POTRET Online
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan
No Result
View All Result
POTRET Online
No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

Indonesia Mendadak Kaya, Prabowo Tertawa

Rosadi JamaniOleh Rosadi Jamani
May 21, 2025
🔊

Dengarkan Artikel

Oleh Rosadi Jamani

Ini cerita bagus dan gembira buat kita, wak! Ngopi pun terasa nikmat walau pahit. Selama ini, nggaran selalu defisit, biasa dan bosan. Nah, tiba-tiba Menteri Keuangan mengumumkan, APBN surplus. Prabowo pasti suka dan tertawa. Efisiensi sukses. Sambil menunggu pengukuhan guru besar di Audit Untan, mari kita dalami info menggembirakan ini.

April 2025. Tercatat dalam sejarah sebagai momen langka ketika langit fiskal Indonesia cerah ceria, pelangi menggantung di atas gedung Kementerian Keuangan, dan unicorn-unicorn makroekonomi berlarian di angkasa. Iya, Indonesia mendadak kaya. Bukan karena menang undian IMF, tapi karena satu kata sakti, surplus. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang biasanya selalu defisit, seperti diet gagal tiap Januari, tiba-tiba menyisakan duit Rp4,3 triliun. Lebih gilanya lagi, posisi kas negara pun kelebihan duit sebesar Rp283,6 triliun. Negara kita seolah bilang ke dunia, “Lihat, aku bisa hemat juga, kok!”

Tapi jangan buru-buru bahagia, karena ini bukan sinetron religi yang diakhiri hujan rahmat. Mari kita kuliti dulu sumber surplus ini. Pendapatan negara tercatat Rp810,5 triliun. Sementara belanja negara hanya Rp806,2 triliun. Selisihnya? Ya tadi itu, Rp4,3 triliun. Tapi jangan dibayangkan ini seperti orang sukses dagang online. Karena sebenarnya penerimaan pajak turun 10,8% dibanding April tahun lalu. Dari Rp624,2 triliun, kini hanya Rp557,1 triliun. Negara ini kayak tetangga yang bilang “gaji gue naik” padahal sebenarnya cicilan turun.

Lalu dari mana datangnya kekayaan negara ini? Salah satu jawabannya, karena belanja dikurangin habis-habisan. Belanja Kementerian dan Lembaga misalnya, tumbang 16,6%. Ini berarti negara hemat sampai ke titik absurd. Mungkin rapat-rapat menteri kini diadakan di warung kopi sambil ngutang gorengan. Bahkan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga ikut terjun bebas, dari Rp203,6 triliun menjadi Rp153,3 triliun, urun 24,7%. Ini salah satunya karena dividen BUMN dialihkan ke BPI Danantara, sebuah entitas yang lebih misterius dari keberadaan jin pengelola utang negara. Kita tak tahu pasti, tapi katanya penting. Kalau negara bilang penting, maka rakyat hanya bisa manggut-manggut dalam ketidaktahuan yang anggun.

📚 Artikel Terkait

Keadilan, Sudah Lapuk Termakan Debu

Filosofi Duren Lutfi Azizah Dan Ojol Muhammadiyah

Tsunami Aceh

Menulis itu, Sebuah Ritual Kecil yang Sakti

Tapi ada juga yang naik, biar tidak semua bernada sedih. Penerimaan dari kepabeanan dan cukai naik 4,4% YoY, mencapai Rp100 triliun. Mungkin karena rakyat makin rajin beli barang impor legal ketimbang nyelundupin dari marketplace gelap. Atau karena rokok makin mahal, tapi tetap laris karena stres hidup belum bisa diimpor ke luar negeri.

Namun yang paling filosofis dari semua ini adalah, kenapa rakyat tetap merasa miskin padahal negara surplus? Inilah pertanyaan esensial yang tak bisa dijawab dengan angka. Sama seperti pertanyaan, “Kenapa kita mencintai orang yang tidak membalas?” Karena ada jurang eksistensial antara data makro dan nasi goreng di meja. Surplus tidak otomatis berarti makmur, seperti gaji besar tak selalu berarti bahagia, apalagi kalau cicilan rumah, motor, dan pinjol jalan bareng tiap tanggal 25.

Pemerintah bilang ini pertanda APBN sedang jadi shock absorber ekonomi. Tapi buat rakyat kecil, shock-nya tetap di Indomaret saat melihat harga tisu basah naik dua kali lipat. Pemerintah juga bilang ini bagian dari transisi menuju kedaulatan pangan, energi, dan ekonomi. Tapi apakah itu berarti kita akan berhenti ngimpor gandum? Atau akan tiba saatnya semua orang bisa beli rumah tanpa jual ginjal?

Di sinilah letak keagungan satire ekonomi kita. Negara berhasil surplus, tapi rakyat tetap hidup dengan perasaan “berhasil bertahan hidup.” Ini bukan kegagalan, bukan pula kebodohan. Ini epik. Ini elegi. Ini Indonesia. Di mana angka-angka melonjak ke langit, tapi kita tetap hemat kuota dan sedekah senyum ke dompet kosong.

camanewak

Rosadi Jamani
Ketua Satupena Kalbar

🔥 5 Artikel Terbanyak Dibaca Minggu Ini

Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
Sajadah yang Tertinggal di Seberang Lautan
21 Jan 2026 • 85x dibaca (7 hari)
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
Perjamuan Kaum (Tidak) Kebagian
17 Feb 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
Lomba Menulis Ulang Tahun Potret
16 Jan 2026 • 72x dibaca (7 hari)
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
Bencana dan Perubahan Persepsi Masyarakat Pascabencana
12 Jan 2026 • 67x dibaca (7 hari)
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
Muridnya Kenyang, Air Mata Gurunya Berlinang
26 Jan 2026 • 64x dibaca (7 hari)
📝
Tanggung Jawab Konten
Seluruh isi dan opini dalam artikel ini merupakan tanggung jawab penulis. Redaksi bertugas menyunting tulisan tanpa mengubah subtansi dan maksud yang ingin disampaikan.
Share2SendShareScanShare
Rosadi Jamani

Rosadi Jamani

Please login to join discussion
#Kriminal

Dunia Penuh Tipu: Menyikapi Realitas Penipuan Digital

Oleh Tabrani YunisFebruary 16, 2026
Esai

Melukis Kata itu Seperti Apa?

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Literasi

Melukis Kata, Mengangkat Fakta

Oleh Tabrani YunisFebruary 15, 2026
Artikel

Mengungkap Fakta, Melukis Kata Lewat Story Telling

Oleh Tabrani YunisFebruary 14, 2026
Puisi

Gamang

Oleh Tabrani YunisFebruary 12, 2026

Populer

  • Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    Gemerlap Aceh, Menelusuri Emperom dan Menyibak Goheng

    168 shares
    Share 67 Tweet 42
  • Inilah Situs Menulis Artikel dibayar

    161 shares
    Share 64 Tweet 40
  • Peran Coaching Kepala Sekolah dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan

    147 shares
    Share 59 Tweet 37
  • Korupsi Sebagai Jalur Karier di Konoha?

    58 shares
    Share 23 Tweet 15
  • Lomba Menulis Agustus 2025

    52 shares
    Share 21 Tweet 13

HABA MANGAT

Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Februari 2026

Oleh Redaksi
February 17, 2026
57
Haba Mangat

Lomba Menulis Ulang Tahun Potret

Oleh Redaksi
January 16, 2026
199
Haba Mangat

Tema Lomba Menulis Edisi Desember 2025

Oleh Redaksi
December 5, 2025
93
Postingan Selanjutnya

Mengapa Bank Dunia Menempatkan Indonesia Sebagai Negara Dengan Jumlah Penduduk Miskin Terbanyak Keempat Di Dunia?

  • Kirim Tulisan
  • Program 1000 Sepeda dan Kursi roda
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Tentang Kami

© 2025 potretonline.com

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Artikel
  • Puisi
  • Sastra
  • Aceh
  • Literasi
  • Esai
  • Perempuan
  • Menulis
  • POTRET
  • Haba Mangat
  • Kirim Tulisan

© 2025 potretonline.com

-
00:00
00:00

Queue

Update Required Flash plugin
-
00:00
00:00