Dengarkan Artikel
Oleh: Dayan Abdurrahman,
Dibantu oleh AI Chatgpt alat bantu pembelajaran mengenal ilmu pengetahuan dan agama
“Apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dengan benar dan tujuan tertentu?”
(QS. Al-Ahqaf: 3)
Pendahuluan: Pencarian Hakikat Awal Segala Sesuatu
Sejak awal peradaban, manusia bertanya: “Dari manakah semuanya bermula?”. Pertanyaan ini bukan sekadar rasa ingin tahu ilmiah, melainkan juga keresahan eksistensial. Baik para ilmuwan maupun para nabi pernah berdiri di hadapan misteri ini: apa yang menjadi asal mula alam semesta, dan siapa yang menciptakannya, jika ada?
Sebagai penulis yang menggabungkan pendekatan ilmiah dan keimanan, saya, Abdurrahman, mencoba menelusuri jawaban dari pertanyaan besar ini melalui kacamata sains modern, filsafat, dan wahyu ilahi.
- Alam Semesta dan Teori Big Bang: Sudut Pandang Ilmiah
Ilmu kosmologi modern menyatakan bahwa alam semesta berawal dari suatu kondisi ekstrem yang disebut “Big Bang”, sekitar 13,8 miliar tahun lalu. Segala hal—materi, energi, ruang, bahkan waktu—berasal dari satu titik singularitas yang sangat kecil, sangat padat, dan sangat panas.
Para fisikawan seperti Stephen Hawking dan Alan Guth menyatakan bahwa sebelum titik ini, waktu belum eksis, dan hukum fisika tidak berlaku. Artinya, kita tidak dapat menggunakan alat ukur ilmiah untuk menjelaskan apa yang terjadi “sebelum” Big Bang. Di sinilah batas sains.
Lebih menarik lagi, unsur-unsur pembentuk bumi—besi, oksigen, karbon—berasal dari inti bintang-bintang yang meledak (supernova). Maka benar adanya ungkapan ilmiah: “We are made of stardust.” Dalam hal ini, Al-Qur’an menyatakan:
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah.” (QS. Al-Mu’minun: 12)
Tanah itu, dalam sains modern, adalah unsur-unsur kimia yang tercipta dalam proses bintang yang rumit dan agung.
- Keterbatasan Ilmu: Siapa yang Menciptakan Singularity?
Ilmu pengetahuan, seberapa canggih pun, belum mampu menjawab:
“Dari mana asal titik singularitas itu?”
“Apa atau siapa yang menyebabkannya ada?”
Inilah yang oleh para fisikawan disebut sebagai “perbatasan epistemologis”. Mereka bisa mengamati konsekuensi Big Bang, tetapi tidak bisa menjelaskan sebab pertamanya.
📚 Artikel Terkait
Di titik inilah agama berbicara. Bukan sebagai pengganti ilmu, tapi sebagai penyempurna makna.
- Perspektif Wahyu: Allah sebagai Pencipta Awal
Dalam Islam, Allah adalah Al-Awwal (Yang Maha Awal), tanpa permulaan, dan tidak terikat ruang dan waktu. Dia adalah al-Khaliq, pencipta langit dan bumi dari ketiadaan (creatio ex nihilo). Dalam Al-Qur’an ditegaskan:
“Dialah yang menciptakan langit dan bumi tanpa contoh sebelumnya.” (QS. Al-An’am: 101)
Berbeda dengan manusia yang mencipta dari bahan baku, Allah mencipta tanpa membutuhkan materi awal. Bahkan konsep waktu adalah ciptaan-Nya. Maka, pertanyaan seperti “Apa yang ada sebelum Allah menciptakan?” menjadi tidak relevan, karena “sebelum” adalah ukuran waktu, dan waktu belum ada saat itu.
- Konvergensi Ilmu dan Iman: Saat Akal Menemui Kalbu
Ilmu membawa manusia pada kekaguman; iman membawa manusia pada ketundukan. Keduanya tidak bertentangan, tapi saling melengkapi. Bahkan banyak ilmuwan besar seperti Isaac Newton, Albert Einstein, dan Carl Sagan yang menyadari bahwa semakin dalam mereka memahami semesta, semakin mereka merasa kecil di hadapan keagungan yang menciptakannya.
Al-Qur’an tidak melarang manusia berpikir ilmiah. Justru berkali-kali memerintahkan:
“Katakanlah: Perhatikanlah apa yang ada di langit dan bumi.” (QS. Yunus: 101)
Dalam konteks ini, pengetahuan tentang alam bukan hanya sekadar eksplorasi fisika, tapi juga jalan untuk mengenal Tuhan. Keindahan hukum-hukum alam, keteraturan orbit, struktur atom, hingga evolusi bintang menunjukkan kebijakan dan keagungan Sang Pencipta.
- AI dan Refleksi Abad Modern
Kini kita memasuki era Artificial Intelligence (AI). Komputer dan algoritma mampu menghitung kemungkinan model alam semesta dengan presisi tinggi. Namun secerdas-cerdasnya AI, ia tetap terbatas pada data dan logika yang dirancang oleh manusia.
Hal ini mengajarkan kita satu hal penting: bahwa intelek paling canggih pun tetap tunduk pada keterbatasan.
Sebaliknya, AI bisa kita manfaatkan sebagai alat untuk memperkuat perenungan spiritual. Ketika kita melihat peta kosmik, simulasi Big Bang, atau pola-pola dalam DNA, kita bisa menyadari bahwa semua itu bukan hasil kebetulan. Ada Desainer Agung di balik setiap algoritma alami.
Penutup: Kembali kepada Tuhan Sang Maha Awal
Pada akhirnya, baik sains maupun agama mengarahkan kita kepada pengakuan bahwa alam semesta ini tidak terjadi sendiri. Ia bukan hasil kebetulan, melainkan hasil kehendak dan perancangan Zat yang Mahakuasa.
Sebagai seorang manusia, saya—Abdurrahman—melihat bahwa akal dan wahyu tidak bertentangan, tetapi berjalan berdampingan. Ilmu menjelaskan bagaimana segala sesuatu terjadi, sementara iman menjawab mengapa itu terjadi.
Dan ketika ilmu berhenti, di situlah iman mulai bicara.
Karena tidak semua kebenaran bisa diukur oleh rumus. Sebagian harus dirasakan oleh hati yang bersih dan tunduk.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal.”
(QS. Ali Imran: 190)
🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini






