POTRET Online
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

Gratis kata MK (apakah) Titik atau Koma?

RedaksiOleh Redaksi
May 28, 2025
Gratis kata MK (apakah) Titik atau Koma?
🔊

Dengarkan Artikel


Catatan Paradoks; Wayan Suyadnya

Mahkamah Konstitusi telah bicara. Satu kalimat panjang—tegas, final, dan mengikat: pendidikan dasar gratis, baik di sekolah negeri maupun swasta.

Bunyinya jelas, seperti lonceng pagi yang membangunkan harapan lama: bahwa semua anak bangsa, tanpa kecuali, berhak belajar tanpa dibebani ongkos. Pendidikan Dasar adalah wajib belajar 9 tahun. SD dan SMP.

Di balik kalimat yang gagah itu, negeri ini tetap berjalan dengan huruf-huruf kecil: pungutan sukarela, iuran bulanan, sumbangan yang dipaksa, seragam wajib, tapi tidak atas nama sekolah, tapi komite, kadang juga koperasi sekolah, atau atas nama yang dilogikakan dengan dalih partisipasi.

Maka publik bertanya—dalam diam dan lelah: apakah putusan MK ini titik, atau koma?

Di kota-kota yang katanya beradab. Uang komite masih dikutip. Bupati/walikota, atau pejabat turunannya seperti Dinas Pendidikan tampak pura-pura tidak tahu. Padahal jelas ada pengawas. Jika tak tahu, fungsi pengawasan dipertanyakan. Tidak efektif. Pengawasan tak kerja, tak tahu ada pungutan uang komite?

Bupati/walikota yang konon berjuang membela rakyat, kepala sekolah yang konon pahlawan tanpa tanda jasa, membiarkan ada uang komite. Atau jangan-jangan sumber idenya justru dari sang kepala sekolah?

Jika ada yang bertanya, mereka tak menjawab, karena pura-pura tidak tahu, mereka nyaman bermain di ruang abu-abu. Kalau terpaksa menjawab, kepala sekolah akan bilang; itu urusan komite. Sungguh abu-abu. Ruang di mana logika hukum dan kenyataan saling mencibir.

Jika terus dibiarkan, apa bedanya pungutan oleh negara dan pemerasan oleh sistem? Ini dunia pendidikan. Dunia di mana generasi bangsa digembleng dan tumbuh dari sini.

📚 Artikel Terkait

Antologi Puisi Leni Marlina

Belajar Teori Hegemoni dari Sebotol Kecap Manis

Remaja dan Pembangunan Berkelanjutan, Compatible or Not ?

KITA CUMA PUNYA POOR DAD!

Oleh karenanya agar jadi baik, agar generasi ke depan punya harapan, jangan biarkan ada benalu hidup pada dunia pendidikan. Bukankah benalu adalah racun bagi generasi?

Jangan ada pungli sekecil apa pun pada dunia pendidikan. Jangan biarkan ada tradisi yang tidak sehat. Jika pendidikan dasar itu hak, orang tua/wali jangan ditagih? Apalagi diminta melalui peserta didik, sangat tidak mendidik.

Soal seragam juga idem. Jika negara wajib membiayai, mengapa seragam masih harus dibeli dari toko yang direkomendasikan sekolah, dengan model yang hanya dijahit oleh tukang jahit yang “kebetulan” satu arus dengan yang berkepentingan? Apa bedanya kebijakan dengan konspirasi, jika hasil akhirnya tetap merugikan rakyat?

Mahkamah telah mengetuk palu. Palu itu harus bergema. Tidak boleh tidak terdengar. Mengikat untuk semua anak bangsa.

Jangan lagi ada tafsir karena belakangan banyak yang lebih suka tafsir daripada aturan. Undang-undang dibaca sesuka selera, bisa dibelokkan untuk kepentingan dagang.

Untuk pendidikan, harus mendidik, memberikan edukasi. Semua harus melaksanakannya. Tafsir gratis jangan digoreng dengan mengatakan hanya untuk yang miskin, tergantung kemampuan sekolah. Jangan lagi beralasan bantuan baru bisa turun kalau memenuhi kriteria.

Amar putusan jelas, negara diwajibkan menjamin. Bukan menimbang. Bukan menawar. Jadi tak ada alasan goreng-menggoreng. Gratis bukan murah. Gratis bukan diskon. Gratis berarti negara hadir.

Dengan begitu anak-anak jangan lagi ada yang membawa beban. Jangan lagi ada anak-anak yang membawa nota pembayaran ini itu dari sekolah.

Bagaimana dengan uang komite yang sudah dibayar? Apakah dikembalikan? Apakah diakui sebagai salah atau kesalahan? Kita tunggu saja. Yang jelas putusan MK harus titik, tidak lagi koma.

Putusan MK jangan lagi dibiarkan menggantung di langit, harus membuni, jatuh ke tanah menjadi realitas. Sebab, pendidikan bukan soal sekolah. Ia harga diri bangsa, tempat masa depan bangsa dipertaruhkan.

Denpasar, 28 Mei 2025

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
Bahasa Indonesia yang Bergema di Australia
23 Feb 2026 • 76x dibaca (7 hari)
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026
17 Feb 2026 • 71x dibaca (7 hari)
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng
18 Jun 2025 • 68x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 65x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 56x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share3SendShareScanShare
Redaksi

Redaksi

Majalah Perempuan Aceh

Please login to join discussion
NETWORK POTRET
ANAK CERDAS
Artikel terbaru
Buka Majalah Anak Cerdas →
#Pendidikan

Membangun Kemampuan Meneliti Para Siswa SMA

Oleh Tabrani YunisMarch 8, 2026
POTRET Utama

Generasi Indonesia Emas  Kehilangan Bonus

Oleh Tabrani YunisMarch 5, 2026
Catatan Perjalanan

Melihat Timor Leste Menikmati Kemerdekaannya

Oleh Tabrani YunisFebruary 23, 2026
Budaya Menulis

Memadukan Storytelling Lewat Melukis Kata dengan Foto Jurnalistik

Oleh Tabrani YunisFebruary 22, 2026
Pendidikan

Degradasi Nilai Kemampuan Afektif yang Mengerikan di Era Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 21, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    170 shares
    Share 68 Tweet 43
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    163 shares
    Share 65 Tweet 41
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
149
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
211
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
97
Postingan Selanjutnya

"Puisi Pagi Ini" Karya D. Zawawi Imron: Refleksi Sosial dan Kemanusiaan

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami
  • Al-Qur’an

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Al-Qur’an
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Kirim Tulisan
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Aceh

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00