan disubstitusi dengan manipulasi, persatuan dibayar lewat nepotisme, kerakyatan disabotase birokrasi, dan keadilan sosial hanya berlaku di status Facebook.

Selamat ulang tahun, Pancasila. Semoga engkau tidak lelah menjadi wallpaper nasional di tengah bangsa yang masih berdebat soal siapa yang lebih dulu korup, guru atau murid.

Teringat pada ungkapan, negeri ini tidak kekurangan orang pintar, bertitel panjang. Namun, negeri ini selalu kekurangan orang jujur. Untuk guru dan dosen, teruslah mengajarkan Pancasila walau harus menahan malu di tengah korupsi merajalela. Jangan berhenti juga mengajarkan kejujuran juga. Paling tidak dimulai dari diri sendiri.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 155x dibaca (7 hari)
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 137x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 125x dibaca (7 hari)
Belajar di Saat Dunia Berguncang
Belajar di Saat Dunia Berguncang
9 Jan 2026 • 97x dibaca (7 hari)
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
Pengaruh Internet dan Gadgets Bagi Masyarakat Kita
12 Mar 2018 • 91x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Gerakan Menulis

Ulang Tahun POTRET dalam Sepi dan Senyap: 23 Tahun Menyalakan Api Literasi dari Pinggiran

Oleh Tabrani YunisJanuary 18, 2026
#Sumatera Utara

Kala Belantara Bicara

Oleh Tabrani YunisDecember 23, 2025
Puisi Bencana

Kampung- Kampung Menelan Maut

Oleh Tabrani YunisNovember 28, 2025
Artikel

Menulis Dengan Jujur

Oleh Tabrani YunisSeptember 9, 2025
#Gerakan Menulis

Tak Sempat Menulis

Oleh Tabrani YunisJuly 12, 2025

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    167 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    159 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    146 shares
    Share 58 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
164
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
90
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis November 2025

Oleh Redaksi
November 10, 2025
95
Postingan Selanjutnya

Merayakan Hari Lahir Pancasila di Era Artificial Intelligence

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00